Langsung ke konten utama

The Unlucky Day

Hari ini mungkin seharusnya aku tak keluar rumah, atau pergi kemana pun. Aku sedang sial. Semua-semua yang ku lakukan rasanya selalu salah, entah dimana letak kesalahan itu. Ada saja yang membuat semuanya kacau balau. 

Mulai dari kecelakaan motor, kejadian yang sangat menyebalkan di kantor, hingga sesuatu yang buruk yang menyebabkan aku bertengkar dengan kekasihku. Tuhan, ada apa ini? 

Aku hanya menyesalkan kenapa aku harus se-ceroboh itu; yang seharusnya tak perlu terjadi jika aku mengikuti peraturan yang ada. Dan, seumur hidup, baru kali ini aku mengalami rentetan kejadian buruk dalam 24 jam non stop.

Entah apa yang ada di pikiranku ketika kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba saja mobil itu melaju tanpa aku sadari dan aku sama sekali tidak memiliki jeda waktu untuk meraih kampas rem dan menghentikan laju kendaraanku. Aku masih beruntung karena tak ada luka berarti yang menimpaku. Namun, ada sedikit lecet-lecet di permukaan cat motorku. Aakhh... itu masih baru!! Dasar sial!!

Kemudian, kejadian berikutnya juga tidak ku mengerti. Pasalnya, setiap karyawan kantor diberikan izin cuti untuk meninggalkan kantor selama beberapa jam saja atau seharian penuh. Dan, jelas saja, aku menggunakan hak cutiku karena ada keperluan yang sungguh mendesak. Lantas, kenapa teman sejawatku tak menyukainya? Aku toh telah menyelesaikan tugas-tugas dan pekerjaanku. Apa salahku? Demikian pula dengan mereka yang menuntut hak mereka dengan cara yang sama, malah mungkin lebih parah dariku, dan mereka toh biasa saja, begitu juga dengan lingkungan di sekitarnya. Terkadang pemikiran akal sehatku tak sampai ke sana untuk memahaminya. Hanya gara-gara cuti saja, aku didiamkan seperti patung begitu? God, dunia macam apa ini?

Yang kemudian, sesuatu yang seharusnya tak perlu terjadi antara aku dan kekasihku. Sebuah pertengkaran kecil yang terjadi untuk yang kesekian kalinya. Dia memang sudah memperingatkanku beberapa waktu lalu sebelum bulan puasa tiba. Tapi, mungkin aku tak mengindahkannya. Dan sekarang, jika dia marah (mungkin), itu wajar, dan itu salahku. Aku akan berusaha memperbaikinya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …