Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Promise in a Black December

Akan selalu ada alasan kenapa aku membenci bulan Desember. Bulan yang penuh dengan luka. Bulan yang penuh dengan duka--hingga entah bagaimana caraku menyembuhkan luka-lukaku sendiri. Terlalu sakit jika harus dijabarkan satu demi satu. Lambat laun aku bisa memahami mengapa ada sebagian dari mereka yang takut akan jatuh cinta. Kau takkan pernah memahami bagaimana hatimu akan terluka ketika cinta yang berusaha kau pertahankan sampai napas terakhirmu ternyata tak bisa mempertahankanmu. Sakit rasanya. Apa yang tadinya aku pikir akan sesuai dengan apa yang aku inginkan, pada kenyataannya sungguh-sungguh menyimpang. Memang banyak yang bilang bahwa sesuatu yang berlebihan maka hasilnya tidak akan baik. Juga, tentang janji yang kau pegang erat untuk kau tagihkan di kemudian hari harus terlepas tanpa ada pertanggungjawaban. Tapi, salahkah jika aku mencintainya dengan sepenuh hatiku? Salahkah jika aku menggantungkan harapan padanya--sekecil apapun itu? Meski, pada akhirnya aku tak lagi

Tak Pernah Mudah (Untukku)

Entah kenapa cinta selalu tak pernah mudah untukku. Ingin rasanya aku mengabaikan semuanya dan pergi menyendiri untuk beberapa saat, dimana aku tak perlu harus menangis dan bersedih. Lelah jika harus terus-menerus mengobati luka demi luka yang terus menganga dari waktu ke waktu. Lelah juga jika harus terus-menerus mengorbankan air mataku untuk sesuatu yang seharusnya sudah aku buang jauh-jauh dari kehidupanku. Banyak yang terjadi, dan banyak juga yang harus dikorbankan. Hanya saja sesungguhnya aku lelah menangis. Selalu saja menangisi untuk hal-hal yang tak seharusnya ku tangisi. Jika kau bertanya ada apa denganku, jawabnya sudah bisa ku pastikan; aku tak tahu.  Berapa kali aku kecewa, berapa kali aku menangis, berapa kali hatiku tersakiti dan terluka? Ratusan bahkan mungkin ribuan kali. Tapi, aku memilih bertahan. Kenapa? Jika bukan karena cinta, lalu apa? Tak ada hal lain yang bisa menjadi alasan. Kendati aku masih percaya karma akan selalu ada, tapi aku tak ingin jik

Back in My Life

Terkadang sesuatu yang telah berlalu tak selamanya harus benar-benar sirna dari alur hidupmu. Ada kalanya kau harus mengingatnya kembali sebagai sebuah kenangan yang tak terlupakan, meski sebelumnya kau merasa bahwa kenangan itu bukan lagi milikmu namun jauh di dalam sana kau masih tetap menyimpannya dalam sebuah kotak kaca yang teramat indah untuk kembali disentuh.  Ada kalanya pula 'mereka' membutuhkan waktu sejenak untuk kembali ke dalam hidupmu, mewarnainya seperti sediakala, sama seperti sebelum kau kehilangannya. Seolah mereka ingin menunjukkan padamu bahwa mereka tak pernah meninggalkanmu, hanya bersembunyi untuk kembali lagi saat kau membutuhkannya.  Tak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia pasti memilikinya. Kenangan dan semua yang kau akhirnya terpaksa menganggapnya sebagai kenangan karena kau tak ingin lagi mengingatnya karena terlalu menyedihkan atau mungkin sebaliknya. Semuanya, baik yang terlalu menyedihkan atau bahkan sangat membahagiakan namun kau tak

Again and Again

Kenyang dengan sebuah kekecewaan bukanlah hal baru bagiku, di saat aku merasakan cinta yang menghangatkan relung kalbuku. Seolah keduanya hidup damai berdampingan dan mengoyak tempat singgah mereka menjadi puing-puing berhamburan.  Cinta yang ku rasakan yang seharusnya bisa membawaku terbang tinggi, namun aku harus kembali berkutat dengan pikiran-pikiran negatif dan prasangka yang tidak seharusnya ku lakukan.  Cukuplah bila aku hanya bisa diam dan berharap agar suatu hari nanti akan bisa berubah seperti sedia kala. Sekecil apapun harapan itu aku akan tetap menunggunya. Aku hanya takut hatiku yang sudah terlalu banyak terluka ini tiba-tiba saja akan berubah tanpa aku sadari dan terlebih tidak kuinginkan. Aku hanya manusia biasa yang bisa berubah kapan saja. Meski dalam hati aku tidak menginginkan perubahan apapun tentang perasaan cinta ini, tapi semua segala sesuatunya bisa saja terjadi diluar kendaliku. Itu yang paling aku takutkan. Aku takut Aku takut jika nantiny

Maut 1 Milimeter di Depan Mata

Aku selalu takut ketika maut berada sangat dekat denganku. Dan, aku benar-benar merasakannya sekarang. Berada hanya berjarak 1 milimeter dengan maut yang membuatmu menjadi manusia yang seolah hidup-segan-mati-pun-tak-mau. 10 Jam sebelumnya... Sekujur tubuh penuh darah dan kau melihat di sekelilingmu banyak orang yang menolongmu tapi kau pun tidak sadarkan diri di mana kau berada saat itu. Mungkin seperti itulah gambaran diriku beberapa hari lalu ketika aku berada di posisi tak sadarkan diri dan kulihat tanganku telah basah kotor dengan tanah bercampur darah segar. Ternyata aku yang menjadi korban kecelakaan itu. Entah mungkin karena belakangan aku memang seperti orang linglung, bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku banyak pikiran dan kurang tidur. Sehingga, mungkin ini adalah teguran dan tamparan keras dari Tuhan. Bahwa, aku tidak seharusnya seperti itu. Hidup memang harus terus berjalan dan manusia takkan pernah terlepas dari masalah selama mereka masih hidup

Mata Pisau

Apa yang terjadi jika kau dipaksa untuk menahan semua rasa sakitmu? Dan rasa sakit itu terus-menerus membuatmu tersiksa hingga akhirnya kau jatuh pingsan. Apa yang akan kau lakukan? Mungkinkah kau bertahan?  Mungkin jawabannya 'iya' jika kau sudah terbiasa dengan rasa sakit itu dan memutuskan untuk menahannya. Tak mudah membuat rasa sakit yang sedemikian hebatnya menyakitimu menjadi sesuatu yang 'biasa' karena telah terbiasa tersakiti. Itu bahkan lebih sadis dari kehilangan nyawamu sekali pun. Sama halnya ketika hatimu terluka oleh sesuatu karena perasaanmu yang terdalam, namun kau telah terbiasa dengan rasa sakit itu dan kau tahu kau tak bisa mengelak atau pun berusaha menghalau. Kau memutuskan untuk tetap pada pendirianmu dan berusaha bertahan sekuat yang kau bisa. Sakit, tapi kau tak bisa berbuat apa pun..   Layaknya si mata pisau yang siap menghunusmu setiap waktu..

Fall In Love

Ketika cinta mengecewakanku, aku tak lagi merasa bahwa itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Kekecewaan seakan sudah menjadi makananku sehari-hari. Hatiku memang tidak terbuat dari besi atau pun baja, tapi seiring dengan berjalannya waktu dan semua yang telah terlewati hati yang hanya terbuat dari gumpalan tanah ini lambat laun akan menjadi kuat; sekuat besi dan bahkan baja. Banyak yang bertanya mengapa aku bisa sekuat ini. Oh tentu menjawabnya bukan perkara mudah. Menjawabnya pun bukan perkara sekedar menjawab atau menyenangkan si penanya; melainkan proses. Ada sebuah proses yang harus aku lalui terlebih dahulu sampai akhirnya aku sekuat ini. Jika bukan karena cinta, aku takkan menjadi seperti ini.  Mereka harus tahu bahwa aku tak sekuat itu . Aku juga bukan wanita super yang bisa dengan mudah terluka dan bisa dengan mudah sembuh dari lukanya sendiri. Tidak. Aku juga bisa menjadi sangat rapuh dan tak berdaya, tapi aku cukup menyimpannya dalam diriku. Meski terkadang aku lelah

Terpukau

Syukurlah, jika Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk berbahagia bersama dengan seseorang yang aku cinta. Setelah aku melalui hari-hari yang penuh dengan dramatisasi hidup, sekarang aku hanya ingin tertawa lepas berdua saja dengannya. Menjadi bagian dari dirinya adalah impianku sejak aku menjadikannya 'pangeran impian'-ku. Mungkin aku setengah gila atau tak waras ketika semua orang menganggap apa yang ku lakukan demi mempertahankan cinta ini sungguh di luar akal sehat. Siapa pun yang mengikuti alur ini dari pertama kali mengenalnya hingga aku merasa bahwa apa yang ku lihat selama ini hanya sebatas teman, ternyata aku merasakan hal yang berbeda di hatiku. Sebuah perasaan bahwa aku takut kehilangannya. Sejak itu aku merasa apa pun yang ku miliki seakan aku tak peduli lagi jika harus terenggut hingga tiada harta benda lagi di tanganku, asalkan aku memilikinya dan bisa terus bersamanya sampai aku menutup mataku selama-lamanya. Aku telah tersihir oleh pesonanya. Aku t

A Dramatic Birthday

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika hari jadimu dirayakan, meski yang kau lihat hanya secuil kue yang telah mengering dan sebatang lilin yang sudah hampir padam. Kesederhanaan. Setidaknya itu yang ku ingat saat mereka merayakan ulang tahunku yang ke-5 kala itu. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu perayaan itu tak lagi penting bagiku. Aku cukup merayakannya seorang diri atau mungkin dengan teman-teman. Aku tak lagi menganggap bahwa hari jadi alias ulang tahun adalah sesuatu yang harus dirayakan, apalagi mengharapkan kado. Kupikir sudah bukan jamannya lagi ada kado-kado semacam itu di tahun 2017 ini. Artinya, bukan lagi kado yang dirupakan dengan barang dan dibungkus dengan kertas warna-warni, melainkan bisa berupa perhatian-perhatian kecil dari seseorang yang istimewa. Sekecil apa pun perhatian yang diberikan jika dilakukan dengan tulus, hasilnya akan berbeda dan bahkan bisa melebihi dari sekedar kata bahagia. Padahal, bahagia itu begitu sederhana. Sangat sederhananya

The Unlucky Day

Hari ini mungkin seharusnya aku tak keluar rumah, atau pergi kemana pun. Aku sedang sial. Semua-semua yang ku lakukan rasanya selalu salah, entah dimana letak kesalahan itu. Ada saja yang membuat semuanya kacau balau.  Mulai dari kecelakaan motor, kejadian yang sangat menyebalkan di kantor, hingga sesuatu yang buruk yang menyebabkan aku bertengkar dengan kekasihku. Tuhan, ada apa ini?  Aku hanya menyesalkan kenapa aku harus se-ceroboh itu; yang seharusnya tak perlu terjadi jika aku mengikuti peraturan yang ada. Dan, seumur hidup, baru kali ini aku mengalami rentetan kejadian buruk dalam 24 jam non stop . Entah apa yang ada di pikiranku ketika kecelakaan itu terjadi. Tiba-tiba saja mobil itu melaju tanpa aku sadari dan aku sama sekali tidak memiliki jeda waktu untuk meraih kampas rem dan menghentikan laju kendaraanku. Aku masih beruntung karena tak ada luka berarti yang menimpaku. Namun, ada sedikit lecet-lecet di permukaan cat motorku. Aakhh... itu masih baru!! Dasar sial

Tak Ada Cinta yang Sempurna

Kecewa memang bukan hal baru lagi bagiku. Entah sudah berapa kali aku merasa kecewa dan kekecewaan itu rasanya sudah seperti makanan pokok sehari-hari. Artinya, aku sudah mulai terbiasa dengan semua rasa sakit dan perih yang menyayat setiap sudut relung hatiku. Dan, aku sudah terbiasa membiarkan luka-luka ini terbuka menganga dan tak lagi berusaha untuk ku sembuhkan. Mungkin aku merasa lelah untuk menyembuhkannya, jika nantinya harus terbuka dan terluka lagi. Itu akan lebih sakit daripada sekedar menyembuhkan luka demi luka yang menganga.  Aku tak pernah merasa lelah mencintaimu, meski aku harus selalu tersakiti. Bukankah sudah ku katakan bahwa cinta ini tak bersyarat? Entahlah, aku seperti menutup mata dan seolah tak peduli dengan semuanya. Sejak awal aku mencintainya aku memang telah mempersiapkan diriku dengan segala resiko yang ada. Bukan hanya soal bathin saja tapi juga tentang sikap dan perilaku serta bagaimana aku akan memperlakukan hubungan cinta ini ke depannya.  A

Cinta yang Melelahkan

Sesungguhnya aku capek. Lelah.  Lelah mempertahankan hubungan yang seperti ini, tanpa ada kejelasan.  Tapi, aku tak berdaya, jika harus kehilangan dia.  Aku... terpaksa harus meredam semua rasa sakit hatiku. Semua rasa sakit yang dilakukannya padaku. Apa pun itu harus aku telan mentah-mentah. Tak ada yang bisa ku lakukan, karena aku tahu akibat yang aku terima adalah kehilangan dia. Tapi, ini sakit sekali.  Entah sampai kapan aku harus menahan perasaan yang seperti ini. Mungkin selama aku hidup dan mencintainya. Rasa cinta ini--aku tahu--aku tak bisa menghapusnya. Aku hanya bisa berharap, siapa pun yang membuat luka di kala aku terjatuh dan terluka, akan ada balasan setimpal. Aku hanya tidak ingin ketika nanti aku telah kehilangan semua rasa cinta ini, dia kembali dan meminta maaf--seperti yang pernah terjadi pada seseorang beberapa tahun yang lalu, yang telah menyakitiku dan kini menyesal. Aku memang mudah memaafkan, tapi rasa sakitku tak mungkin bisa hilang deng

Behind These Hazel Eyes

Kepulan asap yang berasal dari mie goreng itu mengudara tepat ketika lagu yang dilantunkan oleh Kelly Clarksson itu diputar di sebuah kafe temaram saat malam selepas hujan. Sepasang kekasih yang sejatinya tengah berteduh itu memilih spot di ujung ruangan yang berada di sisi sebelah kolam kecil dengan masih saling terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing sembari menikmati sejuknya udara malam. Ikan-ikan kecil yang berenang mengitari kolam kecil di sisi mereka juga seolah mendampingi kebisuan mereka. Hanya suara gemericik air kolam yang mengisi keheningan di antara mereka.  Tak berapa lama setelahnya, si pemuda kemudian berbicara sambil menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Beb, gimana sih caranya berhemat dan menabung?"  Gadis di sampingnya itu menghentikan aktivitasnya memainkan garpu mie di tangannya dan menatap si pemuda sambil mengulas senyum. Tampak sekali bahwa si gadis sungguh antusias dengan pertanyaan kekasihnya itu. "Menabung itu kalo kamu punya s

Cinta Tanpa Syarat

Entah apa lagi yang terjadi padamu. Kau seolah tak mengenaliku. Ragamu memang berada di sini, tapi jiwamu seolah melayang-layang entah ke mana. Bukan hanya sekali-duakali kau bersikap seperti ini, dan ini adalah sikap anehmu yang kesekian kalinya. Aku seolah telah terbiasa dengan kau yang seperti ini. Kau tahu--bisa kutebak--mungkin hanya aku satu-satunya orang yang bisa memahami dan memaklumi 'sifat aneh'-mu ini.  Ini seperti pembelajaran kelas kebatinan, di mana aku harus selalu menggunakan insting, perasaan, dan intuisiku sebagai seorang kekasih untuk memahami apa yang kau inginkan. Jika seseorang mengatakan aku seperti sedang bermain teka-teki atau menyusun kepingan-kepingan puzzle , ini lebih dari itu. Ini bahkan lebih rumit dari puzzle terumit mana pun.  Mungkin, sempat kecewa, dan kekecewaan itu kerap melukai hatiku dan membuatku menangis. Namun, aku pernah menuliskannya, bahwa air mataku kini nyaris kering. Tak terhitung lagi berapa kali aku kecewa dengan sikapnya dan

I Need You

Ketika aku nyaris tak lagi percaya pada cinta, lantas sesuatu mengingatkanku bahwa aku hanyalah manusia biasa yang hanya memiliki cinta dan perasaan. Dan, aku bukanlah iblis yang hanya memiliki dendam dan kebencian.  Kau takkan pernah tahu bagaimana rasanya memulihkan luka hati yang begitu dalam dan menyayat saat kau sendiri belum mengalaminya. Kembali lagi bahwa tak ada seorang pun yang menginginkan hidupnya terburai pecah berhamburan--yang entah sudah berapa kali dirinya harus membenahi dan menyusun lagi puing demi puing meski bentuknya tak lagi sama seperti sediakala. Namun, setidaknya, bentuk itu masih memiliki kemiripan meski tidak seratus persen.  Aku memang tak memiliki kemampuan untuk memutar ulang waktu. Tapi, aku tahu waktu bisa mengubah segalanya. Pun, aku percaya bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini, selama kau mau berusaha. Setidaknya, aku masih memercayai sesuatu yang siapa pun nyaris tak ada yang percaya. Aku membutuhkanmu. Sampai kapan pun aku akan tetap membutuh

Laughing at the Moon for Love

Pemilihan judul blog yang sungguh aneh. Haha, sebenarnya bukan aneh, tapi memang aku sengaja menamainya seperti itu karena aku ingin menceritakan sesuatu yang mirip dengan cerita dalam sebuah novel ( aku lupa judulnya ). Ketika sebuah jalinan tak lagi ada, namun keduanya masih bisa merasakan cinta yang mengalir dalam diri mereka masing-masing; pelan tapi pasti, gemerecik seperti aliran air sungai yang jernih. Jika kau bertanya apa yang membuat mereka berpisah, kau tak akan pernah bisa menjawabnya. Tak seorang pun di dunia ini yang menginginkan berpisah dari orang yang sangat dicintai. Terlebih jika mereka telah mengikat janji, mengikrarkan sebuah ucapan yang bahwa tak ada satu pun yang mampu memisahkan kecuali maut, maka berarti mereka telah siap berkorban demi apa pun.  Namun, mungkin belum saatnya bagi mereka bersama. Tuhan memiliki rencana lain bagi mereka, yang nantinya mungkin akan lebih indah--jauh lebih indah--dari kehidupan mereka sebelumnya. Percayalah, Tuhan tak akan memberik

Cinta dan Sesuatu Itu

Aku tak pernah mengerti apa sebenarnya yang disebut dengan cinta. Aku hanya mengerti bahwa cinta adalah sesuatu yang mengagumkan. Sungguh sangat mengagumkan, hingga aku menyadari bahwa mungkin aku seolah diperbudak oleh cinta. Aku merasa biasa saja, namun nyatanya tidak. Aku merasa tidak baik-baik saja, terutama saat aku merasa khawatir bahwa sesuatu akan merenggut semua yang telah ku miliki. Tidak! Aku sudah cukup mengalah dengan membiarkan apa yang ku miliki beberapa tahun yang lalu direnggut paksa dari genggaman tanganku. Meski aku tidak terlalu merasakan kesedihan yang cukup mendalam, namun rasa sakit dalam hati itu cukup membuatku tersungkur. Perih dan tersayat seolah luka itu takkan bisa sembuh dalam waktu dekat. Oh tapi sudahlah, aku tak pernah menganggap kisah memilukan itu sebagai sesuatu yang mempengaruhi alur hidupku selanjutnya. Mungkin memang iya, namun pengaruhnya bukan dari apa yang akan ku lakukan, melainkan lebih ke dalam pribadiku sendiri. Aku masih belum berhasil men

Internet sebagai Tiang Komunikasi

Komunikasi bisa dibilang menjadi satu-satunya cara agar manusia yang satu dengan lainnya bisa menyampaikan maksud tertentu. Komunikasi bisa dibagi menjadi dua unsur, yakni komunikasi verbal dan non verbal . Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan manusia yang satu dengan lainnya, karenanya mereka dihubungkan dengan sebuah komunikasi--baik yang dilakukan dalam jarak jauh maupun dekat. Di era digital seperti sekarang ini, banyak hal yang dapat mendukung kelancaran berkomunikasi dengan keluarga, teman, maupun orang terkasih. Semua perangkat yang mendukung kelancaran berkomunikasi itu terhubung dengan ponsel atau yang sering disebut dengan smartphone dan paket data seluler. Kini, masyarakat saling berlomba-lomba untuk 'berburu' paket data seluler terbaik yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dan melakukan hal lain dengan lancar dan tanpa terputus atau patah-patah ( buffering ). Lokasi : Kebun Raya, Bali Aktivitas saya sebagai wanita karir dan penulis

Air yang Kering

Terkadang menangis memang bisa menyelesaikan masalah, tapi tidak selalu. Ada kalanya menangis bisa membasuh luka-luka hatimu saja tanpa bisa mengeringkannya, namun ada juga yang berkata bahwa menangis merupakan pekerjaan yang sia-sia karena tidak ada hasil yang di dapat. Mungkin saja pendapat itu benar, tapi aku tak bisa percaya seratus persen. Ketika lubuk hatimu tersayat oleh sesuatu yang berasal dari orang yang kau sayang, maka tanpa sadar air matamu akan jatuh untuk membalutnya. Bagiku, air mata itu suci, karena mengalir dari sebuah perasaan yang tulus. Namun, kadang kala lembah air mata itu mengering saat kau terlalu lama merasakan sebuah kesedihan yang teramat dalam dan menahan sebuah rasa kecewa yang begitu pekat. Tak pelak, lambat laun kau akan terbiasa dengan 'hal-hal' menyedihkan semacam itu. Lambat laun perasaan-perasaan itu kemudian seolah menjelma menjadi 'sahabat kesedihan' yang senantiasa hadir saat kau terluka. Aku pernah merasakannya. Dan, kurasa, aku s

Hujan

Tak dapat dipungkiri bahwa hujan selalu membawa berkah bagi siapa pun. Pun, tak terkecuali aku. Meski terkadang hujan membuatku kesal karena sesuatu yang basah, namun dalam hati aku sangat bersyukur. Hujan sama halnya dengan cinta. Mereka seolah memiliki ikatan bathin yang kuat, sehingga kerap hujan dikaitkan dengan cinta.  Sungguh romantis adanya ketika kau hanya memandangi hujan dengan perasaan campuraduk, tentang bagaimana kau akan pulang ke rumah dengan tanpa basah sedikit pun. Sederetan keluhan sudah pasti terlontar dari mulutmu. Namun, apa yang kau rasakan ketika apa yang kau inginkan dikabulkan Tuhan? Ketika yang kau inginkan ternyata berbalas dengan manis? Rasanya tubuh ini mendadak ringan seakan melayang-layang terbang hingga melintasi langit tujuh nirwana, bukan? Hujan mungkin memang menyebalkan, tapi bagiku hujan adalah pembawa nikmat tersendiri. Meski tak selalu, hujan kerap membuat senyumku terkembang. Meski tak selalu, hujan juga kerap membuat luka yang menganga di hatiku

Colorful

Sebelumnya mungkin aku tak pernah menganggap bahwa hidupku sesungguhnya berwarna, dan juga banyak kejadian lucu di dalamnya. Mungkin juga aku tak terlalu memerhatikan hidupku sendiri. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri--yang aku sendiri terkadang tidak tahu apa yang sedang ku lakukan. Pentingkah itu? Atau, seberapa penting hal itu sehingga aku sampai harus tidak memerhatikan hidupku yang sesungguhnya.  Baiklah, aku menyalahkan diriku sendiri. Ketika sesuatu yang tak pernah kau duga sebelumnya datang menyapa hidupmu di saat kau sedang tidak siap, apa yang akan kau lakukan? Menghindar? Atau, justru terjun ke dalamnya?  Ketika sesuatu itu adalah apa yang menjadi mimpimu yang tertunda, apa pula yang akan kau lakukan? (Masih) Tetap menghindar? Atau, (semakin) dalam untuk ingin terjun ke sana, demi menyelami apa yang terjadi seandainya kau melakukan itu ?--seperti layaknya jika kau ingin bunuh diri. Seperti itukah? Aku tak bisa mengatakan bahwa hidupku sebelumnya sungguh penuh warna.

Kau adalah Sosok yang Tak Kutemukan Lagi

Mencintaimu berarti aku harus bersedia mengikuti segala aktivitas dan rutinitasmu. Aku memahami, dan aku sadar dengan sepenuhnya, dengan siapa aku mencinta. Dengan siapa aku harus mengerti bahwa aku tak boleh egois, dan menjauhkan diriku sendiri dari sikap keras kepala yang selama ini tanpa sadar telah ku pelihara dalam setiap aku menjalin sebuah hubungan. Mungkin ini saatnya aku harus bisa menahan diri dari segala sesuatu yang bisa menghancurkan segalanya yang telah aku miliki dengan segenap jiwaku. Tidak mudah bagiku untuk menemukan seseorang yang sesuai dengan kriteria yang aku inginkan untuk menjadi pasanganku. Mungkin bukan kriteria yang 'wah' atau masuk dalam kategori super, tapi ada satu dan lain hal yang harus ada, yang paling aku inginkan dalam diri pasanganku. Dan kau... Kau mampu menjawab semuanya. Kau memiliki segalanya yang paling aku inginkan dalam hidup. Tak ada apa pun yang membuatku ragu untuk memilihmu. Kau sempurna bagiku. Kau adalah sosok yang tak mungkin ku

Rasa Cinta

Jangan coba tanyakan ketulusan cinta ini Hanya engkau lah satu harapan  Dan juga satu tujuan dalam hidupku, Kasih...  (Hasrat Cinta, performed by Lala Karmela)  Sebuah ungkapan yang begitu mendalam untuk kamu yang terkasih, yang selalu ada dalam hatiku, dan selalu menghiasi mimpi-mimpi indahku. Aku nyaris tak peduli apa saja yang telah kulalui selama ini demi mempertahankan hubungan ini. Tak peduli apa yang ada di hadapan kita, yang mungkin akan menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah kita duga sebelumnya.   Aku hanya menginginkanmu. Itu saja.  Mungkin memang tak 'kan pernah ada sebuah cinta tanpa diiringi sebuah pengorbanan. Entah apa saja yang telah kukorbankan hingga aku sampai ke detik ini, dan aku masih bersamamu, menjadi milikmu. Pun, aku telah memposisikan diriku seolah aku sebagai sosok tanpa penglihatan dan pendengaran, agar aku tak perlu melihat dan mendengar apa pun yang mungkin akan merusak setangkai mawar yang kujaga seperti kristal dan telah kuletakkan dalam kotak k