Langsung ke konten utama

Postingan

Post Pilihan

Hidup Layaknya Roller-Coaster

Semacam pengharapan berlebih; pernah sekali waktu aku berharap ( dan sedikit berandai ) malaikat turun menghampiriku dan memberiku satu permintaan. Aku akan meminta padanya, aku diijinkan kembali ke masa lalu; ke sebuah masa dimana semua titik asal mula permasalahanku sekarang berawal. Memang terdengar mustahil, tapi jika diijinkan, aku ingin memperbaiki segalanya agar semua kembali seperti sediakala. Seperti sebagaimana hidupku seharusnya berjalan.  Ini mungkin teguran dan sentilan keras yang diberikan Tuhan padaku, karena aku kurang bersyukur atas apa yang sudah aku dapatkan; atas apa yang sudah aku miliki. Tanpa sadar, aku seperti merasa bahwa gaji yang ku dapatkan setiap bulan selalu mengalami defisit . Mungkin memang benar bahwa ada suatu hadits Nabi yang berkata,  Rejeki yang diturunkan Allah selalu pasti akan cukup untuk hidup, tapi tidak akan cukup untuk gaya hidup. Itulah yang terjadi padaku, pada awalnya. Aku terlalu boros, dan tidak cermat dalam mengelola keu
Postingan terbaru

Pandemi ini Menyiksaku

Kita semua tahu bahwasanya negeri kita tercinta  Indonesia  ini tengah diserang wabah besar bernama nCov—atau lebih dikenal dengan  Novel Coronavirus  alias Covid-19.  Menyadur dari berbagai  literatur   wabah ini  berasal dari hewan yang kemudian ketika menular ke dalam tubuh manusia,  virus  tersebut akan berevolusi—dan inilah yang menyebabkan virus tersebut susah untuk disembuhkan, yang terlebih belum ditemukan  antivirus  atau pun formula yang tepat untuk menyembuhkannya. Virus ini sendiri pertamakali mewabah di negeri tirai bambu,  Wuhan ,  China . Maka dari itu, sebagian besar masyarakat yang telah terinfeksi nCov ini tidak dapat diselamatkan, apabila  antibodi  dalam tubuhnya tidak dapat melawan virus tersebut. Pun, jumlah kematian yang ada tidak bisa dibilang main-main. Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang tanpa ada perlawanan yang berarti.  Semua ini pun juga sedikit banyak berdampak pada kehidupan saya. Sebagai contoh, saat saya sakit gigi yang teramat sangat—sesungguhnya sak

Penulis dan Dunianya

Dunia kepenulisan itu luas. Salah satu sisi kecil dunia dimana di dalamnya banyak terdapat oleh satu atau beberapa orang yang dinamakan penulis—orang-orang yang menciptakan sebuah karya seni yang dapat dinikmati oleh banyak orang melalui kumpulan  paragraf  dan kata, yang kemudian menjadi susunan kalimat yang indah. Itulah  bakat .  Seorang penulis biasanya membutuhkan ketenangan dan lingkungan yang  kondusif  demi mendukung pekerjaannya tersebut. Karena mereka bekerja berdasarkan  inspirasi  yang mereka dapatkan—dimana terkadang inspirasi itu hanya datang tatkala lingkungan tenang dan damai.  Dulunya pun, aku pernah menjadi bagian dari para penulis itu. Hanya saja aku selalu tidak memiliki cukup banyak waktu untuk meneruskan bakatku setelah  karya  pertamaku diterbitkan. Kala itu karyaku yang berjudul “Cinta sang Tukang Pos” diterbitkan bersamaan dengan karya penulis lain dalam sebuah kumpulan kisah—dimana  royalti  dari buku tersebut disumbangkan untuk yayasan yatim piatu di sebuah d

Eksistensi, bukan Pengecut

Insan yang bekerja itu memang membutuhkan kesabaran ekstra. Iya, aku paham. Awalnya mungkin terasa menyenangkan karena kau merasa masih berada di ‘jalur’ yang benar. Tatkala kau berada di zona nyaman, maka segalanya akan terasa sangat biasa saja.  Namun, lambat laun kau akan merasa bahwa segalanya seolah bergeser. Dan, pergeseran itu sungguh sangat berpengaruh besar pada eksistensimu. Lambat laun kau akan merasa seolah seluruh pasang mata tertuju padamu—dan segala tingkah laku yang kau lakukan terasa serbasalah.  Mungkin segalanya akan terasa berbeda apabila kau tidak berada di dunia kerja yang notabene-nya penuh dengan intrik dan persaingan. Benar saja. Persaingan—adalah satu-satunya alasan yang bisa mengubah pribadi seseorang menjadi sosok yang bukan dirinya.  Jika kau bersaing dengan lawan yang tangguh, maka kau harus lebih berada di atasnya—atau kau akan kalah. Dan begitu pun sebaliknya, jika kau berhadapan dengan lawan yang memiliki level di bawahmu, maka kau harus menyembunyikan

Life is not as bitter as a cup of coffee

Jika kau merasa bahwa hidup ini sederhana atau bahkan mungkin tak sesederhana seperti yang dikatakan sebagian orang—itu sah-sah saja. Tak ada yang melarang kita berpendapat apa atau pun bagaimana, karena negeri kita saja menerapkan undang-undang tentang kebebasan berpendapat.  Tapi, inti permasalahannya bukan itu . Ini tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya—dan bagaimana mereka mendapatkan keadilan yang semestinya.  Karena, terkadang ada beberapa di antara insan manusia itu yang merasa bahwa hidup ini sungguh tidak adil. Konon katanya, memang dunia itu tidak adil, dan hidup seperti bertempur di dalam hutan belantara.  Yang kuat akan menang, dan yang kalah akan berkalang tanah   Tapi, selalu ingat bahwa manusia itu hanya makhluk lemah; yang cuma bisa berharap akan adanya keajaiban pada alur kehidupannya.  Begitu juga aku. Aku selalu merasa bahwa hidupku tidak adil. Apa yang terjadi padaku rasanya selalu tidak pada tempatnya, dan wajar jika aku tidak terima—hingga aku merasa

Play Book on Google

Pandemi   virus corona  yang akhir-akhir ini melanda negara kita  Indonesia  cukup membuat seluruh warga panik. Meski terkadang beberapa orang penting seperti salah satunya Presiden Indonesia Bapak  Joko Widodo   sudah mengatakan bahwa tidak perlu panik, namu n naluri warga sebagai makhluk yang memiliki akal sehat tetap saja merasa khawatir. Virus bisa saja dengan cepat menyebar dan menular dari satu orang ke orang yang lain hanya dalam hitungan detik.  Tidak sedikit dari beberapa masyarakat yang terdampak dan terpapar virus yang kemudian akhirnya meninggal dunia, meski ada sebagian pula yang dinyatakan sembuh dan diperbolehkan beraktivitas seperti biasanya.  Untuk itulah kemudian pemerintah Indonesia lantas menerapkan sistem 'di rumah saja'—yang artinya tidak ada aktivitas di luar rumah demi memutus rantai penyebaran virus tersebut.   Mungkin bagi sebagian orang penerapan sistem 'di rumah saja' ini bisa dilakukan karena memang tipe pekerjaan mereka bisa dilakukan di r

Marriage in 2019

Invitation of Akad Nikah, August 2019 Bagiku, pernikahan itu sakral. Tak ada hal lain yang bisa melukiskan bagaimana seseorang menjadi begitu bahagia pada hari spesial itu. Pastinya, sih. Sekarang, coba bayangkan saja, sebuah rencana yang telah dirancang sejak beberapa tahun sebelumnya bersama sang kekasih tercinta lantas bisa terlaksana dan menjadi kenyataan. Rasanya seperti mimpi. Juga, ada sedikit perasaan bangga dan seolah tidak percaya. Campuraduk jadi satu.  Seperti aku yang seolah tidak percaya bahwa bulan Agustus 2019 akan menjadi hari paling bahagiaku di sepanjang tahun ini. Sebelumnya aku dan dia hanya berteman dan sama sekali tidak ada rencana apapun ke arah itu . Dari sebuah awal aku kesepian karena aku kehilangan sosok pria idaman yang paling aku inginkan di dunia ini hanya karena sesuatu yang menurutku tidak jelas. Aku menyebutnya sebagai ' cinta yang terlewat '. Tapi, ya sudahlah, itu sudah menjadi bagian dari masa laluku, dan aku tidak ingin mengingatny