Langsung ke konten utama

Mencuri Perhatian

Bekerja selama 8 jam sehari agaknya lumayan membuat punggung saya seolah seperti memikul beban seberat beberapa kilogram yang mungkin hanya mampu dilakukan jika empat hingga lima orang atau lebih. Tapi, itu hanya sekilas yang nampak oleh mata. Pekerjaan yang lebih dari beban-beban semacam itu mungkin bisa dikatakan sebagai 'kulit luarnya' saja, selebihnya pekerjaan yang sesungguhnya benar-benar mengharuskan saya untuk mengerahkan seluruh tenaga saya, semampu saya. Dan, bagi saya, itu menyenangkan. Serius, itu menyenangkan. 

Pekerjaan-pekerjaan itu cukup mencuri perhatian saya. Mungkin bisa dikata bahwa saya mungkin bukan tipe seseorang yang gila bekerja atau yang semacamnya. Tapi, saya menikmatinya. Menikmati kesepuluh jemari saya menari-nari di atas keyboard komputer mengetikkan kata demi kata demi membentuk sebuah dokumen. 

Ditambah lagi dengan teman-teman saya yang juga menyenangkan. Bisa dibilang saya memang tipikal pencinta humor, dan tak jarang juga tanpa sengaja saya pun melakukannya hingga membuat teman saya tertawa. Itu adalah bagian yang menyenangkan, saat orang lain tertawa ketika mereka mendengar leluconmu. Dan, seumur hidup, baru kali ini saya memiliki teman-teman yang menyenangkan seperti mereka--ya, meski ada sebagian yang terkadang bisa membuatmu kecewa, tapi itulah manusia. 

Empat tahun bukanlah waktu yang singkat dalam memahami sebuah pola. Bekerja itu melelahkan, juga membutuhkan sebuah konsentrasi yang tinggi. Bersyukur saya bisa melakukannya dengan sangat baik, setidaknya saya berusaha untuk melakukan semua pekerjaan saya sesempurna mungkin. Dan, saya yakin, siapa pun juga pasti dapat melakukan pekerjaan yang dihadapi dengan baik jika dalam hati kita tanamkan niat untuk melakukannya. 

Jadi? Cintailah pekerjaanmu, sebaik kau mencintai dirimu sendiri... 

Komentar

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene -nya hanya recipien universal ,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay -lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan? Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka.  Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tida

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition , yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda. Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi. Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Desti

Deadline Akhir Bulan

Kalau dengar kata ' deadline ' itu berarti artinya urgent alias semua harus serbacepat supaya pekerjaan tidak terbengkalai dan segala sesuatunya bisa tertangani dengan baik. Aku sendiri sebenarnya kurang suka dengan yang namanya deadline . Pasalnya, sederhana saja, kalau pekerjaan bisa diselesaikan sejak awal, kenapa tidak dilakukan? Giliran mendekati batas akhir baru semuanya kalang-kabut seperti kebakaran jenggot. Iya kalau apa yang dikerjakan sudah seratus persen benar, kalau ada salah atau kurang mungkin, istilah deadline hanya tinggal istilah saja, bukan? Pada akhirnya, semuanya akan sia-sia. Pekerjaanku sebagai customer service selalu menuntutku untuk melayani setiap pertanyaan customer dan menjelaskan kepada mereka prosedur pemakaian jasa perusahaan pelayaran internasional tempatku bekerja. Pekerjaan ini memang impianku sejak aku duduk di bangku kuliah. Bisa bekerja di perusahaan asing yang memiliki reputasi bagus. Tapi, resiko yang harus aku jalani memang cukup meng