Langsung ke konten utama

Cinta yang Melelahkan

Sesungguhnya aku capek. Lelah. 

Lelah mempertahankan hubungan yang seperti ini, tanpa ada kejelasan. 
Tapi, aku tak berdaya, jika harus kehilangan dia. 

Aku... terpaksa harus meredam semua rasa sakit hatiku. Semua rasa sakit yang dilakukannya padaku. Apa pun itu harus aku telan mentah-mentah. Tak ada yang bisa ku lakukan, karena aku tahu akibat yang aku terima adalah kehilangan dia. Tapi, ini sakit sekali. 

Entah sampai kapan aku harus menahan perasaan yang seperti ini. Mungkin selama aku hidup dan mencintainya. Rasa cinta ini--aku tahu--aku tak bisa menghapusnya. Aku hanya bisa berharap, siapa pun yang membuat luka di kala aku terjatuh dan terluka, akan ada balasan setimpal. Aku hanya tidak ingin ketika nanti aku telah kehilangan semua rasa cinta ini, dia kembali dan meminta maaf--seperti yang pernah terjadi pada seseorang beberapa tahun yang lalu, yang telah menyakitiku dan kini menyesal.

Aku memang mudah memaafkan, tapi rasa sakitku tak mungkin bisa hilang dengan mudah. Kau boleh saja meminta maaf, tapi bagaimana jika aku terlanjur terluka cukup dalam? Bagaimana caramu menyembuhkan luka yang kau buat dengan begitu sempurna? Aku sendiri bahkan menyerah untuk menyembuhkannya. 

Sesungguhnya, aku lelah... 
Lelah berpura-pura bahwa aku tidak meringis kesakitan ketika hatiku perih oleh luka-luka yang kau torehkan sejengkal demi sejengkal telapak tanganmu.
Kala kau tahu bahwa kau laksana surga bagiku, yang menyejukkan hatiku...
Dan, tiada yang mampu menggantikan takhta-mu di hatiku.

Tapi, berapa kali kau membuatku kecewa?
Berapa kali kau menyakitiku?
Berapa kali kau membuatku menangis?
Dan, berapa kali kau membuat luka yang sama di hatiku?--tatkala, aku tengah berusaha menyembuhkannya? 

Sementara aku?
Berapa kali aku berusaha membuatmu tersenyum ketika kau bersedih?
Ketika kau sedang membutuhkan pundak untuk bersandar?--menampung semua keluh kesahmu? 

Tapi..., aku selalu di sini...untukmu...
Yang rela melakukan apa pun demi membuatmu bahagia, meski terus terluka...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …