Langsung ke konten utama

Alexa Rank

Aahh rasanya sudah lama sekali yaa aku tidak memedulikan alexa-alexa-an, sejak aku jarang 'memberi makan' blog-ku ini (padahal aku beli domainnya nggak murah, haha, malah curhat!). Eh tapi serius, aku memang tidak seberapa memedulikan rank seperti yang dikejar oleh para blogger lainnya. No! Aku tidak peduli dengan itu semua. Kalau mendapat rank ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Kecuali, kalau aku membuat blog ini bertujuan untuk kukomersilkan, tapi ini tidak. Aku....hmm, rasanya aku pernah membahasnya di tulisan terdahuluku kalau aku sebenarnya bercita-cita jadi penulis? Haha, yaahh penulis yang tidak tersampaikan niatnya. Jadilah, aku mengelola blog ini, hanya karena aku ingin mengasah kemampuan menulisku saja, tidak lebih.

Belakangan kalau aku perhatikan situs alexa rank sudah tidak seperti dulu lagi. Terakhir kali aku membuka situsnya malah harus bayar kalau kita ingin mendaftarkan blog kita. Padahal, dulu setahuku tidak begitu. Ya okelah, situs Alexa memang bergengsi yaa di kalangan para blogger yang mengejar rank. Tapi kalau harus bayar, rasanya tidak mungkin yaa. Tahu sendiri kan bagaimana karakteristik orang Indonesia?

Tapi, memiliki rank untuk blog bisa dikatakan penting tidak penting yaa, tergantung untuk tujuan apa dulu blog tersebut dibuat. Jika tujuannya untuk dikomersilkan demi mendapatkan pundi-pundi rupiah bahkan dollar yaa memiliki rank itu menjadi wajib hukumnya. Sebaliknya, jika hanya untuk tempat curhat dan berbagi kisah klasik demi masa depan (haha), rasanya mengejar rank itu tidaklah penting.

Sehingga, sebuah pencapaian itu dikatakan penting apabila apa yang kita tonjolkan memiliki porsi-porsi tertentu yang memang bisa dijadikan sebagai bahan penilaian. Dan, tidak semua aspek bisa dijadikan bahan penilaian bergantung dari seberapa penting aspek tersebut bermanfaat bagi khalayak. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …