Play Book on Google

Pandemi virus corona yang akhir-akhir ini melanda negara kita Indonesia cukup membuat seluruh warga panik. Meski terkadang beberapa orang penting seperti salah satunya Presiden Indonesia Bapak Joko Widodo sudah mengatakan bahwa tidak perlu panik, namun naluri warga sebagai makhluk yang memiliki akal sehat tetap saja merasa khawatir. Virus bisa saja dengan cepat menyebar dan menular dari satu orang ke orang yang lain hanya dalam hitungan detik. 

Tidak sedikit dari beberapa masyarakat yang terdampak dan terpapar virus yang kemudian akhirnya meninggal dunia, meski ada sebagian pula yang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan beraktivitas seperti biasanya. 
Untuk itulah kemudian pemerintah Indonesia lantas menerapkan sistem 'di rumah saja'—yang artinya tidak ada aktivitas di luar rumah demi memutus rantai penyebaran virus tersebut.
 
Mungkin bagi sebagian orang penerapan sistem 'di rumah saja' ini bisa dilakukan karena memang tipe pekerjaan mereka bisa dilakukan di rumah tanpa harus ke kantor agar tidak terpapar virus. Lalu bagaimana dengan mereka yang bekerja dengan mengais rejeki secara harian? Yang jika tidak bekerja hari itu, maka hari itu juga ia tidak bisa makan, misal?—seperti halnya Grab  atau Gojek

Hal inilah yang terkadang membuat keadaan jadi pro dan kontra. Dikarenakan, tidak semua masyarakat yang akhirnya sejalan dengan pemerintah dan segala kebijakannya. 

Mungkin memang benar dengan asumsi masyarakat bahwa pemerintah menerapkan aturan ‘di rumah saja’ namun tidak dibarengi dengan jaminan bahwa masyarakat—setidaknya ada ucapan—tidak akan kelaparan. Karena, tipikal masyarakat kita seperti itu. Bukannya masyarakat tidak takut akan betapa berbahayanya virus tersebut, tapi mereka lebih takut lagi jika anak dan istri mereka sampai tidak bisa makan. Itulah yang saat ini menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi presiden dan pemerintah di tengah pandemi seperti ini. 

Namun, pemberlakuan sistemasi pembatasan semacam itu bukanlah suatu alasan bagi kita untuk hanya berdiam diri tanpa ada aktivitas yang berguna. Pasalnya, sudah banyak aplikasi-aplikasi mumpuni yang kemudian dirombak menjadi sebuah aplikasi yang bisa dilakukan melalui ponsel, tanpa perlu keluar rumah. Bahkan, sekarang, wisuda pendidikan saja bisa dilakukan via online bagi beberapa instansi pendidikan yang memiliki basic teknologi informasi. Contohnya saja, seperti buku online atau play books yang dirilis oleh Google. 

Sebenarnya buku online ini sudah ada sejak lama, namun sudah pasti tidak pernah digubris oleh masyarakat karena mereka berpikir bahwa membuka buku dan membaca melalui media online seperti itu pastilah berbayar. Padahal tidak. Setidaknya, tidak semua berbayar. Tapi memang ada yang membutuhkan akses secara penuh dan seseorang harus merogoh kocek untuk membaca keseluruhan isinya. 

Tapi, untuk akses yang gratis pun juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Katakan saja seperti buku-buku karya Tere Liye bisa diakses secara penuh tanpa harus membelinya. Juga, ada beberapa bacaan seperti komik dan bacaan ringan yang disediakan untuk anak-anak agar tidak merasa bosan ketika 'di rumah saja'. 

Semua lapisan masyarakat berharap bahwa wabah ini akan segera berakhir secepatnya, agar segalanya kembali normal. Namun, jika tidak pun, masih banyak pula hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengisi kejenuhan ketika berada di rumah. 

Komentar

Postingan Populer