Langsung ke konten utama

Luput dari Pemikiran

Sebelumnya aku tak pernah memikirkannya. Never. Tidak sama sekali. Lantas kenapa tiba-tiba saja segala sesuatunya lantas menyeruak? Ah, sudahlah. Aku tak mau lebih dalam memikirkannya, apalagi memperkarakannya. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dan, keanehan itu kemudian merebak jadi sesuatu dan kemudian menjawab semua segala pertanyaan yang bersarang di kepalaku.

Aku toh senang dan akan kusambut dengan suka cita semua apa yang ada saat ini. Allah, ini adalah anugerah Kuasa Yang MahaIndah--aku percaya itu. Namun, di sisi lain, aku sedih, karena keadaan yang memaksa ku harus seperti ini. Aku tak ingin lagi mempertanyakan tentang salah siapa. Tak ada yang perlu disalahkan. Ini adalah skenario Tuhan.

Pun, ini semua terjadi juga atas kehendak-Nya. Siapa pula yang ingin (yang rela) kehilangan orang yang mereka cintai? Tak satu pun, bukan? Tapi, apa yang bisa kau lakukan saat nasib telah membimbingmu ke jalan dimana ternyata kau harus kehilangan orang yang kau cintai? Apa kau akan berjalan mundur? It's impossible

Dulunya pun aku seperti itu. Hanya bisa menangis dan meratap saat apa yang sungguh ku cintai ternyata harus aku lepaskan atas paksaan yang tidak kuasa aku tentang; yang tidak bisa aku tawar lagi. Namun apa? Sekarang aku kembali dihadapkan pada suatu keadaan yang jauh di luar nalar pikirku--bahkan luput dari pemikiranku.

Tapi, tidak.
Aku takkan mengubah apapun apa yang telah menjadi bagian dari hidupku--meski belum seutuhnya. Sekeras apapun keinginanku untuk 'pulang'; sekencang apapun hati ini menggempur dan berteriak ingin 'kembali', ada satu hal yang jauh diatas keinginan-keinginan itu yang tidak bisa diusik. Satu hal itulah yang membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi, yang tak ingin aku sia-siakan demi apapun.

Aku memang tidak bisa memprediksi kehidupan. Aku hanya berusaha bersyukur dengan apa yang telah aku miliki saat ini. Ketika sebelumnya aku merasa tidak dihargai, selalu dikecewakan, merasa seolah 'dibuang' oleh kekasih yang sungguh sangat aku cintai dan aku dambakan, dan berbagai macam pengorbanan yang sudah aku berikan tanpa sedikit pun aku memedulikan hidupku sendiri--kini aku merasa seolah Tuhan mengujiku dengan memposisikan aku seperti itu. Roda memang selalu berputar, tapi manusia selalu memiliki akal dan hati nurani yang bisa dengan otomatis mengendalikan segala akhlak dan perbuatan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Semua tergantung dari masing-masing individu itu sendiri. Apakah ia memutuskan untuk mengikuti napsu iblis atau memilih untuk bertahan.

Komentar

  1. Semoga selalu sehat dan dimudahkan semua mua urusannya mbak.
    Jangan pernah berharap lebih pada bapak, ibu , anak dan lainnya mbak. Teko sayangilah semua orang yg kamu sayangi.. jangan pernah terlalu berharap apapun. Trust me mbak, everyone will let you down..someday.. and so do you mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haii..., amiinn amiinn, iya makasiiihh yaa. Aku emg nggak pernah berharap sama sesama manusia, cuma ke Tuhan aja aku bisa mengadu. Sesama manusia hanya sebagai teman disaat aku butuh bercerita; membagi beban.
      Anyway, makasii yaa advise-nya... :)

      Hapus
  2. Kadang kita tu gak ngerasa lho mbak saat berharap lebih.. kerasanya nanti saat tiba" kita merasa kecewa... hehe.. be aware mabak... manage your heart well..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kadang emang gitu, satu yang aku takutkan: kekecewaan. Dan aku udah kenyang sama itu. ☺

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …