Kamis, 20 Desember 2018

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 

Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 

Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 

Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 

Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi waktu yang telah kusia-siakan dengan kufur nikmat dan tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah selama aku hidup, hingga detik ini. 

Penyesalan selalu datang terlambat. Iya. 
(Kalau di awal, namanya perencanaan dong).

Aku mengakui bahwa aku memang telah salah jalan, hingga membuat hidupku berantakan seperti ini. Aku menyesal, Ya Allah. Tapi, aku tahu Allah masih memberikan aku kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Setiap kali selepas melakukan sholat lima waktu, aku menangis saat aku bersimpuh di hadapan-Nya. Betapa aku sangat bodoh yang tidak bisa menghargai hidup dan segala kenikmatan yang telah diberikan padaku. Aku dengan sombongnya melalaikan kewajibanku dan lupa pada apa yang telah aku raih. Sampai pada akhirnya detik ini ketika Allah menjewer telingaku, memperingatiku untuk menyudahi apa yang telah membuat hidupku berantakan akibat kesombonganku. 😔

Beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja aku menemukan sebuah website (sepertinya sih iklan) yang dipenuhi dengan testimoni para konsumen tentang sebuah benda. Mereka mengatakan bahwa benda ini bernama money amulet dan berkhasiat memberikan kejayaan pada pemiliknya, terutama dalam hal keuangan atau apapun yang berujung pada kemakmuran. Sekilas aku membaca, rasanya aku seolah seperti terpedaya dan ingin memilikinya (otomatis, karena memang keadaan keuanganku amburadul begini). Saat aku membacanya, harga penjualan money amulet ini sedang dalam program diskon setengah harga. Jadi, dari harga 1 jutaan, menjadi hanya seharga setengahnya atau sekira 500 ribuan. 

Kala itu, aku hanya memiliki uang terakhir di ATM sekitar 800 ribuan, dan aku ingin membelinya. Money amulet tidak dijual bebas (seperti di toko-toko online, dsb), sehingga cara membelinya pun harus pre-order terlebih dahulu. Artinya, jika ingin membeli harus mengisi nama lengkap, nomor telepon aktif, alamat domisili disertai kode pos, dan tanggal lahir. Aku sudah mengisinya, namun menuliskan namaku itu pun aku seperti seolah tidak sadar. Setelah formulir terisi sukses, aku mendapatkan notifikasi bahwa aku akan dihubungi oleh CS perihal konfirmasi. 

Setelah sekitar 3 hari kemudian, aku ditelepon oleh nomor tidak dikenal. Ternyata itu adalah telepon dari CS money amulet yang menanyakan perihal pembelian barang tersebut. Setelah sehari sebelumnya, aku menangis dalam sujudku kepada Allah, aku menjawab telepon itu dengan keraguan. Ketika pada awalnya aku mengisi formulir pembelian itu dengan yakin, entah kenapa saat menjawab telepon itu ada sebongkah keraguan yang merayapiku, sehingga aku pun menjawab pertanyaan CS itu, "Tidak, saya tidak jadi membelinya. Maaf."

Aku tersadar, bahwa dalam Islam sungguh-sungguh dilarang dan termasuk dosa besar ketika manusia percaya pada jimat atau benda-benda yang dipercaya membawa keberuntungan atau kemakmuran. Itu adalah tindakan musyrik atau syirik yang sangat dibenci Allah. Oh My... hampir saja aku terjerumus dalam lingkaran setan lagi.

Setelah aku membaca beberapa literatur dan apa yang ku mengerti tentang hukum Islam yang tertulis maupun tidak tertulis, aku pun segera membuang benda apapun yang tidak ada gunanya yang masih ku simpan sejak dulu hingga sekarang. Dan, aku benar-benar memohon ampunan karena telah sempat percaya dengan hal-hal syirik meski belum sempat memiliki benda tersebut. 

Aku tidak peduli dengan benda-benda pembawa keberuntungan atau apa lah namanya. Yang jelas, dan yang aku tahu, aku hanya menyembah pada satu Dzat yang kekal abadi, penjaga alam beserta isinya; Allah.
Share:

2 komentar:

  1. You are getting disaster dear,,
    I do understand that situation, that was like stupid and insane,, and you did dear,,
    in that situation we can get GOD in a second.. and lose GOD in a second also.
    it means, we are not going to GOD exactly,, we just unstable
    in that deepest situation, my advice : start to think to die, start prepare to die, start willing to die. so, in the end we will feel its okay if we lose the world and everythings, soon or after. just do what you can do, no matter what will come,, exactly we will die
    overall my comment about your writing - that is nice, but it'll better i thnik if you re not to try adding some jokes that makes the essense of the writing or the feel of writing will be nebulous

    BalasHapus
    Balasan
    1. Firstly, thank you for your comment. Anyway, yes, I really got stressing with my life but I always try to think that I sbould be think positively at all. Someday, people gets die and no one can predict it, so, before that day has come, all people should be preparing any good things they can doing in their life. :)

      Thank you, your comment is really inspiring.

      Hapus

Thank you for your comment.