Langsung ke konten utama

Belajar Menjadi Seorang Pemasar

Kalau dilihat-lihat, dunia marketing sebenarnya tak jauh dari duniaku. Selama aku kuliah, aku juga diajarkan ilmu tentang bagaimana cara memasarkan barang atau produk. Tak mudah memang, tapi kalau kita sudah tahu cara-caranya, pasti akan jadi suatu pekerjaan yang mudah dan mungkin menyenangkan.

Memasarkan barang atau jasa tak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan keahlian khusus untuk bisa mencapai suatu target atau pencapaian yang diinginkan. Tapi, dengan banyak membaca dan terjun ke lapangan untuk melakukan survei pasar secara langsung, tak ada yang tak mungkin.

Aku sebenarnya ingin belajar menjadi seorang marketer yang sukses. Tak jarang aku mencoba terjun ke dunia bisnis marketing, namun tak pernah membuahkan hasil. Memang sih, aku tak pandai memasarkan barang atau jasa. Karenanya, aku harus banyak belajar dari orang lain. Salah satunya, aku belajar dari teman sekaligus sahabatku, si penghuni60. Kulihat, ia sudah lumayan sukses menjadi seorang pemasar - di samping blognya yang juga ramai dikunjungi orang. Tapi, sedikit demi sedikit aku mengikuti jejaknya, yang intinya harus banyak membaca dan googling.

Di blog ini pun aku juga belajar memasarkan produk. Kuharap aku bisa menjadi seorang pemasar yang baik. Ke depannya, aku tak mungkin berhenti sampai disini saja. Aku akan terus belajar, sampai belajar itu dilarang (haha, becanda!). Intinya, aku akan terus belajar dan mengembangkan teknik-teknik untuk bisa menjadi seorang pemasar yang sukses, seperti orang-orang di luar sana. Kalau mereka bisa, maka tak menutup kemungkinan aku pun juga bisa.

Kalau ingin lihat apa yang kucoba pasarkan, silahkan lihat di sisi kanan blog ini. Ada amazon dan beberapa link di panel Hop Links. Tak seberapa banyak memang, karena ini baru awal sebagai proses pembelajaranku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene -nya hanya recipien universal ,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay -lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan? Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka.  Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tida

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition , yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda. Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi. Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Desti

Deadline Akhir Bulan

Kalau dengar kata ' deadline ' itu berarti artinya urgent alias semua harus serbacepat supaya pekerjaan tidak terbengkalai dan segala sesuatunya bisa tertangani dengan baik. Aku sendiri sebenarnya kurang suka dengan yang namanya deadline . Pasalnya, sederhana saja, kalau pekerjaan bisa diselesaikan sejak awal, kenapa tidak dilakukan? Giliran mendekati batas akhir baru semuanya kalang-kabut seperti kebakaran jenggot. Iya kalau apa yang dikerjakan sudah seratus persen benar, kalau ada salah atau kurang mungkin, istilah deadline hanya tinggal istilah saja, bukan? Pada akhirnya, semuanya akan sia-sia. Pekerjaanku sebagai customer service selalu menuntutku untuk melayani setiap pertanyaan customer dan menjelaskan kepada mereka prosedur pemakaian jasa perusahaan pelayaran internasional tempatku bekerja. Pekerjaan ini memang impianku sejak aku duduk di bangku kuliah. Bisa bekerja di perusahaan asing yang memiliki reputasi bagus. Tapi, resiko yang harus aku jalani memang cukup meng