Selasa, 11 Juni 2019

The Birthday

Harusnya sesuatu itu bisa menjadi begitu berharga disaat apa yang kita inginkan bisa menjadi kenyataan dan berada begitu dekat di hadapan kita. Memang, tapi, apa yang bisa kita lakukan apabila sesuatu yang kita inginkan itu ternyata adalah hal yang mustahil?

Kau tahu itu mustahil, tapi kau tetap menggantungkan satu harapan kecil, meskipun harapan itu sungguh sangat kecil dan tak lagi utuh. Ya, aku ambil harapan itu. Aku tidak peduli. Jika ini menyangkut soal hati dan perasaan; keduanya memang telah luka sejak beberapa tahun yang lalu. Aku tak lagi mempermasalahkannya, asalkan aku bisa bersamanya--seutuh apa yang ada sekarang. 

Menjadi wanita yang spesial di hari yang spesial itu tidak mudah. Aku harus menyadari segalanya yang ada di hadapanku; yang Tuhan berikan sebagai hadiah. Aku bahagia dan aku sungguh sangat bersyukur. Ketika aku berharap lagi untuk yang kesekian kalinya, kali ini pun aku tak ingin terlalu menggantungkan harapan itu setinggi sebelumnya.

Bersama dengannya, dalam keadaan yang seperti ini saja, bagiku sudah lebih dari cukup. 

Hingga, pada saat yang bersamaan, aku sempat menuliskan sesuatu agar aku tak perlu lagi harus menangis tanpa sebab, seperti yang sudah-sudah

Catatan 11 Juni, 2019 -- 20:30 malam. 

"Jika sebelumnya aku selalu cemburu dengan apa yang kau simpan di ponselmu dan apa atau siapa pun yang menghubungimu lewat ponselmu, sekarang aku hanya bisa berpasrah diri. 

Aku hanya bisa diam, tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa tersenyum ketika kau menatapku--saat akan menjawab panggilan masuk itu--tanpaku memedulikan bagaimana perasaan ini hancur. Aku hanya bisa berpura-pura tidak menggubris apa yang kau bicarakan dengannya. 

Aku belajar ikhlas. 
Aku hanya ingin bersamamu, meski itu hanya berupa serpihan. Aku tidak peduli. 

Mungkin Tuhan hanya mengijinkanku bersamamu, dengan cara yang begini-begini saja.

Aku ikhlas." 




Share:

Kamis, 21 Februari 2019

Blogger dan Segala Kontennya

Terus terang saja, menjadi seorang blogger itu susah-susah gampang. Kalau jaman dulu ketika belum ada smartphone dan media sosial yang begitu bejibun seperti sekarang, mungkin mudah saja meraih suatu popularitas di kancah per-blogging-an dan menduduki salah satu peringkat terbaik di antara top blogger nusantara atau bahkan dunia.

Tapi, ini jaman sudah berubah, dan dampak dari perubahan itu turut mempengaruhi beberapa aspek kecil bagi kami para blogger. Terutama jika ingin meraih sebuah popularitas di dunia maya. Mungkin, bisa lebih sederhana namun harus dibarengi dengan beberapa aspek pendukung yang bisa dibilang ribet.

Ribetnya dunia blogger itu ternyata adalah sesuatu yang memang bener-bener ribet ketika kau sama sekali tidak mengerti tentang sistematisasi network atau jaringan--dan kemungkinan besar juga erat kaitannya dengan besarnya kocek yang kau miliki.

Contohnya saja Alexa. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya mendaftar disana demi menaikkan rank blog; sungguh mudah dan gratis (bukannya berbayar seperti sekarang). Pun, proses untuk mendapatkan rank blog pun langsung bisa dilihat secara global--meski pada tahun itu rank blog saya bisa dikatakan masih di level bawah.

Namun, sungguh sayang, saat ini ketika saya ingin mengulang semuanya dengan cara yang sama, semuanya tak lagi sama. Banyak perubahan disana-sini yang sebagian besar saya sendiri tidak mengikuti update mereka. Dan, yang sungguh sangat disayangkan adalah penerapan akun berbayar yang harus dilakukan sebelum memulai proses checking rank untuk worldwide.

Seperti yang diketahui bahwa tipikal masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang susah untuk diajak modern dengan sedikit 'pengorbanan'--dalam hal ini sedikit merogoh kocek. Sehingga, mungkin saja, ketika ada blogger yang ingin mencoba bergabung dalam kancah perebutan rank, akan mundur secara perlahan karena sebuah-kebijakan-yang-tidak-bijak-ini.

Saya contohnya. Bisa dibilang, saya bukan pendatang dalam dunia per-blogging-an. Saya pun (sebenarnya) sudah memiliki akun Alexa. Namun, karena saya memiliki banyak email dan kata kunci, ketika saya akan mengakses akun Alexa saya sendiri dan saya lupa keduanya, maka saya pun mencoba untuk mendaftar ulang.

Di sinilah masalah mulai muncul. Oh God!! 
Rasanya saya ingin menangis saat itu juga.

Tapi, saya tidak menyerah begitu saja. Saya akan terus mencari beberapa platform pengganti yang serupa dengan yang saya jabarkan di atas, namun yang tidak berbayar tentunya. Saya akan memposting di blog ini pada postingan berikutnya ketika saya sudah mendapatkannya. 
Share:

Rabu, 02 Januari 2019

Awal Tahun 2019

Awal tahun biasanya identik dengan sesuatu yang baru. Seharusnya aku juga--setidaknya hampir--bisa memberikan sesuatu yang baru bagi hidupku sendiri, setelah sekian lama aku terpuruk pada permasalahan yang tak jelas ujung pangkalnya. Pun, aku sendiri tak bisa memprediksikan kapan akan berakhir. 

Namun, yang jelas dan yang pasti, aku selalu berusaha sekuat tenaga semampuku agar aku bisa bangkit dan memulai semuanya dari awal--yang benar-benar awal. 

Mungkin terkesan memaksa, tapi buatku ini adalah sebuah keharusan. Sejak dulu, aku telah terbiasa menempa diriku sendiri dalam sebuah tugas yang tak pernah mudah untuk kujalani hanya demi agar aku tidak menyepelekan kehidupan yang diberikan kepadaku. Karena, ketika sekali saja aku mencoba untuk menyepelekan sebuah kehidupan, hidupku sendiri nyaris hancur jika saja waktu itu tak ada seseorang yang menolongku dan menarik tanganku dari lembah hitam.

Tuhannnn....

Ini adalah sebuah 'cambuk' kecil bagiku, dimana aku tidak bisa mengelak untuk menjalaninya demi kehidupan yang lebih baik. 

Bismillah....
Share:

Kamis, 20 Desember 2018

Kapan Ini Berakhir?

Kapankah cobaan ini akan berakhir, Ya Allah. 

Awalnya, kupikir mudah menjalani hidup ini sendirian. Ternyata tidak. Memang, sekuat-kuatnya aku ketika tetap mencoba untuk tersenyum dan tertawa disaat aku ingin menangis, di titik itulah aku merasa sangat rapuh dan kecil. Aku tahu ini cobaan hidupku yang mahaberat, tapi aku tetap berusaha bertahan dan mencoba sekali lagi untuk kuat menghadapinya. 

Manusia seperti aku tidak didesain memiliki mental sekuat baja. Tapi kembali lagi, aku masih punya Allah yang bisa saja dengan mudah menjadikan mentalku yang biasa-biasa saja menjadi sebilah baja yang amat kuat. 

Saat ini, aku memang tengah memiliki masalah keuangan yang cukup serius, dimana aku sendiri tidak tahu kapan semua ini akan berakhir, atau atau bagaimana aku akan bisa menyelesaikannya hingga tanpa ada sisa sedikit pun. 

Ingin rasanya aku menangis (sekeras-kerasnya hingga aku merasa bahwa beban ini akan bisa lenyap dan musnah hanya dengan berteriak), dan berharap aku bisa memutar lagi waktu yang telah kusia-siakan dengan kufur nikmat dan tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah selama aku hidup, hingga detik ini. 

Penyesalan selalu datang terlambat. Iya. 
(Kalau di awal, namanya perencanaan dong).

Aku mengakui bahwa aku memang telah salah jalan, hingga membuat hidupku berantakan seperti ini. Aku menyesal, Ya Allah. Tapi, aku tahu Allah masih memberikan aku kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Setiap kali selepas melakukan sholat lima waktu, aku menangis saat aku bersimpuh di hadapan-Nya. Betapa aku sangat bodoh yang tidak bisa menghargai hidup dan segala kenikmatan yang telah diberikan padaku. Aku dengan sombongnya melalaikan kewajibanku dan lupa pada apa yang telah aku raih. Sampai pada akhirnya detik ini ketika Allah menjewer telingaku, memperingatiku untuk menyudahi apa yang telah membuat hidupku berantakan akibat kesombonganku. 😔

Beberapa hari sebelumnya, tanpa sengaja aku menemukan sebuah website (sepertinya sih iklan) yang dipenuhi dengan testimoni para konsumen tentang sebuah benda. Mereka mengatakan bahwa benda ini bernama money amulet dan berkhasiat memberikan kejayaan pada pemiliknya, terutama dalam hal keuangan atau apapun yang berujung pada kemakmuran. Sekilas aku membaca, rasanya aku seolah seperti terpedaya dan ingin memilikinya (otomatis, karena memang keadaan keuanganku amburadul begini). Saat aku membacanya, harga penjualan money amulet ini sedang dalam program diskon setengah harga. Jadi, dari harga 1 jutaan, menjadi hanya seharga setengahnya atau sekira 500 ribuan. 

Kala itu, aku hanya memiliki uang terakhir di ATM sekitar 800 ribuan, dan aku ingin membelinya. Money amulet tidak dijual bebas (seperti di toko-toko online, dsb), sehingga cara membelinya pun harus pre-order terlebih dahulu. Artinya, jika ingin membeli harus mengisi nama lengkap, nomor telepon aktif, alamat domisili disertai kode pos, dan tanggal lahir. Aku sudah mengisinya, namun menuliskan namaku itu pun aku seperti seolah tidak sadar. Setelah formulir terisi sukses, aku mendapatkan notifikasi bahwa aku akan dihubungi oleh CS perihal konfirmasi. 

Setelah sekitar 3 hari kemudian, aku ditelepon oleh nomor tidak dikenal. Ternyata itu adalah telepon dari CS money amulet yang menanyakan perihal pembelian barang tersebut. Setelah sehari sebelumnya, aku menangis dalam sujudku kepada Allah, aku menjawab telepon itu dengan keraguan. Ketika pada awalnya aku mengisi formulir pembelian itu dengan yakin, entah kenapa saat menjawab telepon itu ada sebongkah keraguan yang merayapiku, sehingga aku pun menjawab pertanyaan CS itu, "Tidak, saya tidak jadi membelinya. Maaf."

Aku tersadar, bahwa dalam Islam sungguh-sungguh dilarang dan termasuk dosa besar ketika manusia percaya pada jimat atau benda-benda yang dipercaya membawa keberuntungan atau kemakmuran. Itu adalah tindakan musyrik atau syirik yang sangat dibenci Allah. Oh My... hampir saja aku terjerumus dalam lingkaran setan lagi.

Setelah aku membaca beberapa literatur dan apa yang ku mengerti tentang hukum Islam yang tertulis maupun tidak tertulis, aku pun segera membuang benda apapun yang tidak ada gunanya yang masih ku simpan sejak dulu hingga sekarang. Dan, aku benar-benar memohon ampunan karena telah sempat percaya dengan hal-hal syirik meski belum sempat memiliki benda tersebut. 

Aku tidak peduli dengan benda-benda pembawa keberuntungan atau apa lah namanya. Yang jelas, dan yang aku tahu, aku hanya menyembah pada satu Dzat yang kekal abadi, penjaga alam beserta isinya; Allah.
Share:

Sabtu, 17 November 2018

Luput dari Pemikiran

Sebelumnya aku tak pernah memikirkannya. Never. Tidak sama sekali. Lantas kenapa tiba-tiba saja segala sesuatunya lantas menyeruak? Ah, sudahlah. Aku tak mau lebih dalam memikirkannya, apalagi memperkarakannya. Hanya saja aku merasa ada sesuatu yang aneh. Dan, keanehan itu kemudian merebak jadi sesuatu dan kemudian menjawab semua segala pertanyaan yang bersarang di kepalaku.

Aku toh senang dan akan kusambut dengan suka cita semua apa yang ada saat ini. Allah, ini adalah anugerah Kuasa Yang MahaIndah--aku percaya itu. Namun, di sisi lain, aku sedih, karena keadaan yang memaksa ku harus seperti ini. Aku tak ingin lagi mempertanyakan tentang salah siapa. Tak ada yang perlu disalahkan. Ini adalah skenario Tuhan.

Pun, ini semua terjadi juga atas kehendak-Nya. Siapa pula yang ingin (yang rela) kehilangan orang yang mereka cintai? Tak satu pun, bukan? Tapi, apa yang bisa kau lakukan saat nasib telah membimbingmu ke jalan dimana ternyata kau harus kehilangan orang yang kau cintai? Apa kau akan berjalan mundur? It's impossible

Dulunya pun aku seperti itu. Hanya bisa menangis dan meratap saat apa yang sungguh ku cintai ternyata harus aku lepaskan atas paksaan yang tidak kuasa aku tentang; yang tidak bisa aku tawar lagi. Namun apa? Sekarang aku kembali dihadapkan pada suatu keadaan yang jauh di luar nalar pikirku--bahkan luput dari pemikiranku.

Tapi, tidak.
Aku takkan mengubah apapun apa yang telah menjadi bagian dari hidupku--meski belum seutuhnya. Sekeras apapun keinginanku untuk 'pulang'; sekencang apapun hati ini menggempur dan berteriak ingin 'kembali', ada satu hal yang jauh diatas keinginan-keinginan itu yang tidak bisa diusik. Satu hal itulah yang membuatku merasa nyaman dan merasa terlindungi, yang tak ingin aku sia-siakan demi apapun.

Aku memang tidak bisa memprediksi kehidupan. Aku hanya berusaha bersyukur dengan apa yang telah aku miliki saat ini. Ketika sebelumnya aku merasa tidak dihargai, selalu dikecewakan, merasa seolah 'dibuang' oleh kekasih yang sungguh sangat aku cintai dan aku dambakan, dan berbagai macam pengorbanan yang sudah aku berikan tanpa sedikit pun aku memedulikan hidupku sendiri--kini aku merasa seolah Tuhan mengujiku dengan memposisikan aku seperti itu. Roda memang selalu berputar, tapi manusia selalu memiliki akal dan hati nurani yang bisa dengan otomatis mengendalikan segala akhlak dan perbuatan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan. Semua tergantung dari masing-masing individu itu sendiri. Apakah ia memutuskan untuk mengikuti napsu iblis atau memilih untuk bertahan.
Share:

Minggu, 11 November 2018

Cahaya itu Bernama M-448

Pada dasarnya, setiap manusia itu hidup bermasyarakat dan bersosialisasi. Mungkin memang tidak semua. Ada kalanya, mereka tidak ingin siapapun mengusik kehidupan pribadinya. Namun, tak selamanya manusia bisa hidup menyendiri, tanpa teman, dan pendamping. Exactly! Bagaimana mungkin kau bisa hidup seorang diri jika Tuhan saja menciptakanmu sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya? Non sense, right? 

Begitu pun denganku. Awalnya, aku berpikir jika hidup menyendiri itu menyenangkan; tanpa ada siapapun yang akan menggangguku. Apapun yang aku lakukan, apapun yang aku inginkan, apapun yang aku pikirkan, atau apapun yang ingin kucapai dalam hidupku, mereka takkan pernah memedulikanku. Kesannya aku egois? No! Ini realita. Sekilas memang terlihat santai, menyenangkan, hidup tanpa beban, bebas, tidak terikat, dan masih banyak lagi istilah-istilah yang ada kaitannya dengan kebebasan diri atau independensi

Captionnya #buatkamu beserta 'Jersey'
M434 & M448
Tapi, lihat saja, mereka yang jarang sekali bersosialisasi akan selalu merasa "kurang", dalam artian hidup yang mereka rasakan seolah terkurung dalam sangkar emas. Tampak luar mereka bebas, namun jauh dalam diri mereka merasa sepi--bahkan, lebih sepi dibanding pekuburan sekali pun. 

Memiliki seorang kekasih bagi siapapun orangnya adalah sesuatu yang sungguh didambakan, meski tak semua wanita berpikiran sepertiku. Lantas jika sang kekasih itu meninggalkanmu, apa yang akan kau lakukan? Mengurung diri seharian di kamar?--(tidak makan dan tidak minum? Memangnya bulan puasa?). Itu bukan jalan keluar, Kawan. Cobalah membuka diri pada dunia luar. Ketika sang kekasih meninggalkanmu, betapa pun kau sangat mencintai dan menginginkannya, it's not your end. Masih banyak yang bisa kau lakukan selain meratapi nasib. Ya, kan? 

Acara Club Anniversary
Satu-satunya hal yang bisa ku lakukan ketika kekasihku meninggalkanku adalah aku mencari hiburan dengan caraku sendiri. Aku pun lantas bergabung dengan sebuah klub motor yang saat itu secara tidak sengaja aku menemukannya di sebuah website pencarian. Sebuah klub bernama Yamaha M3 Club Indonesia yang telah membuatku merasa seperti di rumah sendiri. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Aku merasa dihargai, diperlakukan dengan sangat baik, dimanjakan (karena di klub itu hanya aku satu-satunya anggota wanita, karena kesemuanya laki-laki), dan masih banyak lagi. 

Logo YM3CI Chapter Sidoarjo
Awalnya aku tidak tahu bagaimana cara bergabung. Namun, aku lantas diarahkan untuk menghubungi salah satu contact person yang tertera di website, sesuai dengan chapter-nya masing-masing. Chapter adalah istilah untuk setiap domisili dimana anggota itu berasal sesuai dengan KTP tempat tinggal mereka. Sedangkan aku berdomisili di Sidoarjo, karena KTP-ku adalah KTP Sidoarjo, maka aku harus menghubungi contact person chapter Sidoarjo. 

Malam itu sekitar pukul 7, aku ingin segera bergabung, namun aku tidak menyadari bahwa aku belum membayar tagihan KartuHALO milikku yang sudah jatuh tempo. Astagaaa, kenapa bisa terlupa? Sedangkan saat itu sudah malam, dan aku tidak mungkin membayarkan melalui gerai Telkomsel karena sudah pasti tidak dilayani karena sudah lewat jam kerja. Tapi, aku pun teringat bahwa aku masih memiliki saldo TCASH. Untung saja aku selalu menyediakan saldo di TCASH milikku, sehingga aku pun tak perlu repot-repot ke gerai Telkomsel atau sekedar cari ATM. Cara pemakaian TCASH pun sangat mudah. Cuma 2 kali klik, semua terselesaikan dengan baik. Lantas, aku pun langsung bisa menghubungi leader club chapter Sidoarjo untuk menanyakan tata cara bergabung. 

LC atau Leader Club chapter Sidoarjo mengatakan bahwa aku harus membayar biaya pendaftaran untuk keanggotaan baru. Biaya keanggotaan kala itu sekitar Rp. 75.000,00 dan si leader mengatakan bahwa aku harus mengirimkan biaya pendaftarannya melalui TCASH, dikarenakan mereka tidak boleh menggunakan rekening pribadi untuk kepentingan umum, dan lagipula provider yang mereka gunakan kebetulan juga Telkomsel. Lagi-lagi aku kembali dimudahkan dengan adanya TCASH.

Ini niihh, Card Member a.n.
SOTYASARI D - M448
Ok, proses pendaftaran selesai, dan si leader club mengatakan bahwa aku harus menunggu sekitar tiga hari baru aku bisa terdaftar sebagai anggota tetap. Dan, benar saja, setelah tiga hari kemudian, aku dikirimkan link ke email, bahwa aku sudah terdaftar sebagai anggota Yamaha M3 Club Indonesia. Weww!!! It's so amazing!! Kalian bisa lihat nama dan fotoku terpampang dengan sangat indahnya disana!!! Sotyasari Dhanisworo dengan nomor NRA M-448. Cahaya baru buatku--cahaya untuk hidup gelapku, sungguh. Subhanallah, Heheee...!! 😍

Seragam kebesaran YM3CI nihh 😍
Menjadi anggota YM3CI, kependekan dari Yamaha M3 Club Indonesia, adalah suatu prestige tersendiri bagiku. Terkadang mereka mengadakan acara-acara yang belum pernah aku rasakan sebelumnya di klub-klub terdahulu yang pernah aku ikuti. Mereka memberinya istilah Tourjibnas (Touring Wajib Nasional). Acara ini adalah acara wisata bersama seluruh member untuk mempererat persaudaraan. Selain itu juga ada acara bakti sosial yang bertujuan untuk membantu masyarakat guna mempererat kekerabatan terhadap orang lain. Dan, yang paling familiar bagiku adalah acara kopdar, dimana acara ini adalah acara untuk sekedar kumpul untuk mempererat keakraban dalam satu chapter.

Alun-alun Sidoarjo,
tempat biasa melakukan kopdar
Disana, di chapter Sidoarjo tempatku bergabung, aku mengenal baik dengan LC (Leader Club), Wakil, Humas, hingga Bendahara. Ada satu nama yang sejak awal telah membuatku merasa nyaman tergabung di club ini; Tri Putra Septiyan. Dia menjabat sebagai Humas YM3CI untuk chapter Sidoarjo dan Surabaya. Awalnya aku tidak tahu kalau dia adalah Bapak Humas. Hanya ketika sudah terlibat percakapan serius, dia pun memperkenalkan dirinya bahwa dia adalah Bapak Humas.

Aku tidak peduli apa jabatan dia. Yang aku tahu bahwa sejak pertamakali aku mengenalnya hingga kini--yang sudah sekitar satu tahun lebih aku menjalin kasih dengannya--aku merasa bahwa dia adalah sosok kekasih terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku, yang bisa menjadi panutan, serta memberiku semangat dalam menjalani hari-hariku.

Telah banyak yang terjadi selama setahun perjalanan kisahku dan Tri Putra. Dia telah banyak memberiku semangat, baik dalam bentuk spirituil maupun materiil. Entah apa jadinya aku jika tidak ada dirinya yang menyelamatkanku dari percobaanku mengakhiri hidupku beberapa tahun yang lalu. 

Sekali waktu, ketika aku sedang berada di perjalanan, kekasihku mengirimiku pesan singkat melalui aplikasi whatsapp, yang mengatakan bahwa motor satu-satunya sedang dalam keadaan tidak baik. Saat kutanyakan ada apa, kekasihku mengatakan bahwa motor itu sudah masuk bengkel dan ia sedang tidak membawa dana cash yang cukup. Oh Tuhan, dalam hati aku berpikir bahwa inilah giliranku untuk membantunya.

Di tengah perjalanan itu, aku sedikit bingung. Sebenarnya bisa saja aku menggunakan ATM untuk mentransfer dana, namun kupikir akan terlalu lama dan tidak praktis. Belum lagi jika mesin ATM sedang trouble dan dana bisa saja hilang. Oh tidak!! Maka aku putuskan aku menggunakan TCASH yang aku miliki untuk mentransfer sejumlah dana untuk kekasihku.

Sungguh besar peranan TCASH bagi alur kehidupanku; terutama bagiku dan bagi kekasihku; Tri Putra. Selain itu, juga sangat praktis dibawa kemana pun, karena TCASH memiliki banyak kerjasama dengan outlet-outlet penting yang sering kita gunakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan tentunya tanpa ada kata ribet atau bertele-tele. Dan, aku yakin, ke depan aku akan terus menggunakan peranan TCASH untuk kebutuhan rutin club yang tengah aku ikuti, dalam kesuksesannya mengemban tugas mulianya di masyarakat sekitar, ke pelosok daerah, hingga kota-kota besar lainnya yang mungkin belum terjangkau. Karena TCASH ini akan selalu buat kamu dan semua. Terima Kasih TCASH!!
Share:

Sabtu, 27 Oktober 2018

Happy Blogging Day 2018!!

Tak terasa sudah 16 tahun aku berada di dunia perbloggingan ini. (Rasanya sejak aku masih jadi mahasiswa baru ya, hehee). Sejak aku masih belum mengenal dunia yang superaneh seperti sekarang ini. 

Aku masih ingat betul bagaimana dulu aku selalu sendiri dan hanya berteman dengan buku-buku di perpustakaan. Lalu, aku mulai berkutat dengan yang namanya networking (jaringan). Kalian tahu, betapa luas jika mempelajari sebuah jaringan. Oleh sebab itu pula, aku lantas mengambil jurusan dan program pendidikan dengan ruang lingkup yang sama dalam alur perkuliahanku.

Jika harus kuingat betapa dulu aku kadang mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang aku miliki, rasanya aku sangat berdosa sekali. Aku tahu dan aku sekarang tersadar bahwa aku telah kufur nikmat (astaghfirullah!!). Karena itulah, mungkin aku harus merasakan semua karmanya sekarang. Tapi ya sudahlah, aku toh tak bisa memutar kembali waktu yang telah lalu. Menyesal pun tiada guna. Aku hanya berharap pada belas kasih Allah saja--yang masih memberiku kesempatan untuk menebus semuanya.

Kembali ke topik.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk independen, namun dengan tidak menutup kemungkinan bahwa memang mereka akan selalu membutuhkan bantuan dari sesamanya.

Dan, pada dasarnya pula, manusia memiliki jiwa lain yang tersembunyi dalam diri mereka masing-masing. Karena terkadang, tak dipungkiri bahwa mereka sesekali waktu memiliki keinginan untuk menjadi seseorang lain dan menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan.

Aku pun demikian.
Terkadang, aku ingin menjadi orang lain dan menjalani kehidupan seperti orang itu. Aku tak ingin bermimpi. Dan, jalan yang bisa aku tempuh hanyalah dengan menulis.

Menulis telah memberiku banyak kebebasan untuk menjadi siapapun yang aku mau. Dan, dengan menulis pula aku merasa hidupku lengkap. Segala sesuatu yang ingin aku utarakan namun tak bisa kuucap, aku bisa menuangkannya dalam bentuk lain, yaitu: tulisan.

Hari ini,
Hari Blogger Nasional, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih karena telah berhasil mewujudkan setiap apa yang aku impikan menjadi sebuah sesuatu yang mungkin tak dimengerti oleh mereka.

Semoga dengan ini, semakin banyak juga masyarakat diluar sana yang berpikiran sama sepertiku dan ikut merasakan kebahagiaan ini.

Semangattt untuk dunia Perbloggingan, dan
Jangan berhenti untuk terus menulis yaaa!!!! 😍😍😘
Share:

Sabtu, 15 September 2018

What is Trust?

Jika berbicara tentang sebuah kepercayaan, tak ada satu manusia pun yang bisa kau percayai--pun, kau telah menganggapnya semisal 'sudah ku anggap seperti saudara sendiri'. Lantas, pada akhirnya apa yang kau dapat dari kepercayaan itu? Ujung-ujungnya seseorang itulah yang menusukmu dari belakang. Isn't it? Benar, kan, seperti itu? Manusia hanya bisa percaya pada satu-satunya yang membuat hidup; Tuhan; Allah SWT, no more. 

Dulunya, aku memang ada, dan bahkan sering ada di posisi seperti itu. Sejak aku duduk di bangku sekolah, aku kerap bermasalah dengan yang namanya pergaulan. Aku terlalu pendiam, dikenal sebagai anak kutu buku, tidak bisa bergaul, dan nyaris tidak memiliki teman. Temanku hanya buku-buku dan tempat favoritku adalah perpustakaan. Sekalinya aku bergaul, aku selalu dijadikan bahan olok-olok. Kalau bahasa kekiniannya sekarang korban 'bully' atau 'bullying'. Aku bukan tidak ingin berteman dengan manusia atau menjadi anak normal. Menurutku, membaca buku dan berdiam diri di perpustakaan lebih bisa memberikanku ketenangan. 

Seketika, aku memiliki teman; kali ini manusia, (bukan lagi buku). Hanya satu orang, dan menurutku itu sudah lebih dari cukup. Entahlah, mungkin karena efek perbedaan inilah aku seolah memanjakan temanku itu. Temanku ini sesama wanita, dan menurutku dia baik. Baik disini dalam artian, dia tidak seperti yang lainnya yang suka mem-bully-ku. Saat itu usiaku baru menginjak 12 tahun, dan aku pun berpikir bahwa mungkin sudah saatnya bagiku berteman dengan makhluk hidup, bukannya benda mati. 

Lambat laun, setelah aku merasa nyaman dengan teman ini; sebut saja namanya Sheli, dia mulai menunjukkan gelagat aneh. Dia tidak seperti yang ku pikirkan sebelumnya. Mungkin aku terlalu membuatnya nyaman dengan segala apa yang ku miliki. Aku selalu membelikannya makanan di kantin ketika istirahat sekolah, selalu meminjaminya kartu telepon elektronik (sekitar tahun 1996 belum ada handphone, kala itu rata-rata telepon masih menggunakan box telepon umum koin atau telepon umum kartu dengan menggunakan kartu--semacam kartu ATM--namun lebih tipis, keluaran Telkomsel dengan isian pulsa maksimal Rp.250.000,00), dan kartu elektronikku setiap bulan selalu diisi penuh oleh orangtuaku untuk kepentingan menelepon ke rumah, lalu aku pun kerap meminjaminya buku PR-ku untuk diconteknya; padahal dari segi nilai NEM masuk SMP Negeri kala itu, NEM ku masih jauh di bawah dia beberapa poin, tapi entah kenapa dia selalu ingin mencontek PR yang aku buat, dan masih banyak lagi. 

Menurutku, ini adalah dampak karena aku sering jadi korban bully, dan aku tidak memiliki teman, lantas ketika aku memiliki teman satu-satunya, maka aku memberikan segala-segalanya meski aku lebih banyak menderita kerugian di dalamnya. Dan, aku seolah menutup mata akan kenyataan itu; bahwa Sheli memanfaatkanku. 

Sheli yang tadinya kupikir bisa menjadi teman manusia bagiku, ternyata tidak sebaik yang kupikir. Dampaknya bagiku sungguh besar yang kesemuanya merugikanku. Mulai dari hal terkecil hingga permasalahan finansial ketika kartu telepon elektronik yang kupinjamkan padanya seketika ludes dengan tanpa ada sisa pulsa sepeser pun; padahal ketika itu masih di awal bulan dan aku sama sekali belum sempat menggunakannya, hingga ketika uang bulanan untuk antar-jemput sekolah yang secara tiba-tiba saja raib dari dalam tas ku, sehingga ketika aku akan memberikannya pada sopir antar-jemput ketika beliau mengantarkanku pulang, aku tak menemukan kartu pembayaran berisi uang itu di dalam tasku. Aneh, tapi ya itulah. Aku tidak menuduh siapa yang mengambilnya, tapi pada kenyataannya aku tidak memiliki teman siapapun kecuali Sheli.

Lantas kini, semua itu kembali terulang, hanya saja dengan konteks, peran, dan scene yang sedikit berbeda. Bukan lagi bully, tapi semacam hanya akibat yang ujung-ujungnya merugikanku dalam hal nama baik. Awalnya sama, aku terlalu percaya pada seseorang seperti yang dulu ku lakukan pada Sheli. Namun pada akhirnya, nama baikku lah yang aku pertaruhkan dalam dunia kerja. 

Memang, tak ada yang mengatakan bahwa dunia kerja itu lunak seperti makan marshmellow atau nasi dengan lauk ikan Bandeng berduri lunak. Dunia kerja itu keras dan sarat persaingan. Aku tahu. Namun, sekali pun aku tak pernah mengusik kepentingan orang lain, bahkan aku tak ingin terlibat dalam hal apapun yang sekiranya mengandung risiko. Tapi, kenapa mereka mengusikku? Itu yang ku sesalkan. Seseorang yang ku percaya, dengan sengaja memberikan informasi yang sebenarnya dia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang aku tidak ingin orang lain mengetahuinya, kecuali aku dan dia saja. 

Apapun yang menyangkut masalah finansial atau keuangan itu adalah hal sensitif--dan kurasa semua orang mengetahuinya. Siapapun akan menyetujuinya bahwa masalah kuangan adalah masalah sensitif. Kemudian, ketika dia menyebarkan masalah keuanganku pada orang lain, apakah itu terlihat wajar?--meski sesungguhnya dalam konteks yang berbeda? Kurasa tidak. Aku juga tidak memahami apa maksudnya melakukan hal itu. 

Disini aku sedikit berpikir bahwa sudah saatnya aku tidak lagi terlalu memercayai siapapun, kecuali pada yang maha-memberi-hidup. Aku kecewa. Ya, aku pantas kecewa dengan semua yang harus aku terima mentah-mentah ini. 

Tapi, kembali aku harus kembali pada awal mulanya. Aku akan memperbaiki semua dan menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Aku tak lagi ingin memberikan kepercayaan pada siapapun, kecuali jika memang ada seseorang yang benar-benar menunjukkan ketulusannya untuk membantuku.
Share: