Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …

Happy Blogging Day 2018!!

Tak terasa sudah 16 tahun aku berada di dunia perbloggingan ini. (Rasanya sejak aku masih jadi mahasiswa baru ya, hehee). Sejak aku masih belum mengenal dunia yang superaneh seperti sekarang ini. 
Aku masih ingat betul bagaimana dulu aku selalu sendiri dan hanya berteman dengan buku-buku di perpustakaan. Lalu, aku mulai berkutat dengan yang namanya networking (jaringan). Kalian tahu, betapa luas jika mempelajari sebuah jaringan. Oleh sebab itu pula, aku lantas mengambil jurusan dan program pendidikan dengan ruang lingkup yang sama dalam alur perkuliahanku. Jika harus kuingat betapa dulu aku kadang mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang aku miliki, rasanya aku sangat berdosa sekali. Aku tahu dan aku sekarang tersadar bahwa aku telah kufur nikmat (astaghfirullah!!). Karena itulah, mungkin aku harus merasakan semua karmanya sekarang. Tapi ya sudahlah, aku toh tak bisa memutar kembali waktu yang telah lalu. Menyesal pun tiada guna. Aku hanya berharap pada belas kasih Allah saja—yang m…

Luput dari Pemikiran

Sebelumnya aku tak pernah memikirkannya. Never. Tidak sama sekali. Lantas kenapa tiba-tiba saja segala sesuatunya lantas menyeruak? Ah, sudahlah. Aku tak mau lebih dalam memikirkannya, apalagi memperkarakannya. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dan, keanehan itu kemudian merebak jadi sesuatu dan kemudian menjawab semua segala pertanyaan yang bersarang di kepalaku.

Aku toh senang dan akan kusambut dengan suka cita semua apa yang ada saat ini. Allah, ini adalah anugerah Kuasa Yang MahaIndah--aku percaya itu. Namun, di sisi lain, aku sedih, karena keadaan yang memaksa ku harus seperti ini. Aku tak ingin lagi mempertanyakan tentang salah siapa. Tak ada yang perlu disalahkan. Ini adalah skenario Tuhan.

Pun, ini semua terjadi juga atas kehendak-Nya. Siapa pula yang ingin (yang rela) kehilangan orang yang mereka cintai? Tak satu pun, bukan? Tapi, apa yang bisa kau lakukan saat nasib telah membimbingmu ke jalan dimana ternyata kau harus kehilangan orang yang kau cintai? Apa kau aka…

Cahaya itu Bernama M-448

Pada dasarnya, setiap manusia itu hidup bermasyarakat dan bersosialisasi. Mungkin memang tidak semua. Ada kalanya, mereka tidak ingin siapapun mengusik kehidupan pribadinya. Namun, tak selamanya manusia bisa hidup menyendiri, tanpa teman, dan pendamping. Exactly! Bagaimana mungkin kau bisa hidup seorang diri jika Tuhan saja menciptakanmu sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya? Non sense, right? 
Begitu pun denganku. Awalnya, aku berpikir jika hidup menyendiri itu menyenangkan; tanpa ada siapapun yang akan menggangguku. Apapun yang aku lakukan, apapun yang aku inginkan, apapun yang aku pikirkan, atau apapun yang ingin kucapai dalam hidupku, mereka takkan pernah memedulikanku. Kesannya aku egois? No! Ini realita. Sekilas memang terlihat santai, menyenangkan, hidup tanpa beban, bebas, tidak terikat, dan masih banyak lagi istilah-istilah yang ada kaitannya dengan kebebasan diri atau independensi
Tapi, lihat saja, mereka yang jarang sekali bersosialisasi akan s…

What is Trust?

Jika berbicara tentang sebuah kepercayaan, tak ada satu manusia pun yang bisa kau percayai--pun, kau telah menganggapnya semisal 'sudah ku anggap seperti saudara sendiri'. Lantas, pada akhirnya apa yang kau dapat dari kepercayaan itu? Ujung-ujungnya seseorang itulah yang menusukmu dari belakang. Isn't it? Benar, kan, seperti itu? Manusia hanya bisa percaya pada satu-satunya yang membuat hidup; Tuhan; Allah SWT, no more. 
Dulunya, aku memang ada, dan bahkan sering ada di posisi seperti itu. Sejak aku duduk di bangku sekolah, aku kerap bermasalah dengan yang namanya pergaulan. Aku terlalu pendiam, dikenal sebagai anak kutu buku, tidak bisa bergaul, dan nyaris tidak memiliki teman. Temanku hanya buku-buku dan tempat favoritku adalah perpustakaan. Sekalinya aku bergaul, aku selalu dijadikan bahan olok-olok. Kalau bahasa kekiniannya sekarang korban 'bully' atau 'bullying'. Aku bukan tidak ingin berteman dengan manusia atau menjadi anak normal. Menurutku, membac…

Hidup Layaknya Roller-Coaster

Semacam pengharapan berlebih; pernah sekali waktu aku berharap (dan sedikit berandai) malaikat turun menghampiriku dan memberiku satu permintaan. Aku akan meminta padanya, aku diijinkan kembali ke masa lalu; ke sebuah masa dimana semua titik asal mula permasalahanku sekarang berawal. Memang terdengar mustahil, tapi jika diijinkan, aku ingin memperbaiki segalanya agar semua kembali seperti sediakala. Seperti sebagaimana hidupku seharusnya berjalan. 
Ini mungkin teguran dan sentilan keras yang diberikan Tuhan padaku, karena aku kurang bersyukur atas apa yang sudah aku dapatkan; atas apa yang sudah aku miliki. Tanpa sadar, aku seperti merasa bahwa gaji yang ku dapatkan setiap bulan selalu mengalami defisit.
Mungkin memang benar bahwa ada suatu hadits Nabi yang berkata,  Rejeki yang diturunkan Allah selalu pasti akan cukup untuk hidup, tapi tidak akan cukup untuk gaya hidup.
Itulah yang terjadi padaku, pada awalnya. Aku terlalu boros, dan tidak cermat dalam mengelola keuanganku sendiri. …

Tetaplah Bersamaku

Siapapun, tak ada manusia hidup yang tidak memiliki masalah. Berbagai macam permasalahan manusia beragam. Mulai dari yang sederhana hingga pelik. Tak ada satu pun yang bisa mengukur bagaimana permasalahan yang mereka hadapi itu tergolong sederhana atau pelik. 
Namun, apapun permasalahan itu, percaya saja bahwa Tuhan tidak akan memberikan permasalahan yang melebihi batas kemampuan makhluk yang diciptakannya untuk mengatasinya. Dan, percaya saja bahwa Tuhan memberikan permasalahan lengkap dengan kunci pemecahannya. 
Kau hanya harus berdoa, berserah diri, dan memohon kemudahan pada-Nya untuk memecahkan semua permasalahanmu. 
Aku sendiri pun tidak lepas dari permasalahan. Dalam benakku, permasalahan yang ku hadapi cukup pelik, hingga aku nyaris putus asa. Hingga terlintas di benakku aku ingin mengakhiri hidupku beberapa waktu lalu. Rasanya hidupku gelap dan aku nyaris tak bisa melihat ada kecerahan hingga beberapa radius ke depan. 
Ada seseorang yang memintaku istighfar Allah, maafkan ak…

Bayangan di Cermin itu Aku

Mungkin ada yang salah dengan hidup yang ku jalani selama ini. Ya, memang seharusnya aku berpikir begitu--dan juga semua orang. Kau takkan pernah bisa menjadi manusia sempurna, karena kesempurnaan bukanlah milik manusia. Selalu ada kata salah dalam perjalanan hidup manusia. Manusia adalah tempatnya kesalahan dunia, dan juga segala khilaf. 
Introspeksi diri adalah jawabannya.
Selama ini, aku mungkin tak pernah 'berkaca' dan berpikir bahwa aku adalah sumber kesalahan atas segala perbuatan yang aku lakukan. Tak peduli itu baik atau buruk, aku bahkan tak bisa menilai diriku sendiri. Manusia lain hanya bisa mencela setiap perbuatan dan tutur kata yang dilakukan manusia lainnya. Karena itu adalah cermin persaingan dalam hidup. 
Tapi, tidak ada salahnya jika aku dan kalian semua yang merasa pernah melakukan kesalahan bercermin pada apapun yang bisa memantulkan--karena dalam cermin itu akan kau lihat bahwa semua kesalahan ada disana!
Maka, bercerminlah selagi kau bisa.  Dan, perbaikil…

Selamat Tinggal Masa Lalu

Rasanya aku sudah tidak memedulikan soal status. Siapa aku dan siapa dirimu. Luka dan penderitaan yang kau torehkan di hati ini masih menganga dan mungkin luka ini takkan bisa sembuh, meski aku berusaha menyembuhkannya dengan susah payah. 
Oknal Danang,  kau begitu kejam dengan semua kata-kata cinta yang kau ucapkan padaku selama 3 tahun terakhir ini, namun sarat kebencian di dalamnya. 
Ironis!
Haruskah aku mengucapkan 'selamat tinggal' padamu disaat kau seharusnya secara tak langsung sudah menunjukkannya padaku sejak setahun terakhir sebelumnya? Haha, hanya saja aku terlalu bodoh dengan berpura-pura tidak memedulikannya. 
Kau mulai mengacuhkanku dan seolah menganggapku tidak ada; mulai menjauhiku seperti penyakit. Kau pikir aku hantu? 
Kau juga mulai menunjukkan bahwa kau adalah pria dengan banyak penggemar wanita yang selalu kau tunjukkan melalui pesan-pesan mesra di aplikasi whatsapp-mu. Kau pikir kau hebat dengan keadaanmu seperti itu? Bagiku, kau tak lebih dari seorang p…

Bertahan Apa Adanya

Tak pernah terbayangkan ketika kau dihadapkan pada sesuatu yang mengharuskanmu untuk menyerah pada keadaan yang menyakitkan. Tak pelak maka kau akan merasa seolah harus menyerah pada nasib. Dan, dari sana lah seseorang akan memilih bertahan atau melawan. Namun, seperti tak memiliki pilihan lain, banyak di antaranya yang memilih bertahan sebagai jawaban pamungkasnya.

Bertahan, menurutku bukan karena ingin menyerah pasrah, namun tak ada lagi yang bisa dilakukan ketika apa pun sesuatu yang tidak kita inginkan lantas menimpa kita tanpa pernah kita duga sebelumnya. Kau akan merasa sangat kecil di hadapan Tuhan.

Sebagai manusia, aku tak pernah sekali pun menganggap bahwa diriku lebih dari segala-galanya, bahkan aku merasa sebagai manusia yang kotor dan tak lepas dari kubangan dosa. Aku mungkin memang harus banyak berdoa dan meminta ampunan agar Tuhan memberikan ku jalan yang lapang dan mudah.

Berbagai macam cobaan datang bertubi-tubi menerpa hidupku. Dan, sempat aku merasa bahwa Tuhan tida…

26 Kilometer

Sejauh 26 kilometer...
Sejauh itu aku terus mengenangmu...
Sejauh 26 kilometer....
Sejauh itu hatiku seolah teriris sembilu...

Kau mungkin takkan pernah bisa memahami hatiku; karena kau tak pernah benar-benar mau memahaminya. Kau hanya menganggapku boneka. Boneka yang bisa kau permainkan disaat kau butuh. Dan, ketika kau tak membutuhkanku, kau membuangku, melemparku--ke segala arah--sesuka hatimu.
Kau tahu?--meski kau takkan pernah mau tahu--bahwa aku mencintaimu lebih dari yang kau sangkakan. Ironisnya, kau tak pernah menganggapku ada. Pun, ketika kau sedang dalam masalah, aku nyaris bisa memastikan bahwa aku mampu mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawaku, demi menyelamatkanmu; demi seorang kau agar senyum itu bisa kembali kulihat tersungging di sudut bibirmu.

Namun, apa yang bisa kau berikan hanyalah kekecewaan dan rasa sakit hati yang berkepanjangan. Hingga mampu mengubah semuanya menjadi dendam yang tak berujung.

Di tengah rasa sakit dan dendam itu, entah kenapa aku masih mampu me…

Please, Jangan Permainkan Cinta

Tak semua orang benar-benar memahami apa arti cinta yang sesungguhnya. Pun, bagaimana caranya harus memperlakukannya dengan baik. Terkadang, beberapa dari mereka menganggapnya hanya sesuatu tak kasat mata yang hanya bisa menyusahkan saja.
Tapi, tidak bagiku. Menurutku, cinta adalah anugerah yang mahaindah yang diberikan Tuhan pada tiap-tiap makhluk ciptaannya. Dan, anugerah itu sudah selayaknya dijaga dan tidak disalahgunakan. 
Mungkin, aku adalah korban dari penyalahgunaan cinta dan kebiadaban perasan manusia yang mengatasnamakan cinta. Kejam? Iya, memang.
Ketika seseorang yang kau cinta mulai menunjukkan rasa tidak simpati padamu, namun masih berpura-pura menahan keberadaanmu di sisinya, lebih baik tinggalkan. Karena jika tidak, lambat laun ia akan bersembunyi di balik tameng cinta yang kau miliki untuk berbalik menyakitimu. Dan, jika sudah demikian, rasa sakitmu akan terasa seribu kali lipat lebih sakit daripada rasa sakit karena pengkhianatan. 
Dan, jangan sampai rasa cinta yang …

Sepenggal Kalimat

Catatan Hati untuk Seorang Kau...
Mungkin Tuhan sedang mengujiku. Mungkin juga Tuhan sedang mencoba memberikanmu 'jalan lain' agar kau memahami bagaimana cara menghargai perasaan seorang wanita yang begitu tulus mencintai. Tak ada wanita mana pun yang sanggup kehilangan cinta sejatinya. Cinta yang dengan susah payah dirajutnya hingga darah mengucur dari ujung jarinya karena tertusuk sembilu. 
Kau hanya manusia munafik yang takkan pernah bisa memahami apa itu perasaan; apa itu cinta. Bahkan, kau pun tak pernah merasa memilikiku sebagai kekasihmu. Ironis!

Kau hanya manusia berhati iblis yang dengan keji tega menyia-nyiakan dan membuang seseorang sepertiku yang hanya bisa mencintaimu dengan tulus tanpa ada rasa pamrih dan tanpa alasan. Satu-satunya yang masih bisa membuatku bertahan adalah besarnya rasa cinta dan perjalanan yang tidak pernah mudah.

Namun, apapun yang telah kita ukir dan abadikan bersama tak lantas lekang dari pikiranku. Meski aku coba ingkari semua, ingatan itu b…

Kisah Malam Mengenangmu

Aku memang orang yang tak bisa dengan mudah melupakan apapun yang menjadi milikku dan lantas hilang begitu saja terenggut paksa dari tanganku. Siapa yang rela melepaskan apa yang menjadi kesayangannya diambil orang lain? Tak satu pun! 
Semua hal yang terhubung denganmu akan selalu membekas dalam ingatanku--tanpa ada yang terlewat. Jika kau tanpa sengaja membaca tulisan ini, kau mungkin akan teringat dengan ucapanmu kala itu saat kau mengantarku pulang. Atau, entahlah jika kau dengan sengaja menghapus semua kenangan yang telah kita ukir bersama lantas kau hancurkan dengan tanpa ampun.
Malam itu sekitar pukul delapan lewat limabelas menit dan kau mengantarku pulang dengan motor biru hingga mendekati perumahan tempat di mana aku tinggal. Semua sungguh terasa indah jika aku bersamamu dan rasanya tak ingin ku lepaskan pelukanku di pinggangmu. 
Kau lantas bertanya padaku di tengah-tengah perbincangan kita yang tidak terlalu penting. "Abis ini pulang sampe rumah terus ngapain Beb?"…