Sabtu, 23 Mei 2015

Donor Darah

0

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?

Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 

Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak diperkenankan mendonorkan darahnya bisa dicek disini.  Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendonorkan darahnya, hanya saja si pendonor harus terlebih dahulu memenuhi syarat dan tidak sedang memiliki penyakit apapun. 

Kegiatan sosial yang bisa kulakukan hanyalah mendonorkan darahku untuk sementara waktu. Suatu wadah yang masih terjangkau oleh kedua langkah kakiku. Dan, mungkin di masa yang akan datang aku akan lebih bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi. 

Rabu, 13 Mei 2015

Aku Takut

0

Pertengahan tahun sudah terjamah. Jari-jari waktu semakin dekat menggapaiku, terbuka dan menganga lebar seolah siap menelanku hidup-hidup ke dalam kegelapannya yang gelap mencekam. Aku takut. Ingin kupejamkan mata dan kututup rapat-rapat telingaku agar aku tak perlu lagi melihat dan mendengarkan suara-suara sumbang diluar sana. Suara yang hanya bisa mengolok dan menertawakan tanpa bisa memberikan solusi. Suara yang hanya bisa membuat mental seseorang jatuh dan tersudut tanpa pernah bisa tergerak lagi.

Sebenarnya kita ini apa? Manusia? Hantu? Atau apa? Atau, makhluk jadi-jadian? Siluman? Bukan, kan? 

Kita manusia. Manusia itu makhluk sosial. Makhluk yang saling bantu-membantu satu dengan yang lainnya. Makhluk yang memiliki akal sehat dan budi pekerti yang luhur. Bukan makhluk sosial tapi saling menjatuhkan dan ingin menang sendiri. 

Manusia memang memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Tapi, kedua hal polemik itu tidak bisa dijadikan tameng (perisai) ataupun alasan untuk saling mengalahkan. Yang kuat yang menang dan yang lemah yang akan kalah. Begitukah? Itu hukum rimba, Kawan. Dan kita manusia tidak hidup di dalam rimba. Kita manusia hidup secara normal dan juga melakukan hal yang normal pula. Karena, sejatinya kita manusia tidak sedang berebut rantai makanan layaknya hewan yang hidup di dalam rimba.

Aku hanya takut pada waktu yang di mataku seolah menjelma menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja ketika sudah tiba saatnya. Mungkin pelarian bukanlah hal yang terbaik, tapi pelarian bisa menjadi hal yang tepat dilakukan disaat yang juga tepat.

Rabu, 29 April 2015

Big Hope

0

Harapan terbesarku saat ini adalah waktu. Jika aku diijinkan untuk berandai-andai, kata-kata yang keluar mungkin adalah waktu. Aku berpikir bahwa mungkin seseorang memang tak bisa menghindarinya. Kedengarannya seperti galau yaa, tapi tidak. Ini bukan soal galau atau apapun lah yang semacamnya. Ini tentang kekhawatiran tingkat dewa. Oh maann!!! :(

Waktu yang kuharapkan bukan untuk diriku sendiri melainkan lebih kepada pihak lain yang notabene-nya orang terpenting dalam hidupku. Entahlah, kupikir rasanya waktu dan Dewi Fortuna rasanya belum begitu berpihak pada kami. Dari satu dan lain hal mungkin memang iya, ada satu dan lain keberuntungan yang ia berikan, tapi aku menginginkan yang lain yang lebih penting dibandingkan itu semua - atau mungkin malah yang terpenting, sepenting kita hidup, bernapas, dan menghirup udara.

Oh sudahlah, aku hanya bisa menulis dan menulis. Namun, memang iya, meski sederhana dan bisa dibilang tidak ada apa-apanya, tulisanku menyiratkan banyak harapan dan sarat makna. Ada banyak mimpi disana, yang aku sendiri pun tak sanggup menyandangnya jika seorang diri. Aku selalu membutuhkannya :)

Rabu, 11 Maret 2015

Dunia Ini (Tidak) Adil

0

Beberapa waktu lalu betapa aku marah sampai-sampai aku mengumpat dan menilai (tanpa pikir panjang) bahwa dunia ini tidak adil. Mungkin memang benar bahwa dunia ini sebenarnya tidak bisa berlaku adil bagi setiap manusia, tapi itu hanyalah segelintir orang yang memang merasa bahwa dunia ini tidak adil. Apabila, jika aku perhatikan dengan baik dan lebih ditelusuri lagi, dunia ini cukup adil. Kukatakan 'cukup' karena memang aku tidak sepenuhnya mempercayai akan keadilan tersebut.

Namun, aku sendiri telah menyadari bahwa dunia ini cukuplah berlaku adil. Meski tak kasat mata, namun aku bisa merasakannya. Contoh kecil kejadian-kejadian yang aku alami di kantor adalah sekelumit cerita yang menunjukkan keadilan tersebut. Mungkin juga Tuhan sayang padaku dengan tidak menambah beban pikiranku dengan pekerjaanku. Padahal sebelumnya aku cukup teledor dan ceroboh dalam melakukan setiap pekerjaan di kantor. 

Mungkin memang sebaiknya manusia tidak seharusnya seenaknya saja menilai sesuatu hal yang belum tentu diketahui. Sama halnya dengan hakim yang menjatuhkan sebuah hukuman tanpa mengetahui jalan dan sidak perkaranya, maka bisa dipastikan ia akan menyesal seumur hidupnya. Kuasa manusia tak lebih besar dari ujung kuku mereka sendiri, dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang luasnya seluruh jagad raya alam semesta.

"Be a better person is a better way to go for live".

Minggu, 08 Februari 2015

Sadar "Siapa Aku"

0

Semua orang pasti menyadari betapa susah seseorang mau menerima kritik atau nasihat yang membangun namun menusuk ulu hati. Kau pikir berapa banyak yang bisa benar-benar lapang bisa menerimanya? Mungkin tak lebih banyak dari jumlah jari tangan dan kakimu. Kalaupun memang bisa menerima, pastinya ia telah belajar membiasakan diri menerima segala hal dan kemungkinan terburuk dalam kurun waktu yang cukup lama.

Aku pribadi juga bukanlah sosok yang bisa mengendalikan amarah dan perasaan tidak peduli sesama dengan baik. Aku, dan manusia lainnya juga sama...bukan sosok makhluk yang sempurna. Selalu ada kekurangan dan kelebihan di diri mereka masing-masing. Namun, manusia pada dasarnya telah dibekali dengan akal dan pikiran yang sempurna sehingga mereka mampu mengendalikan diri mereka tentang bagaimana caranya harus bersikap.

Kritik, saran, atau masukan, atau apapun lah namanya itu sekilas memang nampak seperti nasihat yang membangun agar ke depannya kita bisa menjadi lebih baik dari hari ini atau hari-hari sebelumnya, dan yang terpenting kita tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama apabila kita memang melakukan sesuatu yang tidak benar. Kita seharusnya sadar akan siapa kita bagi orang lain. Bukan siapa-siapa. Hanya sesama manusia yang memiliki hak hidup dan kewajiban yang sama, yang juga sama-sama menginjakkan kaki di bumi nusantara.

Dengan kita menyadari segala sesuatunya, maka kita dengan sendirinya juga pasti dapat memahami keberadaan orang lain di sekitar kita. Aku pun demikian. Berapa kali aku selalu mengingatkan bahwa aku bukanlah sosok yang sempurna. Tidak di hadapan mereka, tidak pula di hadapan Tuhan. Siapa aku? Oh, just nothing! 

Tapi, jangan sesekali melupakan tujuan kita hidup di dunia ini sebelum kita menginjakkan kaki di dunia lain. Karena, dengan sengaja atau tidak, manusia hidup pastinya memiliki tujuan yang hendak dicapainya...apapun itu. Kesadaran akan keberadaan kita sangatlah penting, namun fokus pada apa yang menjadi titik-titik sasaran tembak kita pun juga tak kalah penting. Hanya...belajar lah menjadi sosok individu yang lebih bisa mengendalikan diri dan paham pada apa yang terjadi di sekitar kita.

Minggu, 25 Januari 2015

Whatever it Takes, It's Me...

4

Ada yang bilang kalau aku ini orangnya enak diajak bicara, pandai bergaul, ramah, dan tidak pelit untuk berbagi segala sesuatunya. Tapi, ada juga yang tidak sependapat. Aku dikatai orang yang cuek, dingin, dan tidak peduli terhadap orang-orang di sekelilingnya. Dan, yang lebih menyakitkan ada yang bilang, "Kamu cuma menang cantik, selebihnya kamu nggak ada apa-apanya."

Aku hanya ingin tertawa mendengarnya. Dalam hati aku hanya berucap syukur, dan aku berusaha mencoba untuk berpikir positif. Kalian tahu? Dunia ini kejam. Rasanya aku pernah menulis tentang ini di postingan sebelumnya. Bahwa, tak seorang pun yang memiliki hati emas jika tanpa ada keinginan yang diharapkan. Mereka hanya berpikir bahwa harus ada yang menjadi imbalannya jika ia menganggap dirinya melakukan hal yang 'besar' dan berarti.

Tapi, tidak. Oke, aku ralat. Tidak semua orang seperti itu. Aku mengatakan hanya sebagian dari beberapa orang saja yang berpikiran picik sedemikian rupa. Sehingga, nantinya masyarakat semacam ini akan menyebar luas dan akan ada di setiap daerah di Indonesia.

Lalu, apakah ada hubungannya? Jelas ada! Aku cuma takut pada apa yang terjadi di kemudian hari, jika nantinya aku harus berpura-pura menjadi orang lain. No! It's not my style. Aku adalah aku. Whatever it takes, it's me

Setiap orang dari kita pasti pernah terlintas di pikiran bahwa 'mungkin enak jadi dia', atau 'dia nggak pernah berpikir gimana susahnya menjadi aku'. Padahal, tiap-tiap orang punya permasalahannya sendiri-sendiri, dan setiap permasalahan itu pastinya memiliki level kesulitan yang tanpa bisa kita ukur dengan akal terbatas kita, meskipun kita diciptakan sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi ini.

Hanya, selalu berusahalah menjadi diri sendiri. Selalu bersikap apa adanya dalam menghadapi segala sesuatunya. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita yakin dan percaya bahwa segala sesuatu itu adalah 'hal yang mungkin'.

Minggu, 11 Januari 2015

Premonition or Deja Vu?

6

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.

Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.

Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination", kalian pasti akan menyadarinya bahwa premonition ini memiliki perbedaan tipis dengan mimpi ataupun Deja Vu, yang sering kudengar dari mulut ke mulut. Mungkin adegan yang terjadi dalam film itu hanya rekaan atau 'hanya' sebuah film belaka, tapi dalam kehidupan nyata premonition itu ada dan tanpa kita sadari, kita pun mengalaminya.

Manusia memang bukan makhluk sempurna. Sehingga, Tuhan memberikan penglihatan masa depan dalam beberapa detik hidup di depanmu dan kau tidak menyadarinya, karena kau pikir itu hanya mimpi. Namun, ketika apa yang kau impikan itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, apa yang bisa kau perbuat? Menyesalinya? Pasti tidak, kan? Karena semuanya pasti akan berlalu dengan sangat cepat dan manusia tidak akan memiliki cukup banyak waktu hanya untuk mengingat setiap mimpi-mimpi mereka. Tapi pasti, semua premonition itu akan terekam secara otomatis di otak bawah sadar kalian. Ketika sesuatu terjadi, maka ingatan bawah sadar itu akan menyeruak keluar dan kau akan mengingatnya dengan jelas, "Rasanya aku pernah ngalamin ini. Tapi dimana yaa?" Pernah kan berucap seperti itu? Dan, itu pun berbeda tipis dengan Deja Vu.

Tapi, apapun namanya itu, jangan pernah sekali pun mengabaikan mimpi yang pernah kau alami. Selalu ingat apapun mimpimu. Karena dari 1 dibanding jutaan mimpimu, salah satunya adalah premonition atau Deja Vu. Dan, ketika salah satunya kau alami di dunia nyata, kau akan tahu 'kelanjutan'-nya.

Sabtu, 10 Januari 2015

Cara Aman Berbelanja Online

2

Beberapa waktu lalu secara tidak sengaja aku membaca sebuah postingan seseorang tentang penipuan yang terjadi padanya ketika ia melakukan online shopping atau berbelanja online. Terlebih dia menyebutkan sebuah nama toko online dimana aku sering berbelanja disana. Sebut saja nama toko online itu 'XY'. Padahal, tak sekali-dua kali aku melakukan pembelian secara online dan (syukur alhamdulillah) tak ada apapun yang terjadi padaku, juga pada akun bank yang aku gunakan untuk berbelanja. Dan kupikir, memang hanya toko online XY itu yang aku anggap paling aman dan terpercaya diantara sekian banyak toko-toko online yang ada.

Maka, dari wacana itu lantas aku berpikir, bagaimana bisa terjadi penipuan? Pada dasarnya toko online XY hanya berperan sebagai perantara antara penjual dan pembeli. Hal ini dimaksudkan agar transaksi tidak langsung ke penjual, apabila misalkan saja ada penjual yang ingin berlaku curang. Sehingga, tindakan penipuan bisa ditekan. Dan, ketika barang yang kita pesan tidak tersedia cukup stok, maka uang yang telah kita bayarkan tidak akan hilang karena akan kembali ke saldo akun toko online XY milik kita sendiri, yang masih bisa kita gunakan lagi ketika kita melakukan pembelian berikutnya. Sebaliknya, apabila barang yang kita pesan sudah kita terima dengan baik, maka barulah si penjual mendapatkan uang dari hasil penjualannya yang akan ditransfer oleh toko online XY tersebut setelah kita menyatakan bahwa 'barang pesanan sudah diterima' pada akun milik kita. Seperti itulah cara kerjanya. Sebenarnya cukup fair, bukan? Dan, seharusnya pula si pihak pembeli lah yang diuntungkan dalam hal ini.

Sekarang, aku akan menuturkan beberapa hal yang harus diketahui oleh calon pembeli ketika akan berbelanja online, diantaranya :

  1. Pastikan dengan benar bahwa toko online yang dipilih adalah toko online yang terpercaya dan memiliki track record baik di mata masyarakat pencinta online shop. Termasuk di dalamnya, 90% persen pelanggan tidak pernah dikecewakan, cara pembayaran yang aman, memiliki bermacam-macam fasilitas pembayaran sehingga pembeli bisa memilih cara pembayaran mana yang menurut mereka mudah dan tidak merepotkan, serta cek testimonial masyarakat yang pernah menggunakan layanan toko online tersebut.
  2. Cek kelengkapan barang yang dijual di toko online tersebut. Jika, misal, barang sederhana yang biasanya dijual di toko-toko online pada umumnya saja tidak ada disana, bisa jadi itu bukan toko online yang bagus.
  3. Cek kredibilitas toko online tersebut disini. Tulis nama toko online yang akan digunakan untuk transaksi dan cek semua testimonial dari pengalaman orang-orang yang pernah berbelanja disana. Disana kalian juga akan bisa melihat peringkat atau rating seberapa layak toko online tersebut bisa dipercaya.
  4. Lalu, hal penting lain yang juga harus diperhatikan adalah review yang bukan berasal dari internet, melainkan pembicaraan teman-teman dari mulut ke mulut. Dari situ kalian juga akan bisa mendapatkan rekomendasi toko online mana yang menurut mereka bagus dan terpercaya.
  5. Terakhir, jangkauan pengiriman. Tiap-tiap toko online biasanya bekerjasama dengan beberapa jasa pengiriman yang bisa menjangkau seluruh kota atau pulau di Indonesia. Cek dulu jasa pengiriman apa yang bekerjasama dengan toko online tersebut, dan apakah jasa pengiriman tersebut bisa menjangkau ke daerah rumah kalian. Juga, dimana sekiranya jasa pengiriman tersebut memiliki kredibilitas bagus yang tidak akan merusak barang kalian sampai di rumah dengan utuh dan tak rusak sedikit pun. Jangan lupa, cek juga apakah jasa pengiriman tersebut menyediakan asuransi untuk barang elektronik atau tidak. 
Mungkin hanya itu saja yang bisa aku sampaikan. Postingan ini menurut pengalaman pribadi aku sendiri selama berbelanja online dan daerah rumah aku yang terkadang tidak aku temukan ketika aku mengecek salah satu jasa pengiriman yang bekerjasama dengan salah satu toko online saat aku berbelanja, dan aku terpaksa membatalkan transaksiku disana. 

Jadi, jangan takut berbelanja online yaa. Semuanya akan aman dan baik-baik saja kalau kita tahu tips dan triknya agar jauh dari kata penipuan :).

Kamis, 08 Januari 2015

Buruk Tak Selalu Buruk

6

Kalau membaca judul yang aku tulis, kira-kira apa yang pertamakali terlintas di pikiran kalian? Pasti banyak hal, kan? Salah satu yang aku pikirkan adalah kisah dongeng anak-anak 'anak itik yang buruk rupa'. Anak itik itu selalu dikucilkan dan dijadikan bulan-bulanan oleh saudara-saudara dan teman-temannya lantaran bulunya yang berbeda dari itik-itik pada umumnya. Tapi, dibalik buruk rupanya itu tersimpan hati yang tulus.

Inti sebenarnya hanyalah pandangan seseorang yang sejatinya tak bisa diukur hanya dalam satu kedipan mata. Dunia ini terlalu luas dan ada banyak hal yang beberapa diantaranya terlihat sepele namun sarat makna.

Sekarang, kalau aku tanya, pernahkah juga kalian dengar istilah 'don't judge the book just from the cover'? Sudah tidak asing, kan? Beberapa mungkin menjawab 'ya'. Memang, kalau kita hanya menilai sebuah buku hanya dari penampakan sampul yang sempurna dan judul yang memukau, tetapi isi bukunya tak lebih bagus dari karangan dan khayalan penulis amatir ya untuk apa? Bandingkan kalau kita, misalkan saja, membeli buku yang penampakan sampul tidak begitu sempurna dan judul serta sinopsis cerita yang sekilas nampak biasa, akan tetapi isi bukunya mampu menarik lidah kita untuk berkata 'wow! buku ini hebat!'

See? Artinya apa? Bahwa memang kita tidak seharusnya menilai seseorang hanya dari tampak luarnya saja, tapi apa yang tersimpan dalam hatinya. Terkadang penampakan luar yang biasa-biasa saja, namun dari dalam mampu memancarkan cahaya kedamaian yang menyejukkan sukma. Dan, itu tidak bisa kita dapatkan dengan mudah. Semua orang pasti ingin mendapatkan predikat baik di mata orang lain. Tapi, berapa banyak diantara orang-orang yang kau kenal menganggapmu baik juga? Pasti tak lebih banyak dari jumlah keseluruhan jarimu. Orang selalu berpandangan negatif terhadap orang lain yang ada di sekitarnya, terlebih jika kedua orang itu tak saling mengenal kepribadian masing-masing. Pada akhirnya hanya akan menuai cemoohan. Itu adalah tipikal manusia pada dasarnya, dan tak ada yang bisa memungkirinya.

Kau tahu? Dunia ini penuh dengan manusia-manusia 'jahat' dan sarat ketidakadilan. Persentasenya dengan mereka-mereka yang berhati emas tak lebih besar dari seujung kuku jarimu. Sungguh kecil diantara miliaran masyarakat penghuni Bumi.

Karenanya, bersyukurlah jika kau telah menemukan malaikat berhati emas yang jika bersamanya kau merasa damai dan tenang. Setidaknya malaikat yang mampu melindungimu dari terpaan dan pengaruh-pengaruh buruk. Suatu 'hadiah' kecil dari Tuhan yang jika kau pandai mensyukurinya, Tuhan akan memberimu lebih dan lebih lagi.

Senin, 05 Januari 2015

Learning From the Stars

2

Pernahkah kalian mendengar istilah seperti yang aku tulis di judul postingan ini, 'learning from the stars'? Rasanya istilah ini bukan yang pertamakalinya kalian dengar, kan? Banyak juga buku ataupun novel yang sudah menuliskannya sebagai sebuah pembelajaran.

Dalam satu kehidupan, manusia akan terus belajar dan belajar. Tak peduli berapa umurmu atau siapa kamu, dan apa statusmu. Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar. Jika kau memiliki sebagian atau remah-remah sisa waktu, gunakanlah untuk belajar. Belajar tak harus membuka buku, kan? Apapun bisa kau pelajari untuk menambah wawasan dan memperluas cara pandangmu tentang hidup yang tengah kau jalani. Dunia ini luas, dan sungguh luas. Jika pemikiranmu tidak berkembang dan cenderung stagnan, kau tidak akan bisa melihat betapa luas dunia ini dan betapa banyak bermacam-macam seni variasi hidup yang bisa kau dapatkan jika kau mau 'membuka mata lebih lebar' terhadapnya.

Pembelajaran dari Bintang. Kau tahu? Bintang itu tidak kecil seperti yang sering kau lihat dari sudut bumi yang terkecil. Namun, bintang itu besar sebesar matahari yang setiap pagi bisa kau rasakan hangatnya di permukaan kulitmu. Bahkan, matahari pun sebenarnya masuk dalam kategori 'bintang'.

Artinya, bintang yang terlihat kecil ternyata tak sekecil kelihatannya, tapi bintang memiliki peranan besar bahkan cenderung utama dalam kehidupan manusia. Sama halnya dengan manusia. Tak seharusnya manusia menganggap diri mereka kecil. Orang boleh memandang kita kecil, namun buktikan pada mereka bahwa kita tak sekecil atau seremeh yang mereka pikirkan. Buktikan pada mereka juga bahwa kita memiliki peranan besar bagi sebagian orang yang ada di sekeliling kita. Dari sanalah, maka orang akan menganggap kita sebagai 'bintang' yang kecil namun memiliki sinar yang terang-benderang.