Langsung ke konten utama

Colorful

Sebelumnya mungkin aku tak pernah menganggap bahwa hidupku sesungguhnya berwarna, dan juga banyak kejadian lucu di dalamnya. Mungkin juga aku tak terlalu memerhatikan hidupku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri--yang aku sendiri terkadang tidak tahu apa yang sedang ku lakukan. Pentingkah itu? Atau, seberapa penting hal itu sehingga aku sampai harus tidak memerhatikan hidupku yang sesungguhnya. 

Baiklah, aku menyalahkan diriku sendiri. Ketika sesuatu yang tak pernah kau duga sebelumnya datang menyapa hidupmu di saat kau sedang tidak siap, apa yang akan kau lakukan? Menghindar? Atau, justru terjun ke dalamnya? 

Ketika sesuatu itu adalah apa yang menjadi mimpimu yang tertunda, apa pula yang akan kau lakukan? (Masih) Tetap menghindar? Atau, (semakin) dalam untuk ingin terjun ke sana, demi menyelami apa yang terjadi seandainya kau melakukan itu?--seperti layaknya jika kau ingin bunuh diri. Seperti itukah?

Aku tak bisa mengatakan bahwa hidupku sebelumnya sungguh penuh warna. Hanya satu warna saja, mungkin. Tapi, entah mengapa kini semuanya seolah penuh warna dan aku menyukai warna-warna itu. Sungguh indah, seolah aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Sederetan mimpi masa lalu yang sempat ku pendam, ku kubur dalam sebuah kotak besi, dan ku tanamkan dalam benakku bahwa aku menyebutnya sebagai sebuah kegagalan, kini menyeruak kembali ke permukaan. 

Seharusnya aku menelan kunci gembok itu, namun ternyata ada yang terlewat olehku. Aku tak menelannya, melainkan hanya kuletakkan di suatu tempat yang lokasinya saja sudah tak ada lagi dalam daftar ingatanku. Dan, entah apa yang terjadi kini apakah merupakan bagian dari kesalahanku karena tak menelan kunci gembok itu ataukah ada campur tangan Tuhan di dalamnya, yang jelas aku merasa sangat baik-baik saja dan aku menikmatinya sebagai sebuah anugerah yang mahaindah--meski aku tahu aku akan terluka, lebih dan lebih lagi, hingga sang waktu berkata aku tak perlu terluka lagi. 

Hingga sang waktu berkata bahwa aku tak perlu terluka lagi, selamanya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Deadline Akhir Bulan

Kalau dengar kata 'deadline' itu berarti artinya urgent alias semua harus serbacepat supaya pekerjaan tidak terbengkalai dan segala sesuatunya bisa tertangani dengan baik. Aku sendiri sebenarnya kurang suka dengan yang namanya deadline. Pasalnya, sederhana saja, kalau pekerjaan bisa diselesaikan sejak awal, kenapa tidak dilakukan? Giliran mendekati batas akhir baru semuanya kalang-kabut seperti kebakaran jenggot. Iya kalau apa yang dikerjakan sudah seratus persen benar, kalau ada salah atau kurang mungkin, istilah deadline hanya tinggal istilah saja, bukan? Pada akhirnya, semuanya akan sia-sia.
Pekerjaanku sebagai customer service selalu menuntutku untuk melayani setiap pertanyaan customer dan menjelaskan kepada mereka prosedur pemakaian jasa perusahaan pelayaran internasional tempatku bekerja. Pekerjaan ini memang impianku sejak aku duduk di bangku kuliah. Bisa bekerja di perusahaan asing yang memiliki reputasi bagus. Tapi, resiko yang harus aku jalani memang cukup menguras te…