Langsung ke konten utama

Learning From the Stars

Pernahkah kalian mendengar istilah seperti yang aku tulis di judul postingan ini, 'learning from the stars'? Rasanya istilah ini bukan yang pertamakalinya kalian dengar, kan? Banyak juga buku ataupun novel yang sudah menuliskannya sebagai sebuah pembelajaran.

Dalam satu kehidupan, manusia akan terus belajar dan belajar. Tak peduli berapa umurmu atau siapa kamu, dan apa statusmu. Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Jika kau memiliki sebagian atau remah-remah sisa waktu, gunakanlah untuk belajar. Belajar tak harus membuka buku, kan? Apapun bisa kau pelajari untuk menambah wawasan dan memperluas cara pandangmu tentang hidup yang tengah kau jalani. Dunia ini luas, dan sungguh luas. Jika pemikiranmu tidak berkembang dan cenderung stagnan, kau tidak akan bisa melihat betapa luas dunia ini dan betapa banyak bermacam-macam seni variasi hidup yang bisa kau dapatkan jika kau mau 'membuka mata lebih lebar' terhadapnya.

Pembelajaran dari Bintang. Kau tahu? Bintang itu tidak kecil seperti yang sering kau lihat dari sudut bumi yang terkecil. Namun, bintang itu besar sebesar matahari yang setiap pagi bisa kau rasakan hangatnya di permukaan kulitmu. Bahkan, matahari pun sebenarnya masuk dalam kategori 'bintang'.

Artinya, bintang yang terlihat kecil ternyata tak sekecil kelihatannya, tapi bintang memiliki peranan besar bahkan cenderung utama dalam kehidupan manusia. Sama halnya dengan manusia. Tak seharusnya manusia menganggap diri mereka kecil. Orang boleh memandang kita kecil, namun buktikan pada mereka bahwa kita tak sekecil atau seremeh yang mereka pikirkan. Buktikan pada mereka juga bahwa kita memiliki peranan besar bagi sebagian orang yang ada di sekeliling kita. Dari sanalah, maka orang akan menganggap kita sebagai 'bintang' yang kecil namun memiliki sinar yang terang-benderang.

Komentar

  1. Hihiii, benar sekali mba dhaniss....
    Kita harus jadi seperti bintang :)
    Termasuk menjadi bintang dihatinya *eh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha Nuriiiii....iyaahhh, thank you yaahh buat komennya.
      Di hatinya? Haha....bisa aja kamu nih.. :p

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …