Langsung ke konten utama

Flashback Sebelum Memaafkan

Bergabung di sebuah komunitas itu sebenarnya bukan tipeku. Aku memang suka menulis dan membuat sebuah karya tulis. Tapi, aku kurang suka jika aku harus bergabung dengan komunitas penulis atau yang semacamnya. Itu mungkin ya sebabnya aku gagal mewujudkan impianku menjadi penulis menjadi kenyataan, hehe, oke lupakan! Aku lebih suka mempublikasikan karyaku dengan caraku sendiri. Seperti, yang pernah ada (sampai sekarang juga mungkin masih ada) sebuah situs dimana kita sebagai penulis bisa menerbitkan tulisan kita sendiri menjadi sebuah buku atau novel, layaknya penulis terkenal. Hanya saja, hingga saat ini aku belum sempat mencobanya, karena memang aku sudah jarang sekali menulis. Bukan karena malas, tapi aku tak punya cukup banyak waktu. Kecuali, jika ada jatah liburan panjang. 

Baiklah, kembali ke pembicaraan komunitas. Menurutku, sebuah komunitas bisa sangat menguntungkan dan bisa juga merugikan. Oke, semua hal memang ada plus-minusnya, aku percaya itu. Dan, semua hal juga pastilah ada untung-ruginya. Begitu pula lah yang terjadi padaku.

Aku mengaku bahwa aku memang beruntung bisa bergabung di sebuah komunitas (yang takkan kusebutkan namanya dan cukup hanya aku yang tahu). Aku pun berhutang banyak ilmu disana. Kemampuan menulisku memang tak pernah surut, namun aku merasa bahwa ilmu tentang dunis tulis-menulis itu sendiri yang bertambah.

Hanya saja, sebuah komunitas harus selalu bertemu dengan banyak kelompok orang per orang. Dan, mereka memiliki karakter dan perilaku yang berbeda-beda. Sifat dasar manusia adalah masyarakat yang majemuk. Karenanya, sudah sepantasnya jika kita harus bisa menerima segala perbedaan yang ada.

Aku tahu dan aku sadar itu semua. Hanya, terkadang aku merasa risih dan seolah merasa terganggu dengan apa yang ada di sekitarku. Aku merasa bahwa privasiku seakan terusik. Pada kenyataannya, aku tak pernah mengusik privasi siapapun. But, why? Yang ada justru malah aku yang tersudut dan sempat kehilangan milikku yang paling berharga.

Tapi, sudahlah. Itu adalah masa lalu. Aku hanya sedikit flashback. Sebelum hari yang fitri menjelang, aku ingin melupakan semuanya setelah sebelumnya aku memaafkan semuanya. Jadi, setelah aku menguburnya dalam-dalam aku tak perlu lagi mengingatnya. Aku hanya perlu belajar dari semuanya.

Komentar

  1. Hmmm.... resiko gabung dikomunitas memang gitu si ya >.< siapin mental ajalah ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …