Langsung ke konten utama

Laughing at the Moon for Love

Pemilihan judul blog yang sungguh aneh. Haha, sebenarnya bukan aneh, tapi memang aku sengaja menamainya seperti itu karena aku ingin menceritakan sesuatu yang mirip dengan cerita dalam sebuah novel (aku lupa judulnya).

Ketika sebuah jalinan tak lagi ada, namun keduanya masih bisa merasakan cinta yang mengalir dalam diri mereka masing-masing; pelan tapi pasti, gemerecik seperti aliran air sungai yang jernih. Jika kau bertanya apa yang membuat mereka berpisah, kau tak akan pernah bisa menjawabnya. Tak seorang pun di dunia ini yang menginginkan berpisah dari orang yang sangat dicintai. Terlebih jika mereka telah mengikat janji, mengikrarkan sebuah ucapan yang bahwa tak ada satu pun yang mampu memisahkan kecuali maut, maka berarti mereka telah siap berkorban demi apa pun. 

Namun, mungkin belum saatnya bagi mereka bersama. Tuhan memiliki rencana lain bagi mereka, yang nantinya mungkin akan lebih indah--jauh lebih indah--dari kehidupan mereka sebelumnya. Percayalah, Tuhan tak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan makhluk-makhluknya dalam menyelesaikan 'ujian' itu, bukan? Anggap saja, perpisahan itu adalah ujian. Jika kau lulus, maka nilai A+ yang kau dapat adalah kebahagiaan bagimu dan pasanganmu di babak kehidupan selanjutnya. 

Banyak yang berkata bahwa serpihan-serpihan cinta yang telah mereka pelihara bersama, menangis dan tertawa bersama, masih membasahi sanubari mereka meski mungkin tidak banyak. Sinarnya mungkin telah meredup, meski tidak mati seutuhnya. Tak ada satu pun diantara mereka yang rela menghapus perasaan itu. Terlalu indah untuk dilupakan. Terlalu manis untuk dibinasakan. Mereka hanya berharap sesuatu yang memisahkan mereka bisa segera runtuh dengan cepat agar mereka bisa kembali merajut asa yang hilang. Dan, ketika menunggu itu, biarlah cinta yang masih mengaliri darah segar mereka tetap seperti itu adanya tanpa perlu dibasuh. Hanya perlu dipelihara agar tetap menjadi bagian dari diri masing-masing, dan cinta itu akan abadi. Bukankah itu yang dinamakan rela berkorban? 

Karena..., 
Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun demi orang yang dicintainya. Apa pun...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …