Langsung ke konten utama

Back to Nature

Sebuah perayaan hari besar atau yang sering orang bilang dengan hari raya merupakan sesuatu yang sakral dan lekat sekali dengan kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri suka atau tidak, sebuah perayaan itu memang akan selalu dilakukan dan tak pernah alpa untuk segala sesuatunya. 

Sama halnya seperti perayaan hari raya Lebaran yang begitu kental dengan tradisi masyarakat Indonesia. Tradisi pulang ke kampung halaman yang tak pernah terlupa senantiasa menghiasi meriahnya perayaan ini. Alhasil--kau tahu--kau akan bisa menghitung berapa banyak kendaraan yang melintas di area jalanan ibukota yang biasanya selalu macet kini sungguh-sungguh lengang, sampai-sampai kau mungkin bisa menggunakan jalanan itu untuk bermain bola. Saking sepinya! 

Urbanisasi. Hal inilah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa jalanan ibukota begitu sepi dan sangat jarang sekali ditemui kendaraan melintas seperti apa yang terjadi disaat hari-hari sibuk dimulai, seperti biasanya. 

Namun, memang seperti itulah yang dinamakan dengan pemerataan kependudukan. Masyarakat berpindah dari satu kota ke kota yang lain karena ingin mengadu nasib dan ingin mendapatkan kehidupan perekonomian yang layak. Karenanya, mereka melakukan perpindahan domisili--dengan tidak menghapus dari mana mereka berasal. 

Untuk alasan itulah, yang pada akhirnya kemudian dikenal dengan istilah pulang kampung--atau, back to nature. Mereka akan kembali ke daerah asalnya masing-masing untuk melepas rindu dengan keluarga yang telah mereka tinggalkan dalam waktu yang lumayan lama demi sebuah pekerjaan. Dan, momentum seperti inilah yang banyak ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat muslim yang merayakan Lebaran. 

Menyenangkan. 
Karena inilah sebuah kebersamaan, yang tidak bisa digantikan dengan berapa pun pundi-pundi rupiah yang kita miliki... 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …