Senin, 10 November 2014

Pahlawan-pahlawan Masa Kini

Bulan November mungkin identik dengan Hari Pahlawan. Yes, correct, tapi bukan itu poin pentingnya. Melainkan, jiwa kepahlawanan itu sendiri. Sudahkah kita memilikinya? Tiap orang kujamin pasti ingin menjawab 'sudah', tapi dalam kenyataannya nol sama sekali. Padahal, seorang pahlawan tidak mengenal kata menyerah dan tak ada kata putus asa dalam kamus hidupnya. Jadi, artinya, kalau kita masih terus saja mengeluh, menyerah, pasrah pada nasib, dan malas melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan cepat tanpa menunda waktu, kita bukanlah seorang pahlawan. Setidaknya, belum bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan.

Tiap-tiap manusia seharusnya bisa belajar dari manusia lainnya untuk mendapatkan sebuah pembelajaran baru. Pembelajaran sejenis ini tidak membutuhkan guru layaknya saat kita berada di bangku sekolah atau yang semacamnya. Ini merupakan pembelajaran dari mulut ke mulut yang kita dapatkan saat kita melihat orang lain bisa melakukan hal yang 'lebih' dibandingkan kita. Maka, dari sinilah yang nanti pada akhirnya akan mendatangkan sebuah ilmu baru dan kemandirian.

Hari ini selagi masih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, yuk kita pupuk jiwa kepahlawanan kita! Indonesia memang bukan negara maju, pun bukan negara terpuruk. Negara kita berada di antaranya. Kalau diibaratkan makanan antara enak dan nggak enak, kita pasti bilangnya 'lumayan', haha, ini gak penting dan cuma pengandaian aja. Maka, kita sebagai bangsa yang memiliki nasionalisme tinggi harus dapat mengembangkan jiwa kreatifitas kita untuk membuat bangsa ini lebih dari sekedar predikat 'lumayan'.

Ini tahun 2014, dan kita adalah pahlawan-pahlawan dan pejuang di tahun 2014, atau bahasa kerennya adalah pahlawan masa kini. Tanpa kita, bangsa ini bukanlah apa-apa, dan tanpa kita pula, bangsa ini tidak akan besar dan mempertahankan presisinya sebagai negara berkembang.

"Selamat Hari Pahlawan 10 November 2014 untuk semuanya!! Jangan pernah menyerah untuk apapun yaa!!" :)

Kamis, 06 November 2014

Fenomena Lulusan Sarjana

Beberapa waktu lalu harian pagi Jawa Pos mengulas tentang banyaknya pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana. Oh God! Sembari membaca fenomena itu lantas kepalaku dipenuhi beribu macam pertanyaan yang aku sendiri tak mampu menjawabnya. Tapi, dari sekian banyak pertanyaanku, ujung-ujungnya pasti berbunyi, 'bagaimana bisa'? 

Sekarang kalian tahu, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Semuanya akan menjadi mungkin jika memang itu dimungkinkan. Artinya, fenomena pengangguran bertitel Sarjana itu bisa terjadi karena mereka para lulusan tersebut tidak memiliki mind-set yang benar.

Mencari pekerjaan mungkin memang melelahkan (ya aku tahu, aku pun juga pernah merasakan kelelahan yang paling lelah sekali pun, lelah tingkat dewa katanya, #ahlebay, haha!!), tapi mencari pekerjaan pun juga tidak bisa instan. Dalam artian, instan yang bisa langsung ditempatkan di posisi tinggi dengan salary yang 'wah'. Oh Man, memangnya itu perusahaan nenek moyangmu, gitu? So, this is a BIG NO! Bukan kandidat seperti itu yang diinginkan perusahaan. Melainkan kandidat yang bisa menerima statusnya sebagai newbie dan bersedia ditempatkan di posisi apapun sesuai dengan karakteristiknya dengan salary yang masih dalam batas wajar. 

Namun, fenomena ini juga ada sangkutpautnya dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia di kota besar semacam Surabaya. Kebutuhan akan tenaga kerja memang banyak, tapi tenaga kerja yang bagaimana yang sedang mereka butuhkan itu yang membuat lapangan kerja seolah terasa sedikit dan terbatas.

Pola pikir atau mind-set seperti ini yang memang seharusnya diubah. Masyarakat kebanyakan berpikir bahwa bekerja kantoran itu enak, hidup terjamin, kesehatan ditanggung perusahaan, dan lain-lain-dan lain-lain. Padahal, tak selamanya bekerja purna-waktu seperti itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Memang, dalam segi salary terjamin dan selalu statis di tiap bulannya, dibandingkan jika berwirausaha yang kadang naik-turun. Tapi, justru dengan berwirausaha itulah kita bisa belajar melatih kedisiplinan diri dan tanggungjawab atas pekerjaan yang kita lakukan sendiri. Kita akan merasa tertantang dengan pesaing-pesaing bisnis yang mungkin muncul. Dan, jika kita sukses menjalankan bisnis kita sendiri, untung yang didapat bahkan akan jauh melebihi kalau kita hanya bekerja purna-waktu. And, this is the point! 

Fenomena bertambahnya jumlah pengangguran di Surabaya bertitel Sarjana bisa berkurang apabila mereka mampu mengubah mind-set mereka bahwa bekerja berwirausaha akan jauh lebih baik daripada bekerja purna-waktu yang bekerja selalu terikat waktu dengan gaji pas-pasan. 

Miris juga saat membaca berita seperti itu. Kalian tahu? Tak mudah meraih gelar Sarjana dan mereka harus mengorbankan segala apapun (mungkin) hanya untuk mendapatkan selembar kertas bersegel bertuliskan titel gelar yang tersemat di belakang nama mereka. Apa yang ada di benakmu ketika seremonial itu berakhir, dan kau mendapati dirimu hanya duduk berdiam diri di rumah tanpa kegiatan? Tidak bekerja dan tidak pula memulai usaha apapun? Sungguh menyedihkan, bukan? Padahal, sebenarnya banyak sekali yang bisa kau lakukan dengan kemampuan, kepandaian, dan pendidikan yang telah kau dapatkan selama di perkuliahan untuk menjadi orang sukses tanpa harus sibuk melamar pekerjaan kesana-kemari. And, this is a second point!

"Lagi, kutekankan, waktu takkan berkompromi denganmu kalau kau tidak berusaha menjadikannya sahabatmu. Tetap semangat!!" :)

Senin, 03 November 2014

Heroes at Ourself

Yah, this is November! Siapa yang sangka waktu begitu cepat berlalu? Kalau menurutku, waktu seolah melesat bak pesawat jet, whuusshh!! Tidak peduli apapun yang (mungkin) menghalanginya. Eh, apa yang menghalanginya? Siapa yang ingin menghalangi laju sang waktu? Tentu saja, kita!

Sadarkah kita bahwa selama ini kita 'berperang' dengan waktu? Menanggalkan semua keegoisan kita demi mengejar sesuatu lantaran waktu yang memaksa kita untuk melakukannya? Kukatakan itu salah satu bentuk keegoisan, karena memang tiap-tiap individu memang memiliki sifat-sifat egoisme--hanya saja mungkin porsinya untuk tiap individu berbeda-beda tergantung dari pola hidup yang mereka jalani--sehingga, ketika mereka berkutat dengan waktu dan mengejar impian (katakanlah seperti itu), maka mereka akan menghentikan sementara aktivitas tertentu yang sedang ia lakukan demi meraih impian tersebut, karena ia sadar waktu takkan pernah kembali dan kesempatan emas takkan pula menghampirinya kali kedua. 

Dan, inilah sebuah titik dimana porsi kepahlawanan dalam diri kita diperlihatkan. Dalam arti harfiah, pahlawan tidak melulu diartikan sebagai seseorang pemberani yang mati dalam medan perang. This is a big FALSE! 

Setiap manusia diciptakan dengan komposisi yang nyaris sama, baik dari segi jasmani maupun rohani. Dan, sifat kepahlawanan atau keberanian dalam diri manusia sudah ter-install dengan sempurna sejak kita menginjakkan kaki di dunia ini. Jadi, sungguh tidak dibenarkan jika kita berucap, 'Ini jaman udah merdeka, ngapain sih masih harus perang'? Iya, jaman memang sudah merdeka, tapi ada satu musuh yang masih harus kau perangi : waktu. Dan, sampai kapan pun waktu akan selalu menjadi musuh kita, apabila kita tidak pandai mengelolanya. 

Itulah kenapa aku bilang bahwa ada jiwa kepahlawanan dalam diri kita masing-masing. Karena Tuhan juga menciptakan waktu untuk kita perangi dan menjadikannya musuh kita. See? Kalau kau tidak pandai memanfaatkan jiwa kepahlawananmu untuk memerangi waktu, maka waktu yang akan menaklukkanmu. Rela diperbudak waktu? Jika tidak, maka jadilah pahlawan bagi dirimu sendiri!

Happy November to all of you!! :)

Senin, 27 Oktober 2014

Time is Uncompromised

Pernah nggak sih kalian merasa menyesal dengan waktu yang udah berlalu? Pasti pernah! Bohong kalau bilang 'tidak pernah'. Dan, pastinya kata pertama yang kalian ucapkan adalah, "Kenapa ya nggak dari kemarin-kemarin?" Is that true? Absolutely, YES!! :)

Haha, itulah manusia. Itulah kita. Tipikal manusia Indonesia ya seperti itu. Selalu melakukan segala sesuatunya berdekatan dengan deadline atau hari H, padaahal jika dilakukan jauh-jauh hari segala sesuatunya akan bisa lebih terorganisir. Betul? 

Bandingkan saja dengan masyarakat Jepang. Hidup mereka seolah sudah terjadwal. Artinya, dalam otak mereka seperti sudah ada list khusus tentang apa yang harus mereka lakukan saat ini, beberapa jam ke depan, beberapa hari sesudahnya, atau bahkan beberapa bulan ke depan! Aku bicara seperti ini bukan hasil imajinasiku, tapi memang kenyataan. Bertahun-tahun aku bekerja dengan mereka dan aku seperti robot kebakaran jenggot. Bagaimana tidak? Aku diharuskan untuk mengerjakan pekerjaan dari mereka untuk akhir bulan November dan awal Desember! See? Sekarang masih bulan apa? Bahkan, bulan Oktober pun belum juga berakhir.

Itu tadi satu contoh tentang tipikal dan pola hidup manusia. Dan, sekarang jika aku ingin menerapkan pola hidup seperti itu jelas tidak mungkin. Salah satu ciri manusia adalah majemuk, yang artinya berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama. 

Lalu, apakah pola hidup tersebut berpengaruh pada waktu? Again, absolutely YES! Sekarang, jika kita menunda-nunda pekerjaan, apa tidak ada hubungannya dengan waktu. Pastinya ada, dan hubungan dengan waktu begitu kental seperti adonan tepung bercampur dengan telur #ehapasih :D

Jika sudah menyangkut waktu, kita toh tidak bisa apa-apa. Waktu takkan bisa diputar kembali. Tak ada ceritanya waktu berjalan mundur, kecuali kalau kau hidup di negeri dongeng. Tapi, waktu hanya bisa diperkirakan untuk masa yang akan datang. Kita bisa menebak dan merencanakan ketika waktu sudah sampai di perkiraan itu. Dan, apa yang terjadi saat itu adalah hasil dari apa yang telah kita lakukan dan usahakan di waktu sebelumnya. 

"Always be remembered that time is never be compromise. So, take your time wisely".

Senin, 20 Oktober 2014

Walking Paradise

Tadinya aku berpikir bahwa mungkin aku tak akan menulis lagi, lantaran belakangan aku sering 'meninggalkan' blog-ku kosong tanpa ada tulisan satu pun. Tapi, entahlah, mungkin juga kegemaranku akan dunia tulis-menulis seolah mematahkan semuanya. Secara tak sengaja, jari-jariku mulai merangkaikan kata demi kata hingga membentuk sebuah tulisan. 

Dan, inilah duniaku.

Dunia dengan segala keunikan di dalamnya. Tapi mungkin juga tak demikian bagi orang lain. Aku tahu bahwasanya setiap orang memang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, pun itu tak bisa dipaksakan. Hanya saja, tahukah mereka, mengertikah mereka bahwa mereka pun memiliki 'sesuatu' yang bisa mereka sebut dengan 'walking paradise'?

Oh, Man! Yang aku tahu hanyalah, aku memiliki dunia yang sungguh indah... seolah aku bisa menggenggamnya dengan kedua belah tanganku. Begitu nyata. Begitu indah.

Kau tahu apa arti keindahan? Keindahan yang bukan hanya melulu tentang pemandangan eksotis nan permai, tapi lebih... dan lebih dari sebuah kata 'eksotis'! Juga bukan bagian dari mimpi. This is not a dream! Aku tidak sedang berbicara tentang mimpi, atau mimpi yang masih dibalut lagi dengan mimpi.

Ini tentang segalanya!

Segala yang aku sebut dengan 'walking paradise'. Ya, semacam surga dunia... surgaku, my paradise. Dan, disinilah aku sekarang... menginjakkan kaki di tempat ini, dan menemukan sesosok pangeran impian yang mampu mengubah dunia kelamku menjadi buliran salju yang menyejukkan sukma.

"I Love You, G!"

Selasa, 16 September 2014

Counting Down

Sebenarnya aku paling tidak suka menghitung hari. This is a big NO for me! Tapi, yah, ada kalanya juga aku memang 'harus' melihat kalender, haha!! Bukan karena apa-apa sih, hanya saja sebuah anniversary atau peringatan itu memang diperlukan.

Yap, this is SEPTEMBER!!

Flashback...

Setahun sudah aku berhasil melalui 'masa-masa kritis'-ku, sebuah masa yang lalu dimana aku merasa bukanlah aku. Aku seperti hidup tapi jiwaku mati. Aku seperti bernapas tapi jantungku berhenti berdetak. Dan, seolah aku tak bisa merasakan apakah aku masih hidup ataukah sudah mati. Semuanya seperti terasa sama bagiku.

Tapi, kemudian aku menemukan setitik cahaya di sebuah keramaian manusia dengan napas yang masih utuh. Cahaya itu begitu terang namun tidak menyilaukan. Aku terkesan. Aku terpana. Dan, seketika gejolak nuraniku kembali hidup. Aku jatuh cinta (lagi). Sosok itu mampu membangkitkan apa yang seolah kurasakan sudah mati dan terkubur dalam-dalam. Sosok itu istimewa--ya, aku tahu.

This Moment...

Dan, ini adalah our month. Our Sweet September. September dimana cintaku berlabuh, pada sebuah dermaga indah bertahta berlian. Sebuah peringatan yang mahaindah. Tak henti-hentinya kuucap syukur dalam hati atas segala keagungan ini. Jiwa ini kembali menjadi satu jiwa yang utuh tak kurang suatu apa pun. Dan, untuk pertama kalinya, aku berani berucap, "Aku bahagia."

"Happy September!!" :)

Kamis, 28 Agustus 2014

Nahkoda

Jadi, seperti ini ya rasanya menghitung hari. Aku jadi ingin tertawa, haha!! Aku bahagia, tapi aku juga tetap mengucap syukur dan berserah diri. Mungkin tiada henti bibirku mengucap rentetan kata-kata doa. Banyak yang aku inginkan. Namun, hanya satu hal yang menjadi prioritasku saat ini.

Aku tak ingin melihat kalender atau apapun yang berhubungan dengan hari, bulan, atau yang semacamnya. Hanya akan membuatku risau. Oke, aku tahu aku galau, tapi aku bukan galau karena cinta. Otakku hanya berorientasi pada satu titik. Satu titik yang akan berpengaruh besar pada masa depan dan hidupku.

Apa yang dibutuhkan seseorang dalam hidup? Pasti salah satunya adalah kebahagiaan, kan? Dan, untuk mencapai kata 'bahagia' itu bisa ditempuh dengan berbagai macam cara, yang salah satunya adalah menata hidupmu dan memiliki nahkoda yang bisa membawamu mengarungi hidup hingga akhir hayat.

Kini, aku tengah mempersiapkan apapun yang berkaitan dengan masa depan. Sebenarnya tidak membutuhkan konsentrasi apapun, tidak seperti kita jika sedang menghadapi ujian masuk sekolah. Hanya membutuhkan kesabaran dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Seperti apa yang selalu diucapkan olehnya ketika aku sedang tidak berada dalam 'kondisi fit' - sang nahkoda cinta.

Rabu, 30 Juli 2014

One Spot

Seperti sebelumnya dan seperti yang sudah-sudah, aku tak pernah menyangka aku akan sampai di titik ini. Rasanya seperti mimpi, sungguh. Tapi, bukankah memang seperti itu? - bahwa manusia memang tak pernah tahu apa yang dirahasiakan dan dihadiahkan Tuhan untuknya? Asal manusia itu mau berdoa, berusaha, dan memohon dengan kesungguhannya, apapun yang diinginkannya akan terkabul. Tapi, aku takkan pernah berhenti mengucap syukur atas apa yang telah dihadiahkan-Nya untukku. Semua ini sungguh indah, dan tak pernah kuduga.

Sebuah titik dimana aku terjatuh dan kemudian aku menemukan harapan baru untuk masa depanku. Sebuah titik dengan bongkahan cahaya yang mahaterang, bersiap menuntunku menuju gerbang itu. Ini adalah anugerah. Dan, aku takkan pernah berhenti atau lupa kepada siapa aku harus mengucap syukur atas semua ini.

Jika kau bertemu Tuhan dalam tidurmu,aku titipkan pesan atas pertanyaanku,apakah Dia membuatmu dari semacam zat candu? Aku selalu merindukanmu...
(From : Soulmate.com by Jessica Huwae)

Kamis, 24 Juli 2014

Flashback Sebelum Memaafkan

Bergabung di sebuah komunitas itu sebenarnya bukan tipeku. Aku memang suka menulis dan membuat sebuah karya tulis. Tapi, aku kurang suka jika aku harus bergabung dengan komunitas penulis atau yang semacamnya. Itu mungkin ya sebabnya aku gagal mewujudkan impianku menjadi penulis menjadi kenyataan, hehe, oke lupakan! Aku lebih suka mempublikasikan karyaku dengan caraku sendiri. Seperti, yang pernah ada (sampai sekarang juga mungkin masih ada) sebuah situs dimana kita sebagai penulis bisa menerbitkan tulisan kita sendiri menjadi sebuah buku atau novel, layaknya penulis terkenal. Hanya saja, hingga saat ini aku belum sempat mencobanya, karena memang aku sudah jarang sekali menulis. Bukan karena malas, tapi aku tak punya cukup banyak waktu. Kecuali, jika ada jatah liburan panjang. 

Baiklah, kembali ke pembicaraan komunitas. Menurutku, sebuah komunitas bisa sangat menguntungkan dan bisa juga merugikan. Oke, semua hal memang ada plus-minusnya, aku percaya itu. Dan, semua hal juga pastilah ada untung-ruginya. Begitu pula lah yang terjadi padaku.

Aku mengaku bahwa aku memang beruntung bisa bergabung di sebuah komunitas (yang takkan kusebutkan namanya dan cukup hanya aku yang tahu). Aku pun berhutang banyak ilmu disana. Kemampuan menulisku memang tak pernah surut, namun aku merasa bahwa ilmu tentang dunis tulis-menulis itu sendiri yang bertambah.

Hanya saja, sebuah komunitas harus selalu bertemu dengan banyak kelompok orang per orang. Dan, mereka memiliki karakter dan perilaku yang berbeda-beda. Sifat dasar manusia adalah masyarakat yang majemuk. Karenanya, sudah sepantasnya jika kita harus bisa menerima segala perbedaan yang ada.

Aku tahu dan aku sadar itu semua. Hanya, terkadang aku merasa risih dan seolah merasa terganggu dengan apa yang ada di sekitarku. Aku merasa bahwa privasiku seakan terusik. Pada kenyataannya, aku tak pernah mengusik privasi siapapun. But, why? Yang ada justru malah aku yang tersudut dan sempat kehilangan milikku yang paling berharga.

Tapi, sudahlah. Itu adalah masa lalu. Aku hanya sedikit flashback. Sebelum hari yang fitri menjelang, aku ingin melupakan semuanya setelah sebelumnya aku memaafkan semuanya. Jadi, setelah aku menguburnya dalam-dalam aku tak perlu lagi mengingatnya. Aku hanya perlu belajar dari semuanya.

Sabtu, 19 Juli 2014

Islamic Day 2014

Bagaikan naik pesawat jet, hari lebaran sudah tinggal sebentar lagi. Setiap tahun hari lebaran selalu maju sekitar 11 hari. Jadi, tidak mengherankan juga jika lebaran kali ini jatuh pada bulan Juli. Semua orang tahu hari lebaran sama artinya dengan hari kemenangan. Oke, aku tahu apa maksudnya itu. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, maka semuanya bisa terbayarkan dengan perayaan hari lebaran. Itu adalah arti pada umumnya.

Kemudian, arti pada khususnya bisa jadi berbeda-beda untuk tiap-tiap individu. Tergantung dari apa yang mereka ingin capai di hari kemenangan tahun ini. Apakah menjadi lebih baik ataukah masih perlu perbaikan disana-sininya.

Sama juga denganku. Tiap tahun aku selalu menargetkan sesuatu yang harus aku capai di tahun berikutnya. Mungkin ada beberapa yang memang harus ditunda hingga tahun depan lagi. Tapi, dengan tidak mengurangi apapun yang menjadi porsi target itu sendiri.

Aku pun yakin, bahwa tak hanya aku saja yang memiliki impian yang bukan sekedar angan. Kamu juga. Semua orang juga. Iya, kan? Hanya, mungkin saja, cara untuk mewujudkan impian mereka dan caraku mewujudkan impianku berbeda. Itu sudah pasti, karena sifat manusia itu universal dan independen.

Ramadan tahun ini bagiku adalah ramadan terindah dan paling banyak memberikan kesan. Terutama, karena aku menghabiskan satu bulan berpuasaku bersamanya. Sungguh membahagiakan. Tak ada yang lebih berkesan selain berpuasa dengan orang terkasih, kan? Dan, ramadan tahun ini memang ramadan yang paling ber-momentum. Kenapa? Karena tepat pada ramadan ini pula Piala Dunia 2014 digelar, dan tim jagoanku, Jerman, yang notabene-nya baru menjadi juara dunia tiga kali itu memenanginya pada laga yang digelar 14 Juli lalu di stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil. Amazing! :D

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H! Mohon Maaf Lahir dan Bathin..."

Rabu, 09 Juli 2014

Indonesia on President's Election Day 2014

Juli 2014. 
Masa kepemimpinan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia akan segera berakhir. Dan, beliau sudah tidak mungkin lagi mencalonkan dirinya di pemilihan presiden untuk tahun berikutnya, meski mungkin banyak diantara masyarakat yang masih menginginkannya kembali menjabat. Ini adalah jaman orde baru. Bukan lagi di jaman Bapak Soeharto dimana beliau bisa menjabat sebagai presiden hingga 3 dekade berturut-turut.

Jika kita mau flashback ingatan kita ke jaman itu, tentunya kita tahu dan sadar apa yang salah dengan negeri ini hingga sampai mengalami keterpurukan, terutama dalam aspek Ekonomi. Banyak terjadi huru-hara, dan keadaan negara kacau-balau. Seolah kita kembali ke jaman penjajahan. Ya, mungkin saja tahun itu adalah tahun penjajahan dalam versi lain. Indonesia dijajah oleh rakyatnya sendiri. Dijajah oleh keegoisan bangsa ini sendiri. 

Tapi, tak ada asap jika tak ada api, dan tak ada akibat jika tak ada sebab. Itu semua adalah masa lalu bangsa ini. Masa lalu kita semua. Dan, dari itu semua kita bisa belajar. Belajar untuk sama-sama memperbaiki pilar-pilar bangsa yang nyaris roboh. 

Semoga saja dengan pemilihan presiden untuk masa jabatan tahun 2014 hingga 2019 ini bisa membuat Indonesia menjadi semakin baik dan bisa berkompetisi serta bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya di dunia. Itu adalah mimpi dan harapan kita semua, kan?

Senin, 23 Juni 2014

Diskriminasi

Apa itu diskriminasi? Jika dibahas rasanya agak janggal. Dalam pikiranku, atau mungkin juga semua orang yang menentang diskriminasi, mungkin berkata, "Hari gini masih ada diskriminasi? Tahun berapa nih?" Seperti hidup di jaman dimana kesemuanya masih dibawah otoritas tertentu. Tapi, mungkin memang benar begitu atau sistem itu sudah berubah seiring dengan silih bergantinya pemerintahan? Entahlah. Namun, yang pasti diskriminasi itu jelas masih merajalela hingga saat ini.

Diskriminasi memang bisa dilihat dari banyak bentuk, dan tergantung dari jenis diskriminasi apa dan di lingkungan yang bagaimana. Jelas, orang per orang yang menjadi korban diskriminasi atau mereka yang diperlakukan secara berbeda dari orang lainnya akan merasa tidak nyaman. Orang-orang seperti ini cenderung murung dan menyendiri. Mereka akan selalu merasa tidak percaya diri dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas sumber dayanya. Terutama, jika orang-orang ini adalah masyarakat yang tergolong dalam usia produktivitas aktif, yakni mereka yang berada dalam rentang usia 20 hingga 35 tahun.

Padahal Undang-Undang negara yang mengatur soal penghapusan diskriminasi sudah jelas-jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Tapi, kok ya masih ada saja di berbagai tempat-tempat di wilayah negeri ini yang masih mengagungkan diskriminasi seperti ini. Atau, mungkinkah sebagian dari mereka tidak paham tentang hak asasi manusia? Karena, hal ini pun sedikit banyak berkaitan dengan hak asasi manusia.

Cukup merisaukan sebenarnya. Tapi toh, banyak dari mereka tidak memahamiya. Banyak pula dijumpai pemberlakuan diskriminasi yang berakibat buruk pada jiwa dan psikologis pada korban diskriminasi. Hingga pada akhirnya banyak pula dijumpai dari mereka para korban mencetuskan kalimat berbahaya, "Jadi, kalo aku mati, nggak ada yang peduli juga?" 

Seharusnya, jika mereka sadar akan hukum dan sisi psikologis manusia, diskriminasi tak perlu terjadi. Toh, untuk apa? Tidak ada manfaatnya. Yang ada hanyalah kerugian - rugi fisik, rugi pikiran, dan rugi tenaga, yang seharusnya ketiganya bisa digunkan untuk memikirkan hal lain.

Jadi, masih perlukah diskriminasi dipertahankan??

Rabu, 18 Juni 2014

Antara Iseng dan Sadar

Rasanya lama aku tidak update blog ini. Kesibukanku rupanya sudah cukup menyita waktu. Padahal baru sekitar bulan Mei kemarin aku terakhir menulis. Tulisan hari ini pun kubuat saat mataku sudah setengah tertutup kantuk, setelah sebelumnya aku iseng mengganti template blog ini. Sekedar ganti suasana, kupikir.

Banyak yang terjadi sepanjang dua bulan belakangan ini, baik itu yang menyangkut diriku sendiri ataupun orang lain. Kurasakan semuanya begitu kompleks. Mulai dari yang sedih, bahagia, was-was, berdebar-debar, hingga terharu. Aku mungkin tak bisa menceritakannya satu per satu, selain karena keterbatasan waktu juga mataku yang sudah tidak kuat untuk 'bekerja' lagi.

Singkat kata, kini aku bahagia. Ya, dan hal itu selalu kuamini setiap saat. Berawal dari sebuah iseng, kemudian berlanjut ke sebuah hubungan yang lebih serius. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan manusia, apabila manusia itu tidak mau berusaha demi mencapai keinginannya. Dan, ungkapan itu memang benar adanya. Aku telah membuktikannya. Kebahagiaan ini aku anggap sebagai 'hadiah' atas usaha yang aku perjuangkan demi menggapai impianku.

Apapun yang aku rasakan sedih dan berkeluh kesah selama ini kuanggap sudah terbayar lunas, dan bahkan melebihi dari ekspektasi yang aku harapkan.

Mungkin aku memang sedih. Banyaknya masalah yang harus aku hadapi di kantor takkan menyurutkan sesuatu yang masih tersimpan dalam hatiku.

Tak jauh berbeda dengan apa yang aku tulis diatas, bahwasanya manusia hanya bisa memanjatkan doa dan berharap. Sesederhana itu. Usaha dan doa tak pernah terpisahkan, seakan mereka adalah satu 'paket'. Tak pernah berdiri sendiri dan tak pernah terlihat 'sendiri', keduanya harus selalu ada dalam hidup kita dan menjadi dasar sebuah keyakinan.

Senin, 05 Mei 2014

Learn to be A Writer

Terkadang kalimat 'Banyak Jalan Menuju Roma' itu bisa berarti banyak hal. Contohnya saja aku. Aku ingin menjadi penulis, tapi semasa sekolah, aku tak pernah mendapatkan nilai superior untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, seperti yang diketahui banyak orang, seorang penulis diwajibkan (oh tidak, bukan diwajibkan), setidaknya mengenal banyak kosakata dan istilah. Sedangkan aku? Tak banyak yang kuketahui tentang itu.

Sekitar tahun 2003, secara tidak sengaja aku menemukan sebuah artikel yang ditulis dalam bentuk web log atau yang lebih dikenal dengan blog. Tulisan yang sungguh menginspirasiku untuk mengikuti jejaknya membuat sebuah blog. 

Tujuan awal aku membuat blog hanyalah sebagai media tempatku mengasah kemampuan menulisku saja. Bukan ingin dibaca orang, apalagi dikomersialkan atau mengejar rating tertentu. Aku sama sekali buta dengan semua itu. Yang aku tahu hanyalah aku ingin menulis di blog yang telah aku miliki.

Namun, ternyata ada juga orang yang mengunjungi blog-ku dan membaca setiap postinganku. Menelusuri setiap patah kata yang aku torehkan. Dan, satu komentar masuk di kotak komentar blog-ku kala itu, "Tulisannya bagus sekali, Mbak. Kenapa nggak dijadikan buku aja?"

Mataku seketika membeliak tatkala membaca komentar itu. Oh benarkah? Sebagus itukah goresanku? Aku sama sekali tak menyangka. Tapi, benar juga, sejak saat itu aku mulai percaya diri menulis. Kupikir, menjadi seorang penulis tak harus memiliki ratusan judul buku. Menjadi seorang blogger saja sudah sama dengan menjadi 'penulis'. 

Lambat laun aku mulai serius mengurus blog-ku. Tak terasa sudah sekitar 11 tahun aku berkecimpung di dunia jurnalistik (blog yang sedang kalian baca ini sebenarnya blog yang baru ku re-located dan 'renovasi' dari blog-blog lamaku). Jika sebelumnya aku hanya menamai blog-ku dengan embel-embel platform blog itu sendiri, maka sekarang aku mulai memikirkan nama serta tema apa yang cocok untuk aku terapkan di blog milikku. Mungkin aku akan menjadikan blog-ku sebagai blog pribadi saja. Karenanya, aku mengambil nama lengkapku sebagai alamatnya, dengan tema yang sesuai dengan 'siapa aku'. Blog pribadi dengan sentuhan novel atau penggalan cerita pendek.

Mungkin memang ada tersedia banyak komunitas-komunitas blog yang bertebaran di dunia maya. Namun, ada satu yang menarik perhatianku. B Blog yang merupakan bagian dari CyberBuzz, anak perusahaan CyberAgent Inc., sebuah tempat dimana kita bisa mengembangkan bakat menulis kita dan dipublikasikan kepada masyarakat melalui metode penyebaran informasi.

Kupikir menjadi seorang blogger bukan tidak mendapatkan manfaat. Justru banyak sekali manfaat yang bisa aku ambil dari sini. Mulai dari bisa mengasah kemampuan menulisku, aku pun bisa dikenal orang melalui tulisanku, terkadang aku pun mendapat tawaran menulis artikel untuk sebuah online shop, hingga aku mendapat banyak teman dengan saling berkunjung ke blog mereka dengan meninggalkan sebuah 'jejak'. Dikatakan 'jejak' karena kita meninggalkan sebuah tulisan atau komentar atas posting yang mereka buat.

Disamping itu, kita pun juga dapat memasang statistik jumlah pengunjung blog kita per harinya dan dari negara mana saja. Atau, postingan-postingan mana saja yang paling banyak dibaca dan paling banyak dikomentari.

Jika kau adalah seorang yang suka menginspirasi seseorang lain dengan apa yang kau miliki yang tidak dimiliki orang lain, maka menjadi blogger merupakan langkah yang tepat. Tulisan-tulisan yang kau buat akan menginspirasi mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan demi membaca artikel ciptaanmu. Dan, itulah yang terjadi padaku. Aku bangga bisa menjadi inspirator bagi orang-orang yang memang setuju dengan pemikiranku.

Kendati demikian, menjadi blogger pun ada beberapa 'kode etik' yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah :
  1. Usahakan setiap post yang ditulis adalah buah karya pikiran sendiri, bukan saduran atau copy-paste. Apalagi copy-paste yang sama persis. Jikalau memang harus copy-paste, kita wajib mencantumkan sumbernya atau website aslinya. 
  2. Menggunakan bahasa lugas yang mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya.
  3. Memposting postingan yang variatif agar menjauhkan pengunjung blog dari syndrome bosan. Dengan kata lain, jangan sampai pengunjung blog kita merasa bosan dengan tulisan-tulisan kita, alias monoton.
  4. Blog, menurutku seperti diary atau jurnal online. Jadi, curhat pun tidak dilarang asalkan sisipkan sesuatu yang menarik disana, seperti gurauan atau teka-teki.
  5. Usahakan memilih template blog yang sederhana tapi menarik. Menurut beberapa penelitian, pengunjung internet akan berpaling atau menutup web browser-nya apabila website yang dibukanya tidak dapat merespons selama kurang lebih 10 menit.
Kira-kira seperti itulah etika yang tidak tertulis tapi patut diketahui sebagai pembelajaran. Karena, setiap penulis pasti memiliki pembaca - dimanapun itu. Kita pun juga memiliki pembaca atau bahkan mungkin ada beberapa kelompok orang disana yang memfavoritkan blog kita. Who knows, kan? Untuk itu, sebisa mungkin kita harus bisa memanjakan para pengunjung setia kita dengan karya kecil kita.

:: Tulisan yang dibuat dalam rangka mengikuti B Blog Competition 2014 :: 

berpartisipasi dalam B Blog’s, I A.M a Blogger [3]

Acara ini diorganisir oleh B Blog Indonesia dan disponsori oleh :
  • @princess_butik (http://www.instagram.com/princess_butik)
  • @japansoftlens (http://www.instagram.com/japansoftlens)
  • @keziashop (http://www.instagram.com/keziashop)
  • @kissindonesia (http://www.instagram.com/kissindonesia)
  • @lumiere_corner (http://www.instagram.com/lumiere_corner)
  • @galerikuku (http://www.instagram.com/galerikuku)

Sabtu, 19 April 2014

An Emotion Restraint

Jika aku bertanya pada siapapun perihal apa yang kurasakan dan apa yang aku lalui hingga detik ini, mereka pasti akan mengira aku orang gila atau yang semacamnya. Tapi, inilah aku. Aku mungkin selalu mencari 'Pangeran Impian'-ku sendiri, tapi aku tak pernah menemukan yang benar-benar kuinginkan. Hingga akhirnya aku menemukannya. Dia yang kukenal sekitar lima bulan lalu dan aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. G yang selalu bisa menghapus dukaku, memberikanku semangat, menghujaniku dengan kata-kata cinta, tak alpa mengirimkanku sebuah 'mood booster' di kala pagi menjelang, dan senyuman yang selalu kurindukan.

Namun, aku memang harus bersabar dengan semua kemungkinan yang mungkin akan muncul. Aku tahu. Dan, selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Meski kesabaranku sudah teruji kala tak lelah menunggunya dibarengi dengan rentetan peristiwa memilukan, menyayat hati, dan mengoyak perasaan, toh aku tetap bisa berdiri dengan kedua kakiku dengan mempertahankan sebentuk cinta yang masih utuh dan selalu senantiasa terjaga tanpa ada retak sedikit pun. Cinta yang selalu ada dan abadi untukmu, G. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Aku tak akan mengingkari apa yang ada. Takkan mengingkari asal-usulku. Hanya saja, di dunia ini tak semua orang menyukai kita. Percayalah, pasti ada orang yang merasa bahwa kita tak pantas mendapatkan yang terbaik, atau yang senada dengan pernyataan itu. Karenanya, diperlukan sebuah porsi kesabaran yang di luar kata 'biasa'. "Terkadang, sebuah komunitas itu bisa sangat kejam dan jahat," seperti itulah kira-kira.

Anggaplah melatih kesabaran itu layaknya terapi jantung. Jadi, semakin hari kau menjalani terapi itu lambat-laun kau akan terlatih, namun kau tetap menjadi dirimu sendiri tanpa mengubah apapun. Jika sebuah terapi kesehatan yang dilakukan pada pasien penderita penyakit tertentu akan membuat pasien itu menjadi lebih baik dan tak lagi merasakan sakit, maka terapi kesabaran seperti yang aku bicarakan diatas akan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik dan lebih bisa mengendalikan emosi.