Sabtu, 23 Mei 2015

Donor Darah

16

Jiwa sosialku mungkin memang sudah tumbuh sejak aku masih remaja. Sejak dulu aku ingin sekali menyumbangkan darahku bagi siapapun yang membutuhkannya. Golongan darahku AB yang notabene-nya hanya recipien universal,  yang artinya golongan darah ini hanya bisa menerima donor darah dari golongan darah yang lainnya. Jadi, kecil kemungkinan golongan darah ini bisa disumbangkan kepada orang lain jika tidak benar-benar ada golongan darah yang sama yang juga sedang membutuhkannya. Tapi, it's okay-lah, menyumbangkan darah itu sehat dan merupakan tindakan mulia. Benar, kan?

Donor darah itu sama saja dengan memberikan sebagian darah yang ada di dalam tubuh kita untuk orang lain yang membutuhkan bantuan sumbangan darah. Sehingga, semakin banyak persediaan sebuah rumah sakit akan darah, maka akan semakin bagus, karena darah-darah itu nantinya akan sangat-sangat berguna sekali bagi pasien-pasien mereka. 

Adapun syarat-syarat umum seorang calon pendonor darah dan siapa mereka-mereka yang tidak diperkenankan mendonorkan darahnya bisa dicek disini.  Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendonorkan darahnya, hanya saja si pendonor harus terlebih dahulu memenuhi syarat dan tidak sedang memiliki penyakit apapun. 

Kegiatan sosial yang bisa kulakukan hanyalah mendonorkan darahku untuk sementara waktu. Suatu wadah yang masih terjangkau oleh kedua langkah kakiku. Dan, mungkin di masa yang akan datang aku akan lebih bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi. 

Rabu, 13 Mei 2015

Aku Takut

0

Pertengahan tahun sudah terjamah. Jari-jari waktu semakin dekat menggapaiku, terbuka dan menganga lebar seolah siap menelanku hidup-hidup ke dalam kegelapannya yang gelap mencekam. Aku takut. Ingin kupejamkan mata dan kututup rapat-rapat telingaku agar aku tak perlu lagi melihat dan mendengarkan suara-suara sumbang diluar sana. Suara yang hanya bisa mengolok dan menertawakan tanpa bisa memberikan solusi. Suara yang hanya bisa membuat mental seseorang jatuh dan tersudut tanpa pernah bisa tergerak lagi.

Sebenarnya kita ini apa? Manusia? Hantu? Atau apa? Atau, makhluk jadi-jadian? Siluman? Bukan, kan? 

Kita manusia. Manusia itu makhluk sosial. Makhluk yang saling bantu-membantu satu dengan yang lainnya. Makhluk yang memiliki akal sehat dan budi pekerti yang luhur. Bukan makhluk sosial tapi saling menjatuhkan dan ingin menang sendiri. 

Manusia memang memiliki kepentingan dan kebutuhannya masing-masing. Tapi, kedua hal polemik itu tidak bisa dijadikan tameng (perisai) ataupun alasan untuk saling mengalahkan. Yang kuat yang menang dan yang lemah yang akan kalah. Begitukah? Itu hukum rimba, Kawan. Dan kita manusia tidak hidup di dalam rimba. Kita manusia hidup secara normal dan juga melakukan hal yang normal pula. Karena, sejatinya kita manusia tidak sedang berebut rantai makanan layaknya hewan yang hidup di dalam rimba.

Aku hanya takut pada waktu yang di mataku seolah menjelma menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja ketika sudah tiba saatnya. Mungkin pelarian bukanlah hal yang terbaik, tapi pelarian bisa menjadi hal yang tepat dilakukan disaat yang juga tepat.

Rabu, 29 April 2015

Big Hope

0

Harapan terbesarku saat ini adalah waktu. Jika aku diijinkan untuk berandai-andai, kata-kata yang keluar mungkin adalah waktu. Aku berpikir bahwa mungkin seseorang memang tak bisa menghindarinya. Kedengarannya seperti galau yaa, tapi tidak. Ini bukan soal galau atau apapun lah yang semacamnya. Ini tentang kekhawatiran tingkat dewa. Oh maann!!! :(

Waktu yang kuharapkan bukan untuk diriku sendiri melainkan lebih kepada pihak lain yang notabene-nya orang terpenting dalam hidupku. Entahlah, kupikir rasanya waktu dan Dewi Fortuna rasanya belum begitu berpihak pada kami. Dari satu dan lain hal mungkin memang iya, ada satu dan lain keberuntungan yang ia berikan, tapi aku menginginkan yang lain yang lebih penting dibandingkan itu semua - atau mungkin malah yang terpenting, sepenting kita hidup, bernapas, dan menghirup udara.

Oh sudahlah, aku hanya bisa menulis dan menulis. Namun, memang iya, meski sederhana dan bisa dibilang tidak ada apa-apanya, tulisanku menyiratkan banyak harapan dan sarat makna. Ada banyak mimpi disana, yang aku sendiri pun tak sanggup menyandangnya jika seorang diri. Aku selalu membutuhkannya :)

Rabu, 11 Maret 2015

Dunia Ini (Tidak) Adil

4

Beberapa waktu lalu betapa aku marah sampai-sampai aku mengumpat dan menilai (tanpa pikir panjang) bahwa dunia ini tidak adil. Mungkin memang benar bahwa dunia ini sebenarnya tidak bisa berlaku adil bagi setiap manusia, tapi itu hanyalah segelintir orang yang memang merasa bahwa dunia ini tidak adil. Apabila, jika aku perhatikan dengan baik dan lebih ditelusuri lagi, dunia ini cukup adil. Kukatakan 'cukup' karena memang aku tidak sepenuhnya mempercayai akan keadilan tersebut.

Namun, aku sendiri telah menyadari bahwa dunia ini cukuplah berlaku adil. Meski tak kasat mata, namun aku bisa merasakannya. Contoh kecil kejadian-kejadian yang aku alami di kantor adalah sekelumit cerita yang menunjukkan keadilan tersebut. Mungkin juga Tuhan sayang padaku dengan tidak menambah beban pikiranku dengan pekerjaanku. Padahal sebelumnya aku cukup teledor dan ceroboh dalam melakukan setiap pekerjaan di kantor. 

Mungkin memang sebaiknya manusia tidak seharusnya seenaknya saja menilai sesuatu hal yang belum tentu diketahui. Sama halnya dengan hakim yang menjatuhkan sebuah hukuman tanpa mengetahui jalan dan sidak perkaranya, maka bisa dipastikan ia akan menyesal seumur hidupnya. Kuasa manusia tak lebih besar dari ujung kuku mereka sendiri, dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang luasnya seluruh jagad raya alam semesta.

"Be a better person is a better way to go for live".

Minggu, 08 Februari 2015

Sadar "Siapa Aku"

0

Semua orang pasti menyadari betapa susah seseorang mau menerima kritik atau nasihat yang membangun namun menusuk ulu hati. Kau pikir berapa banyak yang bisa benar-benar lapang bisa menerimanya? Mungkin tak lebih banyak dari jumlah jari tangan dan kakimu. Kalaupun memang bisa menerima, pastinya ia telah belajar membiasakan diri menerima segala hal dan kemungkinan terburuk dalam kurun waktu yang cukup lama.

Aku pribadi juga bukanlah sosok yang bisa mengendalikan amarah dan perasaan tidak peduli sesama dengan baik. Aku, dan manusia lainnya juga sama...bukan sosok makhluk yang sempurna. Selalu ada kekurangan dan kelebihan di diri mereka masing-masing. Namun, manusia pada dasarnya telah dibekali dengan akal dan pikiran yang sempurna sehingga mereka mampu mengendalikan diri mereka tentang bagaimana caranya harus bersikap.

Kritik, saran, atau masukan, atau apapun lah namanya itu sekilas memang nampak seperti nasihat yang membangun agar ke depannya kita bisa menjadi lebih baik dari hari ini atau hari-hari sebelumnya, dan yang terpenting kita tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama apabila kita memang melakukan sesuatu yang tidak benar. Kita seharusnya sadar akan siapa kita bagi orang lain. Bukan siapa-siapa. Hanya sesama manusia yang memiliki hak hidup dan kewajiban yang sama, yang juga sama-sama menginjakkan kaki di bumi nusantara.

Dengan kita menyadari segala sesuatunya, maka kita dengan sendirinya juga pasti dapat memahami keberadaan orang lain di sekitar kita. Aku pun demikian. Berapa kali aku selalu mengingatkan bahwa aku bukanlah sosok yang sempurna. Tidak di hadapan mereka, tidak pula di hadapan Tuhan. Siapa aku? Oh, just nothing! 

Tapi, jangan sesekali melupakan tujuan kita hidup di dunia ini sebelum kita menginjakkan kaki di dunia lain. Karena, dengan sengaja atau tidak, manusia hidup pastinya memiliki tujuan yang hendak dicapainya...apapun itu. Kesadaran akan keberadaan kita sangatlah penting, namun fokus pada apa yang menjadi titik-titik sasaran tembak kita pun juga tak kalah penting. Hanya...belajar lah menjadi sosok individu yang lebih bisa mengendalikan diri dan paham pada apa yang terjadi di sekitar kita.

Minggu, 25 Januari 2015

Whatever it Takes, It's Me...

6

Ada yang bilang kalau aku ini orangnya enak diajak bicara, pandai bergaul, ramah, dan tidak pelit untuk berbagi segala sesuatunya. Tapi, ada juga yang tidak sependapat. Aku dikatai orang yang cuek, dingin, dan tidak peduli terhadap orang-orang di sekelilingnya. Dan, yang lebih menyakitkan ada yang bilang, "Kamu cuma menang cantik, selebihnya kamu nggak ada apa-apanya."

Aku hanya ingin tertawa mendengarnya. Dalam hati aku hanya berucap syukur, dan aku berusaha mencoba untuk berpikir positif. Kalian tahu? Dunia ini kejam. Rasanya aku pernah menulis tentang ini di postingan sebelumnya. Bahwa, tak seorang pun yang memiliki hati emas jika tanpa ada keinginan yang diharapkan. Mereka hanya berpikir bahwa harus ada yang menjadi imbalannya jika ia menganggap dirinya melakukan hal yang 'besar' dan berarti.

Tapi, tidak. Oke, aku ralat. Tidak semua orang seperti itu. Aku mengatakan hanya sebagian dari beberapa orang saja yang berpikiran picik sedemikian rupa. Sehingga, nantinya masyarakat semacam ini akan menyebar luas dan akan ada di setiap daerah di Indonesia.

Lalu, apakah ada hubungannya? Jelas ada! Aku cuma takut pada apa yang terjadi di kemudian hari, jika nantinya aku harus berpura-pura menjadi orang lain. No! It's not my style. Aku adalah aku. Whatever it takes, it's me

Setiap orang dari kita pasti pernah terlintas di pikiran bahwa 'mungkin enak jadi dia', atau 'dia nggak pernah berpikir gimana susahnya menjadi aku'. Padahal, tiap-tiap orang punya permasalahannya sendiri-sendiri, dan setiap permasalahan itu pastinya memiliki level kesulitan yang tanpa bisa kita ukur dengan akal terbatas kita, meskipun kita diciptakan sebagai makhluk paling sempurna di muka bumi ini.

Hanya, selalu berusahalah menjadi diri sendiri. Selalu bersikap apa adanya dalam menghadapi segala sesuatunya. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama kita yakin dan percaya bahwa segala sesuatu itu adalah 'hal yang mungkin'.

Minggu, 11 Januari 2015

Premonition or Deja Vu?

7

Manusia memiliki indera paling lengkap diantara semua makhluk yang Tuhan ciptakan. Tapi, diantara manusia-manusia itu ada yang memiliki 'bakat' lebih, yang tidak dimiliki manusia-manusia lainnya. Dan, bakat itu bisa bermacam-macam bentuknya. Salah satunya adalah penglihatan masa depan atau yang biasa disebut dengan premonition, yang terkadang memiliki pengertian rancu di masyarakat. Pengertian pastinya pun aku juga susah menemukannya. Aku hanya bisa menemukan artinya : pertanda.

Mungkin sudah banyak yang menulis tentang premonition ini. Tapi pastinya, premonition yang dialami mereka dan yang aku alami berbeda. Kenapa bisa berbeda? Pada dasarnya, sebenarnya, tiap-tiap manusia pasti pernah sekali waktu mengalaminya. Premonition mirip dengan mimpi. Jadi, mereka-mereka yang tidak menyadarinya akan menyangka bahwa apa yang baru saja dialaminya itu adalah bagian dari mimpi.

Premonition biasanya berkaitan dengan alam bawah sadar. Jika kalian pernah menonton film "Final Destination", kalian pasti akan menyadarinya bahwa premonition ini memiliki perbedaan tipis dengan mimpi ataupun Deja Vu, yang sering kudengar dari mulut ke mulut. Mungkin adegan yang terjadi dalam film itu hanya rekaan atau 'hanya' sebuah film belaka, tapi dalam kehidupan nyata premonition itu ada dan tanpa kita sadari, kita pun mengalaminya.

Manusia memang bukan makhluk sempurna. Sehingga, Tuhan memberikan penglihatan masa depan dalam beberapa detik hidup di depanmu dan kau tidak menyadarinya, karena kau pikir itu hanya mimpi. Namun, ketika apa yang kau impikan itu benar-benar terjadi dalam dunia nyata, apa yang bisa kau perbuat? Menyesalinya? Pasti tidak, kan? Karena semuanya pasti akan berlalu dengan sangat cepat dan manusia tidak akan memiliki cukup banyak waktu hanya untuk mengingat setiap mimpi-mimpi mereka. Tapi pasti, semua premonition itu akan terekam secara otomatis di otak bawah sadar kalian. Ketika sesuatu terjadi, maka ingatan bawah sadar itu akan menyeruak keluar dan kau akan mengingatnya dengan jelas, "Rasanya aku pernah ngalamin ini. Tapi dimana yaa?" Pernah kan berucap seperti itu? Dan, itu pun berbeda tipis dengan Deja Vu.

Tapi, apapun namanya itu, jangan pernah sekali pun mengabaikan mimpi yang pernah kau alami. Selalu ingat apapun mimpimu. Karena dari 1 dibanding jutaan mimpimu, salah satunya adalah premonition atau Deja Vu. Dan, ketika salah satunya kau alami di dunia nyata, kau akan tahu 'kelanjutan'-nya.