Langsung ke konten utama

Nahkoda

Jadi, seperti ini ya rasanya menghitung hari. Aku jadi ingin tertawa, haha!! Aku bahagia, tapi aku juga tetap mengucap syukur dan berserah diri. Mungkin tiada henti bibirku mengucap rentetan kata-kata doa. Banyak yang aku inginkan. Namun, hanya satu hal yang menjadi prioritasku saat ini.

Aku tak ingin melihat kalender atau apapun yang berhubungan dengan hari, bulan, atau yang semacamnya. Hanya akan membuatku risau. Oke, aku tahu aku galau, tapi aku bukan galau karena cinta. Otakku hanya berorientasi pada satu titik. Satu titik yang akan berpengaruh besar pada masa depan dan hidupku.

Apa yang dibutuhkan seseorang dalam hidup? Pasti salah satunya adalah kebahagiaan, kan? Dan, untuk mencapai kata 'bahagia' itu bisa ditempuh dengan berbagai macam cara, yang salah satunya adalah menata hidupmu dan memiliki nahkoda yang bisa membawamu mengarungi hidup hingga akhir hayat.

Kini, aku tengah mempersiapkan apapun yang berkaitan dengan masa depan. Sebenarnya tidak membutuhkan konsentrasi apapun, tidak seperti kita jika sedang menghadapi ujian masuk sekolah. Hanya membutuhkan kesabaran dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Seperti apa yang selalu diucapkan olehnya ketika aku sedang tidak berada dalam 'kondisi fit' - sang nahkoda cinta.

Komentar

  1. jadi inget lagunya Bang Rhoma //... :)

    BalasHapus
  2. hmmm, kyknya ada yg sebentar lg mau nikah nih...
    soalnya sama persis seperti yg aku rasakan dulu, hehe... ^_^

    BalasHapus
  3. cie... cie... ehem, dilamar gandi yak? :D hehe

    BalasHapus
  4. Udah lama ga main ke sini, namapaknya tampilannya baru.
    cie... cie....
    eh dhanis nikah enak lho, gw aja nyesel telat nikah. klo tau nikah enak, udah dari SD gw nikah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha iyaahh tampilan baru, biar ganti suasana aja.
      Dih apaan kecil-kecil udah nikah, hahaha!!
      Btw thanks for comment... :)

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …