Rabu, 15 Juli 2015

Not Just Only Tomato

0

Sejak aku membaca banyak referensi, aku jadi tahu banyak manfaat tomat bagi kesehatan tubuh manusia. Padahal, tadinya aku sangat-sangat tidak suka dengan segala apapun yang berkaitan dengan sayur-sayuran. Tapi, aku memaksa dan meyakinkan diriku sendiri bahwa tomat adalah salah satu sayuran yang penting, walaupun masih banyak juga sayur-sayuran lain yang jauh lebih penting dibandingkan tomat. At least, aku telah berhasil memakan dan merasakan manfaatnya.

Awalnya pun kupikir tomat hanya enak dimakan sebagai lalapan bersama dengan salad dan mayonaise. Tapi, nyatanya tidak. Tomat bisa enak dimakan mentahan dengan hanya ditaburi gula. Hmm, yummy!! :)

Tomat yang dimakan mentah ternyata berkhasiat untuk kesehatan, kecantikan, serta baik dikonsumsi untuk wanita hamil. Dalam tomat banyak mengandung nutrisi penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, seperti vitamin A, vitamin C, vitamin K, dan vitamin B6, serta mengandung kalium, folat, thiamin, niacin, magnesium, tembaga, dan fosfor. Selain itu mengandung antioksidan yang sangat baik untuk menangkal radikal bebas yang dapat menyebabkan kanker dan penyakit jantung.

Tomat mentah yang di jus juga bisa mengobati kerontokan rambut. Awalnya pun aku juga tidak terlalu percaya, dan kupikir tomat hanya sekedar sayuran pelengkap dan hanya sebatas sayur, dan kupikir juga mengobati kerontokan rambut harus dilakukan dengan bahan-bahan kimia seperti vitamin untuk rambut, cem-ceman, dan lain-lain. Tapi tidak, aku salah. Hanya dengan memakan tomat saja sudah cukup untuk mengatasinya. Tak kusangka.

Aku menulis ini sebagai referensi saja. Untuk hasil akhirnya mungkin berbeda-beda, tergantung dari seberapa sering kadar mengkonsumsi tomat.

Selasa, 09 Juni 2015

Time Travel

0

Perjalanan waktu...bagiku adalah sesuatu yang nyata setengah mimpi. Semua manusia pastilah memiliki sebuah kenangan yang mungkin masih diingatnya atau mungkin sudah melebur menjadi satu dalam desiran angin seiring mereka bernapas. 

Namun, aku lebih suka bermimpi tentang sesuatu yang membuatku selalu tersenyum sepanjang hari ketika aku terbangun. Mimpi yang seakan sungguh terasa nyata, bisa kusentuh dengan tiap lengkuk jemariku. Seakan pula bisa kupeluk dengan kedua lenganku.

Tak ada seorang pun manusia yang tak ingin mimpinya hanya sekedar mimpi tanpa bisa dijadikannya kenyataan. Tatkala aku membaca tentang kisah perjalanan waktu, aku mulai berpikir bahwasanya jika ada waktu yang berjalan mundur, pastinya ada juga waktu yang bergerak maju atau yang biasa disebut dengan masa depan.

Aku selalu berharap bisa 'berteman' dengan waktu, yang bisa membawaku ke sebuah masa dimana aku sudah bisa berdiri sendiri dengan kedua kakiku dan aku tak lagi merepotkan orang-orang yang selama ini kurepotkan. Namun, yang terpenting adalah bahwa waktu juga bisa membawaku ke sebuah masa dimana aku bisa memiliki orang yang sangat ingin kumiliki.

K.A.M.U -- Dan, aku tak perlu mengatakan siapa dia. 

Sabtu, 23 Mei 2015

Donor Darah

19

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?

Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 

Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak diperkenankan mendonorkan darahnya bisa dicek disini.  Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendonorkan darahnya, hanya saja si pendonor harus terlebih dahulu memenuhi syarat dan tidak sedang memiliki penyakit apapun. 

Kegiatan sosial yang bisa kulakukan hanyalah mendonorkan darahku untuk sementara waktu. Suatu wadah yang masih terjangkau oleh kedua langkah kakiku. Dan, mungkin di masa yang akan datang aku akan lebih bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi. 

Rabu, 13 Mei 2015

Aku Takut

2

Pertengahan tahun sudah terjamah. Jari-jari waktu semakin dekat menggapaiku, terbuka dan menganga lebar seolah siap menelanku hidup-hidup ke dalam kegelapannya yang gelap mencekam. Aku takut. Ingin kupejamkan mata dan kututup rapat-rapat telingaku agar aku tak perlu lagi melihat dan mendengarkan suara-suara sumbang diluar sana. Suara yang hanya bisa mengolok dan menertawakan tanpa bisa memberikan solusi. Suara yang hanya bisa membuat mental seseorang jatuh dan tersudut tanpa pernah bisa tergerak lagi.

Sebenarnya kita ini apa? Manusia? Hantu? Atau apa? Atau, makhluk jadi-jadian? Siluman? Bukan, kan? 

Kita manusia. Manusia itu makhluk sosial. Makhluk yang saling bantu-membantu satu dengan yang lainnya. Makhluk yang memiliki akal sehat dan budi pekerti yang luhur. Bukan makhluk sosial tapi saling menjatuhkan dan ingin menang sendiri. 

Manusia memang memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Tapi, kedua hal polemik itu tidak bisa dijadikan tameng (perisai) ataupun alasan untuk saling mengalahkan. Yang kuat yang menang dan yang lemah yang akan kalah. Begitukah? Itu hukum rimba, Kawan. Dan kita manusia tidak hidup di dalam rimba. Kita manusia hidup secara normal dan juga melakukan hal yang normal pula. Karena, sejatinya kita manusia tidak sedang berebut rantai makanan layaknya hewan yang hidup di dalam rimba.

Aku hanya takut pada waktu yang di mataku seolah menjelma menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja ketika sudah tiba saatnya. Mungkin pelarian bukanlah hal yang terbaik, tapi pelarian bisa menjadi hal yang tepat dilakukan disaat yang juga tepat.

Rabu, 29 April 2015

Big Hope

0

Harapan terbesarku saat ini adalah waktu. Jika aku diijinkan untuk berandai-andai, kata-kata yang keluar mungkin adalah waktu. Aku berpikir bahwa mungkin seseorang memang tak bisa menghindarinya. Kedengarannya seperti galau yaa, tapi tidak. Ini bukan soal galau atau apapun lah yang semacamnya. Ini tentang kekhawatiran tingkat dewa. Oh maann!!! :(

Waktu yang kuharapkan bukan untuk diriku sendiri melainkan lebih kepada pihak lain yang notabene-nya orang terpenting dalam hidupku. Entahlah, kupikir rasanya waktu dan Dewi Fortuna rasanya belum begitu berpihak pada kami. Dari satu dan lain hal mungkin memang iya, ada satu dan lain keberuntungan yang ia berikan, tapi aku menginginkan yang lain yang lebih penting dibandingkan itu semua - atau mungkin malah yang terpenting, sepenting kita hidup, bernapas, dan menghirup udara.

Oh sudahlah, aku hanya bisa menulis dan menulis. Namun, memang iya, meski sederhana dan bisa dibilang tidak ada apa-apanya, tulisanku menyiratkan banyak harapan dan sarat makna. Ada banyak mimpi disana, yang aku sendiri pun tak sanggup menyandangnya jika seorang diri. Aku selalu membutuhkannya :)

Rabu, 11 Maret 2015

Dunia Ini (Tidak) Adil

4

Beberapa waktu lalu betapa aku marah sampai-sampai aku mengumpat dan menilai (tanpa pikir panjang) bahwa dunia ini tidak adil. Mungkin memang benar bahwa dunia ini sebenarnya tidak bisa berlaku adil bagi setiap manusia, tapi itu hanyalah segelintir orang yang memang merasa bahwa dunia ini tidak adil. Apabila, jika aku perhatikan dengan baik dan lebih ditelusuri lagi, dunia ini cukup adil. Kukatakan 'cukup' karena memang aku tidak sepenuhnya mempercayai akan keadilan tersebut.

Namun, aku sendiri telah menyadari bahwa dunia ini cukuplah berlaku adil. Meski tak kasat mata, namun aku bisa merasakannya. Contoh kecil kejadian-kejadian yang aku alami di kantor adalah sekelumit cerita yang menunjukkan keadilan tersebut. Mungkin juga Tuhan sayang padaku dengan tidak menambah beban pikiranku dengan pekerjaanku. Padahal sebelumnya aku cukup teledor dan ceroboh dalam melakukan setiap pekerjaan di kantor. 

Mungkin memang sebaiknya manusia tidak seharusnya seenaknya saja menilai sesuatu hal yang belum tentu diketahui. Sama halnya dengan hakim yang menjatuhkan sebuah hukuman tanpa mengetahui jalan dan sidak perkaranya, maka bisa dipastikan ia akan menyesal seumur hidupnya. Kuasa manusia tak lebih besar dari ujung kuku mereka sendiri, dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang luasnya seluruh jagad raya alam semesta.

"Be a better person is a better way to go for live".

Minggu, 08 Februari 2015

Sadar "Siapa Aku"

0

Semua orang pasti menyadari betapa susah seseorang mau menerima kritik atau nasihat yang membangun namun menusuk ulu hati. Kau pikir berapa banyak yang bisa benar-benar lapang bisa menerimanya? Mungkin tak lebih banyak dari jumlah jari tangan dan kakimu. Kalaupun memang bisa menerima, pastinya ia telah belajar membiasakan diri menerima segala hal dan kemungkinan terburuk dalam kurun waktu yang cukup lama.

Aku pribadi juga bukanlah sosok yang bisa mengendalikan amarah dan perasaan tidak peduli sesama dengan baik. Aku, dan manusia lainnya juga sama...bukan sosok makhluk yang sempurna. Selalu ada kekurangan dan kelebihan di diri mereka masing-masing. Namun, manusia pada dasarnya telah dibekali dengan akal dan pikiran yang sempurna sehingga mereka mampu mengendalikan diri mereka tentang bagaimana caranya harus bersikap.

Kritik, saran, atau masukan, atau apapun lah namanya itu sekilas memang nampak seperti nasihat yang membangun agar ke depannya kita bisa menjadi lebih baik dari hari ini atau hari-hari sebelumnya, dan yang terpenting kita tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama apabila kita memang melakukan sesuatu yang tidak benar. Kita seharusnya sadar akan siapa kita bagi orang lain. Bukan siapa-siapa. Hanya sesama manusia yang memiliki hak hidup dan kewajiban yang sama, yang juga sama-sama menginjakkan kaki di bumi nusantara.

Dengan kita menyadari segala sesuatunya, maka kita dengan sendirinya juga pasti dapat memahami keberadaan orang lain di sekitar kita. Aku pun demikian. Berapa kali aku selalu mengingatkan bahwa aku bukanlah sosok yang sempurna. Tidak di hadapan mereka, tidak pula di hadapan Tuhan. Siapa aku? Oh, just nothing! 

Tapi, jangan sesekali melupakan tujuan kita hidup di dunia ini sebelum kita menginjakkan kaki di dunia lain. Karena, dengan sengaja atau tidak, manusia hidup pastinya memiliki tujuan yang hendak dicapainya...apapun itu. Kesadaran akan keberadaan kita sangatlah penting, namun fokus pada apa yang menjadi titik-titik sasaran tembak kita pun juga tak kalah penting. Hanya...belajar lah menjadi sosok individu yang lebih bisa mengendalikan diri dan paham pada apa yang terjadi di sekitar kita.