Langsung ke konten utama

Menulis atau Menjiplak?

Menulis, bagiku adalah segalanya. Aku bisa menjadi siapapun atau apapun dengan sebuah tulisan. Ketika imajinasiku menunjuk pada sebuah bangunan berbentuk istana, maka aku bisa mengandaikan diriku sebagai putri raja. Ketika imajinasiku menunjuk pada sebuah laut dan berbagai keindahan di dasarnya, maka aku pun bisa mengandaikan diriku sebagai putri duyung. Dan, masih banyak lagi.

Belajar menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Walau sekilas terlihat sederhana, namun sebenarnya rumit. Ada banyak aturan dan kode etik ketika seseorang harus menuliskan sesuatu. Menulis tak harus diartikan kita harus menyediakan kertas dan sebuah pena. Mengetik di atas tuts keyboard pun sama artinya dengan "menulis". 

Kupikir beberapa penulis yang sudah memiliki nama besar pun harus membutuhkan beberapa waktu atau bahkan hari untuk bisa mendapatkan inspirasi tentang apa yang akan ditulisnya, agar berbeda dari kisah yang sudah-sudah dan tidak dianggap sebagai penjiplak.

Aku sendiri pun sebenarnya tidak suka menjiplak karya milik orang lain. Lebih baik aku menciptakan sesuatu yang baru dan mungkin belum pernah ada agar apa yang aku tulis bisa menjadi trademark tersendiri. Namun, terkadang, aku mati ide. Sehingga, aku harus mencari sumber-sumber tambahan dari berbagai buku, majalah, surat kabar, atau browsing internet. Apakah itu dinamakan menjiplak? Kurasa tidak.

Menjiplak menurutku adalah mencontoh dan menyalin keseluruhan isi sumber-sumber yang kita baca tanpa ada satu patah kata pun yang ditambah atau dikurangi. Jika menyadur ulang beberapa isi sumber-sumber yang kita baca ke dalam tulisan kita dengan ditambahkan beberapa kalimat dari kreativitas kita sendiri sebagai "bumbu penyedap" menurutku bukan sebuah kegiatan menjiplak, kan? Tapi, bagaimana pun juga, menulis adalah sesuatu yang pasti dilakukan oleh seseorang kala suasana hati mereka sedang tidak dalam "tempatnya". Dan, bagiku menulis bisa dilakukan kapan saja tanpa ada batasan waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Premonition or Deja Vu?

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.
Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.
Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination…

Donor Darah

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?
Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 
Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak dip…

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 
Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 
Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 
Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 
Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi …