Langsung ke konten utama

Fenomena Lulusan Sarjana

Beberapa waktu lalu harian pagi Jawa Pos mengulas tentang banyaknya pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana. Oh God! Sembari membaca fenomena itu lantas kepalaku dipenuhi beribu macam pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya. Tapi, dari sekian banyak pertanyaanku, ujung-ujungnya pasti berbunyi, 'bagaimana bisa'? 

Sekarang kalian tahu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya akan menjadi mungkin jika memang itu dimungkinkan. Artinya, fenomena pengangguran bertitel Sarjana itu bisa terjadi karena mereka para lulusan tersebut tidak memiliki mind-set yang benar.

Mencari pekerjaan mungkin memang melelahkan (ya aku tahu, aku pun juga pernah merasakan kelelahan yang paling lelah sekali pun, lelah tingkat dewa katanya, #ahlebay, haha!!), tapi mencari pekerjaan pun juga tidak bisa instan. Dalam artian, instan yang bisa langsung ditempatkan di posisi tinggi dengan salary yang 'wah'. Oh Man, memangnya itu perusahaan nenek moyangmu, gitu? So, this is a BIG NO! Bukan kandidat seperti itu yang diinginkan perusahaan. Melainkan kandidat yang bisa menerima statusnya sebagai newbie dan bersedia ditempatkan di posisi apapun sesuai dengan karakteristiknya dengan salary yang masih dalam batas wajar. 

Namun, fenomena ini juga ada sangkutpautnya dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia di kota besar semacam Surabaya. Kebutuhan akan tenaga kerja memang banyak, tapi tenaga kerja yang bagaimana yang sedang mereka butuhkan itu yang membuat lapangan kerja seolah terasa sedikit dan terbatas.

Pola pikir atau mind-set seperti ini yang memang seharusnya diubah. Masyarakat kebanyakan berpikir bahwa bekerja kantoran itu enak, hidup terjamin, kesehatan ditanggung perusahaan, dan lain-lain-dan lain-lain. Padahal, tak selamanya bekerja purna-waktu seperti itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Memang, dalam segi salary terjamin dan selalu statis di tiap bulannya, dibandingkan jika berwirausaha yang kadang naik-turun. Tapi, justru dengan berwirausaha itulah kita bisa belajar melatih kedisiplinan diri dan tanggungjawab atas pekerjaan yang kita lakukan sendiri. Kita akan merasa tertantang dengan pesaing-pesaing bisnis yang mungkin muncul. Dan, jika kita sukses menjalankan bisnis kita sendiri, untung yang didapat bahkan akan jauh melebihi kalau kita hanya bekerja purna-waktu. And, this is the point! 

Fenomena bertambahnya jumlah pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana bisa berkurang apabila mereka mampu mengubah mind-set mereka bahwa bekerja berwirausaha akan jauh lebih baik daripada bekerja purna-waktu yang bekerja selalu terikat waktu dengan gaji pas-pasan. 

Miris juga saat membaca berita seperti itu. Kalian tahu? Tak mudah meraih gelar Sarjana dan mereka harus mengorbankan segala apapun (mungkin) hanya untuk mendapatkan selembar kertas bersegel bertuliskan titel gelar yang tersemat di belakang nama mereka. Apa yang ada di benakmu ketika seremonial itu berakhir, dan kau mendapati dirimu hanya duduk berdiam diri di rumah tanpa kegiatan? Tidak bekerja dan tidak pula memulai usaha apapun? Sungguh menyedihkan, bukan? Padahal, sebenarnya banyak sekali yang bisa kau lakukan dengan kemampuan, kepandaian, dan pendidikan yang telah kau dapatkan selama di perkuliahan untuk menjadi orang sukses tanpa harus sibuk melamar pekerjaan kesana-kemari. And, this is a second point!

"Lagi, kutekankan, waktu takkan berkompromi denganmu kalau kau tidak berusaha menjadikannya sahabatmu. Tetap semangat!!" :)

Komentar

  1. great inspiring blog :)

    xoxo
    http://singingthumbelina.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Kalau dipiki-pikir, yang sarjana aja susah cari kerja, gimana yang lulusan SMK? Hihihi...

    Ahh, tapi itu semua kan tergantung doa dan usaha kita.
    Kalau dipikir lagi, yang tidak sekolah saja bisa mendapatkan kerja. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, tapi itu tergantung kita-nya juga sih, Nur. Iya, pokoknya kerja nggak usah milih-milih, karena pada dasarnya kerja dimana pun ya sama aja yang penting dedikasi kita terhadap perusahaan atau instansi.. :)

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …