Langsung ke konten utama

A Golden Box

Seringkali kudengar pendapat orang bahwa cinta itu indah. Ya! Indah jika cinta itu layaknya barang yang bisa kau beri nama dan selalu kau kunci dalam peti peyimpanan agar tidak hilang atau raib. Namun, bukan cinta namanya jika cinta itu selalu kau kurung dalam sangkar emas dan sama sekali tak dibiarkan bebas. Terkadang, kau harus merelakannya bebas, dengan beribu ancaman yang mungkin mengancam cinta itu sendiri.

Meski kau tak ingin, tapi kau harus. Cinta punya jalan sendiri untuk menemukan pasangannya. Seperti anak kunci yang selalu menemukan panelnya agar daun pintu dapat terbuka.

Sedih. Satu kata jahanam yang mampu mengucurkan miliaran butiran airmata hingga nyaris tak tersisa. Apa? Itukah cinta?

Mungkin menangis tak menyelesaikan masalah. Tapi, setidaknya itu bisa membuatmu lega. Cinta yang kurajut dengan benang kusutku, apa artinya jika pada akhirnya harus terpaksa kurelakan ia pergi? Meski itu berat, aku bisa apa? Apa yang bisa kulakukan di posisi ini? 

Seharusnya aku menyesal mengenalnya, dan seharusnya aku melupakannya. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Dia adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan atas pengharapanku. Dan, aku akan selalu menjaganya sepenuh hatiku - dalam sebuah kotak berlapis emas dalam palung hati yang teramat indah.

Satu kedamaian tak tergantikan dengan menyimpanmu disana. Selalu mengalunkan melodi dalam setiap helaan napas dan detakan jantungku.

"Aku (selalu) Sayang Kamu, G."

Komentar

  1. udah lama kayaknya ga main ke blognya dhanis :)
    kayaknya ak tau tuh pria beruntung berinisial "G" :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iyaa, aku juga jarang update sih. Sibuk mulu.
      Siapa emang..?? :)
      Thanks yah Om udah komen :)

      Hapus
  2. Tidak ngerti kalau ngomongin cinta... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, nggak harus dimengerti juga kok.
      Thank you for visiting :)

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …