Langsung ke konten utama

Try to Be Happy as Usual

Jika dibilang bahagia, aku bahagia sekarang. Ya, sungguh. Ketika aku membuka halaman awal blog-ku, aku tidak menemukan apa yang aku cari dan aku tunggu. Ternyata seseorang di luar sana belum tahu bahwa aku menulis tentangnya. Atau, mungkin dia tidak merasa. Oke, tidak apa-apa. Aku toh tidak mengharapkan dia membacanya. Tak penting juga. 

Sekarang, soal kebahagiaanku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Ada seseorang yang memperhatikanku dari kejauhan sana. Mungkin tak seharusnya aku merasa terlalu bahagia, karena perhatian itu tidak bisa diartikan sebagai "perhatian yang lebih". Kupikir itu normal, tapi yah, setidaknya aku sudah berusaha jujur - dari hati - kalau aku senang diperhatikan. 

Meski tak terkatakan, sesungguhnya aku merasa sedih. Cukup lama aku merasakan airmata yang meleleh di pipi, merasakan sakitnya hati yang teriris, merasakan perasaan yang melukai relung kalbu, kini aku mencoba untuk bahagia dengan caraku sendiri - caraku mengenalnya dan memberikan perhatianku padanya. Mencoba untuk bahagia dengan apa yang telah aku miliki. Di sisi lain, aku juga harus belajar untuk menerima sesuatu yang rasanya mustahil, dan belajar untuk menerima sebuah kekalahan. Walaupun kedengarannya sulit bagiku, tapi aku harus. Aku tak mungkin bergantung pada sesuatu yang tak mungkin, kan? - apalagi  yang mustahil.

Tapi, apapun itu, aku senang dia ada untuk aku. Setidaknya, ketika aku merasa sedih, dia selalu ada untuk menemaniku dan mengisi kekosongan jiwaku. Aku mungkin mencintainya, tapi aku tahu dan aku sadar cinta tak harus selalu memiliki. Ada kalanya cinta harus diiringi dengan pengorbanan. Dan, pada akhirnya, aku mungkin harus mengorbankan perasaanku untuk yang kesekian kalinya, demi rasa cinta ini. 

Komentar

  1. setuju sama agan, semoga sukses slalu dengan cintanya amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih :)
      dan terima kasih juga untuk komennya yaa

      Hapus

Posting Komentar

Thank you for your comment.

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …