Senin, 20 Oktober 2014

Walking Paradise

Tadinya aku berpikir bahwa mungkin aku tak akan menulis lagi, lantaran belakangan aku sering 'meninggalkan' blog-ku kosong tanpa ada tulisan satu pun. Tapi, entahlah, mungkin juga kegemaranku akan dunia tulis-menulis seolah mematahkan semuanya. Secara tak sengaja, jari-jariku mulai merangkaikan kata demi kata hingga membentuk sebuah tulisan. 

Dan, inilah duniaku.

Dunia dengan segala keunikan di dalamnya. Tapi mungkin juga tak demikian bagi orang lain. Aku tahu bahwasanya setiap orang memang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, pun itu tak bisa dipaksakan. Hanya saja, tahukah mereka, mengertikah mereka bahwa mereka pun memiliki 'sesuatu' yang bisa mereka sebut dengan 'walking paradise'?

Oh, Man! Yang aku tahu hanyalah, aku memiliki dunia yang sungguh indah... seolah aku bisa menggenggamnya dengan kedua belah tanganku. Begitu nyata. Begitu indah.

Kau tahu apa arti keindahan? Keindahan yang bukan hanya melulu tentang pemandangan eksotis nan permai, tapi lebih... dan lebih dari sebuah kata 'eksotis'! Juga bukan bagian dari mimpi. This is not a dream! Aku tidak sedang berbicara tentang mimpi, atau mimpi yang masih dibalut lagi dengan mimpi.

Ini tentang segalanya!

Segala yang aku sebut dengan 'walking paradise'. Ya, semacam surga dunia... surgaku, my paradise. Dan, disinilah aku sekarang... menginjakkan kaki di tempat ini, dan menemukan sesosok pangeran impian yang mampu mengubah dunia kelamku menjadi buliran salju yang menyejukkan sukma.

"I Love You, G!"

Selasa, 16 September 2014

Counting Down

Sebenarnya aku paling tidak suka menghitung hari. This is a big NO for me! Tapi, yah, ada kalanya juga aku memang 'harus' melihat kalender, haha!! Bukan karena apa-apa sih, hanya saja sebuah anniversary atau peringatan itu memang diperlukan.

Yap, this is SEPTEMBER!!

Flashback...

Setahun sudah aku berhasil melalui 'masa-masa kritis'-ku, sebuah masa yang lalu dimana aku merasa bukanlah aku. Aku seperti hidup tapi jiwaku mati. Aku seperti bernapas tapi jantungku berhenti berdetak. Dan, seolah aku tak bisa merasakan apakah aku masih hidup ataukah sudah mati. Semuanya seperti terasa sama bagiku.

Tapi, kemudian aku menemukan setitik cahaya di sebuah keramaian manusia dengan napas yang masih utuh. Cahaya itu begitu terang namun tidak menyilaukan. Aku terkesan. Aku terpana. Dan, seketika gejolak nuraniku kembali hidup. Aku jatuh cinta (lagi). Sosok itu mampu membangkitkan apa yang seolah kurasakan sudah mati dan terkubur dalam-dalam. Sosok itu istimewa--ya, aku tahu.

This Moment...

Dan, ini adalah our month. Our Sweet September. September dimana cintaku berlabuh, pada sebuah dermaga indah bertahta berlian. Sebuah peringatan yang mahaindah. Tak henti-hentinya kuucap syukur dalam hati atas segala keagungan ini. Jiwa ini kembali menjadi satu jiwa yang utuh tak kurang suatu apa pun. Dan, untuk pertama kalinya, aku berani berucap, "Aku bahagia."

"Happy September!!" :)

Kamis, 28 Agustus 2014

Nahkoda

Jadi, seperti ini ya rasanya menghitung hari. Aku jadi ingin tertawa, haha!! Aku bahagia, tapi aku juga tetap mengucap syukur dan berserah diri. Mungkin tiada henti bibirku mengucap rentetan kata-kata doa. Banyak yang aku inginkan. Namun, hanya satu hal yang menjadi prioritasku saat ini.

Aku tak ingin melihat kalender atau apapun yang berhubungan dengan hari, bulan, atau yang semacamnya. Hanya akan membuatku risau. Oke, aku tahu aku galau, tapi aku bukan galau karena cinta. Otakku hanya berorientasi pada satu titik. Satu titik yang akan berpengaruh besar pada masa depan dan hidupku.

Apa yang dibutuhkan seseorang dalam hidup? Pasti salah satunya adalah kebahagiaan, kan? Dan, untuk mencapai kata 'bahagia' itu bisa ditempuh dengan berbagai macam cara, yang salah satunya adalah menata hidupmu dan memiliki nahkoda yang bisa membawamu mengarungi hidup hingga akhir hayat.

Kini, aku tengah mempersiapkan apapun yang berkaitan dengan masa depan. Sebenarnya tidak membutuhkan konsentrasi apapun, tidak seperti kita jika sedang menghadapi ujian masuk sekolah. Hanya membutuhkan kesabaran dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Seperti apa yang selalu diucapkan olehnya ketika aku sedang tidak berada dalam 'kondisi fit' - sang nahkoda cinta.

Rabu, 30 Juli 2014

One Spot

Seperti sebelumnya dan seperti yang sudah-sudah, aku tak pernah menyangka aku akan sampai di titik ini. Rasanya seperti mimpi, sungguh. Tapi, bukankah memang seperti itu? - bahwa manusia memang tak pernah tahu apa yang dirahasiakan dan dihadiahkan Tuhan untuknya? Asal manusia itu mau berdoa, berusaha, dan memohon dengan kesungguhannya, apapun yang diinginkannya akan terkabul. Tapi, aku takkan pernah berhenti mengucap syukur atas apa yang telah dihadiahkan-Nya untukku. Semua ini sungguh indah, dan tak pernah kuduga.

Sebuah titik dimana aku terjatuh dan kemudian aku menemukan harapan baru untuk masa depanku. Sebuah titik dengan bongkahan cahaya yang mahaterang, bersiap menuntunku menuju gerbang itu. Ini adalah anugerah. Dan, aku takkan pernah berhenti atau lupa kepada siapa aku harus mengucap syukur atas semua ini.

Jika kau bertemu Tuhan dalam tidurmu,aku titipkan pesan atas pertanyaanku,apakah Dia membuatmu dari semacam zat candu? Aku selalu merindukanmu...
(From : Soulmate.com by Jessica Huwae)

Kamis, 24 Juli 2014

Flashback Sebelum Memaafkan

Bergabung di sebuah komunitas itu sebenarnya bukan tipeku. Aku memang suka menulis dan membuat sebuah karya tulis. Tapi, aku kurang suka jika aku harus bergabung dengan komunitas penulis atau yang semacamnya. Itu mungkin ya sebabnya aku gagal mewujudkan impianku menjadi penulis menjadi kenyataan, hehe, oke lupakan! Aku lebih suka mempublikasikan karyaku dengan caraku sendiri. Seperti, yang pernah ada (sampai sekarang juga mungkin masih ada) sebuah situs dimana kita sebagai penulis bisa menerbitkan tulisan kita sendiri menjadi sebuah buku atau novel, layaknya penulis terkenal. Hanya saja, hingga saat ini aku belum sempat mencobanya, karena memang aku sudah jarang sekali menulis. Bukan karena malas, tapi aku tak punya cukup banyak waktu. Kecuali, jika ada jatah liburan panjang. 

Baiklah, kembali ke pembicaraan komunitas. Menurutku, sebuah komunitas bisa sangat menguntungkan dan bisa juga merugikan. Oke, semua hal memang ada plus-minusnya, aku percaya itu. Dan, semua hal juga pastilah ada untung-ruginya. Begitu pula lah yang terjadi padaku.

Aku mengaku bahwa aku memang beruntung bisa bergabung di sebuah komunitas (yang takkan kusebutkan namanya dan cukup hanya aku yang tahu). Aku pun berhutang banyak ilmu disana. Kemampuan menulisku memang tak pernah surut, namun aku merasa bahwa ilmu tentang dunis tulis-menulis itu sendiri yang bertambah.

Hanya saja, sebuah komunitas harus selalu bertemu dengan banyak kelompok orang per orang. Dan, mereka memiliki karakter dan perilaku yang berbeda-beda. Sifat dasar manusia adalah masyarakat yang majemuk. Karenanya, sudah sepantasnya jika kita harus bisa menerima segala perbedaan yang ada.

Aku tahu dan aku sadar itu semua. Hanya, terkadang aku merasa risih dan seolah merasa terganggu dengan apa yang ada di sekitarku. Aku merasa bahwa privasiku seakan terusik. Pada kenyataannya, aku tak pernah mengusik privasi siapapun. But, why? Yang ada justru malah aku yang tersudut dan sempat kehilangan milikku yang paling berharga.

Tapi, sudahlah. Itu adalah masa lalu. Aku hanya sedikit flashback. Sebelum hari yang fitri menjelang, aku ingin melupakan semuanya setelah sebelumnya aku memaafkan semuanya. Jadi, setelah aku menguburnya dalam-dalam aku tak perlu lagi mengingatnya. Aku hanya perlu belajar dari semuanya.

Sabtu, 19 Juli 2014

Islamic Day 2014

Bagaikan naik pesawat jet, hari lebaran sudah tinggal sebentar lagi. Setiap tahun hari lebaran selalu maju sekitar 11 hari. Jadi, tidak mengherankan juga jika lebaran kali ini jatuh pada bulan Juli. Semua orang tahu hari lebaran sama artinya dengan hari kemenangan. Oke, aku tahu apa maksudnya itu. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, maka semuanya bisa terbayarkan dengan perayaan hari lebaran. Itu adalah arti pada umumnya.

Kemudian, arti pada khususnya bisa jadi berbeda-beda untuk tiap-tiap individu. Tergantung dari apa yang mereka ingin capai di hari kemenangan tahun ini. Apakah menjadi lebih baik ataukah masih perlu perbaikan disana-sininya.

Sama juga denganku. Tiap tahun aku selalu menargetkan sesuatu yang harus aku capai di tahun berikutnya. Mungkin ada beberapa yang memang harus ditunda hingga tahun depan lagi. Tapi, dengan tidak mengurangi apapun yang menjadi porsi target itu sendiri.

Aku pun yakin, bahwa tak hanya aku saja yang memiliki impian yang bukan sekedar angan. Kamu juga. Semua orang juga. Iya, kan? Hanya, mungkin saja, cara untuk mewujudkan impian mereka dan caraku mewujudkan impianku berbeda. Itu sudah pasti, karena sifat manusia itu universal dan independen.

Ramadan tahun ini bagiku adalah ramadan terindah dan paling banyak memberikan kesan. Terutama, karena aku menghabiskan satu bulan berpuasaku bersamanya. Sungguh membahagiakan. Tak ada yang lebih berkesan selain berpuasa dengan orang terkasih, kan? Dan, ramadan tahun ini memang ramadan yang paling ber-momentum. Kenapa? Karena tepat pada ramadan ini pula Piala Dunia 2014 digelar, dan tim jagoanku, Jerman, yang notabene-nya baru menjadi juara dunia tiga kali itu memenanginya pada laga yang digelar 14 Juli lalu di stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil. Amazing! :D

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H! Mohon Maaf Lahir dan Bathin..."

Rabu, 09 Juli 2014

Indonesia on President's Election Day 2014

Juli 2014. 
Masa kepemimpinan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia akan segera berakhir. Dan, beliau sudah tidak mungkin lagi mencalonkan dirinya di pemilihan presiden untuk tahun berikutnya, meski mungkin banyak diantara masyarakat yang masih menginginkannya kembali menjabat. Ini adalah jaman orde baru. Bukan lagi di jaman Bapak Soeharto dimana beliau bisa menjabat sebagai presiden hingga 3 dekade berturut-turut.

Jika kita mau flashback ingatan kita ke jaman itu, tentunya kita tahu dan sadar apa yang salah dengan negeri ini hingga sampai mengalami keterpurukan, terutama dalam aspek Ekonomi. Banyak terjadi huru-hara, dan keadaan negara kacau-balau. Seolah kita kembali ke jaman penjajahan. Ya, mungkin saja tahun itu adalah tahun penjajahan dalam versi lain. Indonesia dijajah oleh rakyatnya sendiri. Dijajah oleh keegoisan bangsa ini sendiri. 

Tapi, tak ada asap jika tak ada api, dan tak ada akibat jika tak ada sebab. Itu semua adalah masa lalu bangsa ini. Masa lalu kita semua. Dan, dari itu semua kita bisa belajar. Belajar untuk sama-sama memperbaiki pilar-pilar bangsa yang nyaris roboh. 

Semoga saja dengan pemilihan presiden untuk masa jabatan tahun 2014 hingga 2019 ini bisa membuat Indonesia menjadi semakin baik dan bisa berkompetisi serta bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya di dunia. Itu adalah mimpi dan harapan kita semua, kan?

Senin, 23 Juni 2014

Diskriminasi

Apa itu diskriminasi? Jika dibahas rasanya agak janggal. Dalam pikiranku, atau mungkin juga semua orang yang menentang diskriminasi, mungkin berkata, "Hari gini masih ada diskriminasi? Tahun berapa nih?" Seperti hidup di jaman dimana kesemuanya masih dibawah otoritas tertentu. Tapi, mungkin memang benar begitu atau sistem itu sudah berubah seiring dengan silih bergantinya pemerintahan? Entahlah. Namun, yang pasti diskriminasi itu jelas masih merajalela hingga saat ini.

Diskriminasi memang bisa dilihat dari banyak bentuk, dan tergantung dari jenis diskriminasi apa dan di lingkungan yang bagaimana. Jelas, orang per orang yang menjadi korban diskriminasi atau mereka yang diperlakukan secara berbeda dari orang lainnya akan merasa tidak nyaman. Orang-orang seperti ini cenderung murung dan menyendiri. Mereka akan selalu merasa tidak percaya diri dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas sumber dayanya. Terutama, jika orang-orang ini adalah masyarakat yang tergolong dalam usia produktivitas aktif, yakni mereka yang berada dalam rentang usia 20 hingga 35 tahun.

Padahal Undang-Undang negara yang mengatur soal penghapusan diskriminasi sudah jelas-jelas diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Tapi, kok ya masih ada saja di berbagai tempat-tempat di wilayah negeri ini yang masih mengagungkan diskriminasi seperti ini. Atau, mungkinkah sebagian dari mereka tidak paham tentang hak asasi manusia? Karena, hal ini pun sedikit banyak berkaitan dengan hak asasi manusia.

Cukup merisaukan sebenarnya. Tapi toh, banyak dari mereka tidak memahamiya. Banyak pula dijumpai pemberlakuan diskriminasi yang berakibat buruk pada jiwa dan psikologis pada korban diskriminasi. Hingga pada akhirnya banyak pula dijumpai dari mereka para korban mencetuskan kalimat berbahaya, "Jadi, kalo aku mati, nggak ada yang peduli juga?" 

Seharusnya, jika mereka sadar akan hukum dan sisi psikologis manusia, diskriminasi tak perlu terjadi. Toh, untuk apa? Tidak ada manfaatnya. Yang ada hanyalah kerugian - rugi fisik, rugi pikiran, dan rugi tenaga, yang seharusnya ketiganya bisa digunkan untuk memikirkan hal lain.

Jadi, masih perlukah diskriminasi dipertahankan??

Rabu, 18 Juni 2014

Antara Iseng dan Sadar

Rasanya lama aku tidak update blog ini. Kesibukanku rupanya sudah cukup menyita waktu. Padahal baru sekitar bulan Mei kemarin aku terakhir menulis. Tulisan hari ini pun kubuat saat mataku sudah setengah tertutup kantuk, setelah sebelumnya aku iseng mengganti template blog ini. Sekedar ganti suasana, kupikir.

Banyak yang terjadi sepanjang dua bulan belakangan ini, baik itu yang menyangkut diriku sendiri ataupun orang lain. Kurasakan semuanya begitu kompleks. Mulai dari yang sedih, bahagia, was-was, berdebar-debar, hingga terharu. Aku mungkin tak bisa menceritakannya satu per satu, selain karena keterbatasan waktu juga mataku yang sudah tidak kuat untuk 'bekerja' lagi.

Singkat kata, kini aku bahagia. Ya, dan hal itu selalu kuamini setiap saat. Berawal dari sebuah iseng, kemudian berlanjut ke sebuah hubungan yang lebih serius. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur. Tuhan tidak akan mengabulkan permohonan manusia, apabila manusia itu tidak mau berusaha demi mencapai keinginannya. Dan, ungkapan itu memang benar adanya. Aku telah membuktikannya. Kebahagiaan ini aku anggap sebagai 'hadiah' atas usaha yang aku perjuangkan demi menggapai impianku.

Apapun yang aku rasakan sedih dan berkeluh kesah selama ini kuanggap sudah terbayar lunas, dan bahkan melebihi dari ekspektasi yang aku harapkan.

Mungkin aku memang sedih. Banyaknya masalah yang harus aku hadapi di kantor takkan menyurutkan sesuatu yang masih tersimpan dalam hatiku.

Tak jauh berbeda dengan apa yang aku tulis diatas, bahwasanya manusia hanya bisa memanjatkan doa dan berharap. Sesederhana itu. Usaha dan doa tak pernah terpisahkan, seakan mereka adalah satu 'paket'. Tak pernah berdiri sendiri dan tak pernah terlihat 'sendiri', keduanya harus selalu ada dalam hidup kita dan menjadi dasar sebuah keyakinan.

Senin, 05 Mei 2014

Learn to be A Writer

Terkadang kalimat 'Banyak Jalan Menuju Roma' itu bisa berarti banyak hal. Contohnya saja aku. Aku ingin menjadi penulis, tapi semasa sekolah, aku tak pernah mendapatkan nilai superior untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Padahal, seperti yang diketahui banyak orang, seorang penulis diwajibkan (oh tidak, bukan diwajibkan), setidaknya mengenal banyak kosakata dan istilah. Sedangkan aku? Tak banyak yang kuketahui tentang itu.

Sekitar tahun 2003, secara tidak sengaja aku menemukan sebuah artikel yang ditulis dalam bentuk web log atau yang lebih dikenal dengan blog. Tulisan yang sungguh menginspirasiku untuk mengikuti jejaknya membuat sebuah blog. 

Tujuan awal aku membuat blog hanyalah sebagai media tempatku mengasah kemampuan menulisku saja. Bukan ingin dibaca orang, apalagi dikomersialkan atau mengejar rating tertentu. Aku sama sekali buta dengan semua itu. Yang aku tahu hanyalah aku ingin menulis di blog yang telah aku miliki.

Namun, ternyata ada juga orang yang mengunjungi blog-ku dan membaca setiap postinganku. Menelusuri setiap patah kata yang aku torehkan. Dan, satu komentar masuk di kotak komentar blog-ku kala itu, "Tulisannya bagus sekali, Mbak. Kenapa nggak dijadikan buku aja?"

Mataku seketika membeliak tatkala membaca komentar itu. Oh benarkah? Sebagus itukah goresanku? Aku sama sekali tak menyangka. Tapi, benar juga, sejak saat itu aku mulai percaya diri menulis. Kupikir, menjadi seorang penulis tak harus memiliki ratusan judul buku. Menjadi seorang blogger saja sudah sama dengan menjadi 'penulis'. 

Lambat laun aku mulai serius mengurus blog-ku. Tak terasa sudah sekitar 11 tahun aku berkecimpung di dunia jurnalistik. Jika sebelumnya aku hanya menamai blog-ku dengan embel-embel platform blog itu sendiri, maka sekarang aku mulai memikirkan nama serta tema apa yang cocok untuk aku terapkan di blog milikku. Mungkin aku akan menjadikan blog-ku sebagai blog pribadi saja. Karenanya, aku mengambil nama lengkapku sebagai alamatnya, dengan tema yang sesuai dengan 'siapa aku'. Blog pribadi dengan sentuhan novel atau penggalan cerita pendek.

Mungkin memang ada tersedia banyak komunitas-komunitas blog yang bertebaran di dunia maya. Namun, ada satu yang menarik perhatianku. B Blog yang merupakan bagian dari CyberBuzz, anak perusahaan CyberAgent Inc., sebuah tempat dimana kita bisa mengembangkan bakat menulis kita dan dipublikasikan kepada masyarakat melalui metode penyebaran informasi.

Kupikir menjadi seorang blogger bukan tidak mendapatkan manfaat. Justru banyak sekali manfaat yang bisa aku ambil dari sini. Mulai dari bisa mengasah kemampuan menulisku, aku pun bisa dikenal orang melalui tulisanku, terkadang aku pun mendapat tawaran menulis artikel untuk sebuah online shop, hingga aku mendapat banyak teman dengan saling berkunjung ke blog mereka dengan meninggalkan sebuah 'jejak'. Dikatakan 'jejak' karena kita meninggalkan sebuah tulisan atau komentar atas posting yang mereka buat.

Disamping itu, kita pun juga dapat memasang statistik jumlah pengunjung blog kita per harinya dan dari negara mana saja. Atau, postingan-postingan mana saja yang paling banyak dibaca dan paling banyak dikomentari.

Jika kau adalah seorang yang suka menginspirasi seseorang lain dengan apa yang kau miliki yang tidak dimiliki orang lain, maka menjadi blogger merupakan langkah yang tepat. Tulisan-tulisan yang kau buat akan menginspirasi mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan demi membaca artikel ciptaanmu. Dan, itulah yang terjadi padaku. Aku bangga bisa menjadi inspirator bagi orang-orang yang memang setuju dengan pemikiranku.

Kendati demikian, menjadi blogger pun ada beberapa 'kode etik' yang harus diperhatikan. Diantaranya adalah :
  1. Usahakan setiap post yang ditulis adalah buah karya pikiran sendiri, bukan saduran atau copy-paste. Apalagi copy-paste yang sama persis. Jikalau memang harus copy-paste, kita wajib mencantumkan sumbernya atau website aslinya.
  2. Menggunakan bahasa lugas yang mudah dipahami oleh siapapun yang membacanya.
  3. Memposting postingan yang variatif agar menjauhkan pengunjung blog dari syndrome bosan. Dengan kata lain, jangan sampai pengunjung blog kita merasa bosan dengan tulisan-tulisan kita, alias monoton.
  4. Blog, menurutku seperti diary atau jurnal online. Jadi, curhat pun tidak dilarang asalkan sisipkan sesuatu yang menarik disana, seperti gurauan atau teka-teki.
  5. Usahakan memilih template blog yang sederhana tapi menarik. Menurut beberapa penelitian, pengunjung internet akan berpaling atau menutup web browser-nya apabila website yang dibukanya tidak dapat merespons selama kurang lebih 10 menit.
Kira-kira seperti itulah etika yang tidak tertulis tapi patut diketahui sebagai pembelajaran. Karena, setiap penulis pasti memiliki pembaca - dimanapun itu. Kita pun juga memiliki pembaca atau bahkan mungkin ada beberapa kelompok orang disana yang memfavoritkan blog kita. Who knows, kan? Untuk itu, sebisa mungkin kita harus bisa memanjakan para pengunjung setia kita dengan karya kecil kita.

:: Tulisan yang dibuat dalam rangka mengikuti B Blog Competition 2014 :: 

berpartisipasi dalam B Blog’s, I A.M a Blogger [3]

Acara ini diorganisir oleh B Blog Indonesia, dan disponsori oleh :
  • @princess_butik (http://www.instagram.com/princess_butik)
  • @japansoftlens (http://www.instagram.com/japansoftlens)
  • @keziashop (http://www.instagram.com/keziashop)
  • @kissindonesia (http://www.instagram.com/kissindonesia)
  • @lumiere_corner (http://www.instagram.com/lumiere_corner)
  • @galerikuku (http://www.instagram.com/galerikuku)

Sabtu, 19 April 2014

An Emotion Restraint

Jika aku bertanya pada siapapun perihal apa yang kurasakan dan apa yang aku lalui hingga detik ini, mereka pasti akan mengira aku orang gila atau yang semacamnya. Tapi, inilah aku. Aku mungkin selalu mencari 'Pangeran Impian'-ku sendiri, tapi aku tak pernah menemukan yang benar-benar kuinginkan. Hingga akhirnya aku menemukannya. Dia yang kukenal sekitar lima bulan lalu dan aku seperti sudah mengenalnya sejak lama. G yang selalu bisa menghapus dukaku, memberikanku semangat, menghujaniku dengan kata-kata cinta, tak alpa mengirimkanku sebuah 'mood booster' di kala pagi menjelang, dan senyuman yang selalu kurindukan.

Namun, aku memang harus bersabar dengan semua kemungkinan yang mungkin akan muncul. Aku tahu. Dan, selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Meski kesabaranku sudah teruji kala tak lelah menunggunya dibarengi dengan rentetan peristiwa memilukan, menyayat hati, dan mengoyak perasaan, toh aku tetap bisa berdiri dengan kedua kakiku dengan mempertahankan sebentuk cinta yang masih utuh dan selalu senantiasa terjaga tanpa ada retak sedikit pun. Cinta yang selalu ada dan abadi untukmu, G. Cinta yang tak lekang oleh waktu.

Aku tak akan mengingkari apa yang ada. Takkan mengingkari asal-usulku. Hanya saja, di dunia ini tak semua orang menyukai kita. Percayalah, pasti ada orang yang merasa bahwa kita tak pantas mendapatkan yang terbaik, atau yang senada dengan pernyataan itu. Karenanya, diperlukan sebuah porsi kesabaran yang di luar kata 'biasa'. "Terkadang, sebuah komunitas itu bisa sangat kejam dan jahat," seperti itulah kira-kira.

Anggaplah melatih kesabaran itu layaknya terapi jantung. Jadi, semakin hari kau menjalani terapi itu lambat-laun kau akan terlatih, namun kau tetap menjadi dirimu sendiri tanpa mengubah apapun. Jika sebuah terapi kesehatan yang dilakukan pada pasien penderita penyakit tertentu akan membuat pasien itu menjadi lebih baik dan tak lagi merasakan sakit, maka terapi kesabaran seperti yang aku bicarakan diatas akan menjadikan kita sebagai sosok yang lebih baik dan lebih bisa mengendalikan emosi.

Jumat, 18 April 2014

Airmata Yang Terbayarkan

Tak ada yang lebih membahagiakan selain menggantikan airmata dengan senyuman. Bukan nilai airmata yang menjadi sorotanku, tapi 'perjalanan' airmata itu sendiri sehingga bisa menjadi airmata kebahagiaan atau 'airmata yang terbayarkan'.

Kusebut sebagai sebuah 'perjalanan' karena memang tak mudah aku melalui semuanya, jika tak ada yang menguatkanku. Cinta dan Tuhan.

Ya, dua kata itu seolah seperti sihir yang mampu membuatku tegar dan kokoh dalam terpaan badai. Aku mungkin keras kepala dan terlihat 'baik-baik' saja diluar, meski dalam hati aku merasakan sakit luar biasa. Sakit tak tertahankan karena perasaan cinta terdalam yang terluka oleh sayatan pisau mahatajam. Entah bagaimana aku bisa survive, karena yang terlintas kala itu hanyalah satu : mati.

Jika bukan karena cinta yang seolah seperti sudah mendarah-daging, dan karena aku manusia yang masih ber-Tuhan, tulisan ini mungkin takkan tersurat dengan kesepuluh jariku hari ini. Dan, aku mungkin takkan lagi menghirup udara serta menginjakkan kakiku lagi di muka bumi ini. Tapi, tidak. Cinta yang bersemayam di hatiku lebih kuat dari itu semua. Cinta yang membuatku bertahan, meski sebelah kakiku seolah tak lagi menapak tanah.

Dan, seolah terbangun dari rentetan panjang mimpi buruk dan black-hole yang siap menelanku hidup-hidup, aku merasakan tubuhku begitu ringan dan tak ada lagi beban yang kurasakan. 'Sihir' itu benar-benar bekerja. Aku masih hidup.

Airmata yang kuteteskan bukan tidak memiliki makna. Nyatanya, airmata kesedihan itu menjelma menjadi airmata kebahagiaan yang benar-benar memiliki makna yang berbeda. Menyapukan keseluruhan duka dalam palung hati dan membersihkan sukma, menjadikanku sosok yang nyaris sempurna. Aku menyebutnya sebagai 'Keajaiban Cinta'.

"G, kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan atas setiap doa yang kupanjatkan. Kau adalah 'hadiah' yang diberikan Tuhan atas permohonan dalam setiap tetes airmataku. Terima kasih, Tuhan."

Senin, 31 Maret 2014

Trip and Traveling

Kalo bicara soal perjalanan atau istilah kerennya traveling, aku selalu terpikirkan ke sebuah tempat eksotis yang notabene-nya belum pernah terjamah tangan-tangan manusia. Tak harus juga melancong pergi jauh ke negeri orang, jika di negeri sendiri banyak tempat-tempat yang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata.

Tapi, untuk sementara ini, yang terpikirkan di otakku hanyalah satu tujuan destinasi : Bali. Satu tujuan yang selalu menari-nari di benakku sejak aku mengenalnya beberapa bulan lalu. Aku ingin menemuinya, dan menikmati keindahan kota tempatnya tinggal. 

Mungkin benar apa kata orang jika seseorang yang bekerja bisa dipastikan dan hampir pasti membutuhkan beberapa tujuan wisata atau berlibur untuk menyegarkan pikiran dan membuang penat agar otak kembali dapat beroperasi dengan sebagaimana mestinya.

***

Denpasar, Bali, 31 Maret 2014...

Sudah lama sekali aku tak mengunjungi pulau ini sejak terakhir kali aku kemari dalam rangka karyawisata SMA sekitar tahun 2002 lalu. Tak banyak yang kuingat ketika aku meninggalkannya dengan tidak membawa kenangan apapun, selain roll film kamera sakuku yang habis sama sekali kala itu, padahal banyak momen indah yang belum terpotret. Menyesal, sih, tapi dalam hati aku berharap kelak aku mendapat kekasih yang tinggal di pulau ini dan bisa tinggal disini, menjadi milik berdua, tak hanya sekedar membidik sebuah panorama.

Dan, Tuhan memang MahaMendengar. Seperti mimpi, aku benar-benar berada disini, di Bali, bersama dengan kekasih hatiku yang sangat aku sayang dan cintai. Mengukir kebersamaan berdua dan berbincang-bincang menatap matanya. Seakan masih belum percaya, aku mencubit lenganku sendiri. Dan, aku nyata!
Kebun Raya, Bali

Cuaca pulau Bali mungkin memang panas, dan kupikir memang lebih panas dibandingkan dengan di Surabaya yang panasnya pernah mencapai 40 derajad Celcius sekalipun. Tapi, aku tak menghiraukannya. Kulitku seperti kulit kebanyakan turis, yang bisa kembali ke warna semula ketika terkena panas. Dan, aku memang tak merasakannya. Yang kurasakan hanyalah sejuknya hatiku kala berdekatan dengannya.

Tanggal 31 Maret adalah saatnya masyarakat Hindu di Bali merayakan Nyepi. Baru kali ini aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri perayaan Nyepi di Bali secara langsung, yang biasanya aku hanya melihatnya dari layar kaca atau hanya membaca di media cetak. Hanya saja, aku tak sempat mengabadikan momen apapun perihal perayaan Nyepi ini karena memang momennya tidak tepat. Selain upacara adat yang dikenal keramat, banyaknya ogoh-ogoh yang sedikit membuatku merinding, juga kemacetan lalu lintas yang tidak memungkinkan aku untuk membidik salah satu scene-nya. Tapi, toh, aku tidak mempermasalahkannya. Tujuanku ke kota ini adalah untuk dia, bukan untuk mengejar obyek foto.

Bali memang indah. Dan, bersamamu, adalah yang utama dari semua rangkaian perjalananku. Aku tak mempedulikan apapun, termasuk jatah cuti kantor yang kuhabiskan selama satu minggu lebih. Mungkin aku tak ingin kembali ke habitatku sendiri, tapi aku harus, sambil dalam hati terus berharap aku akan bisa kemari lagi dengan satu bentuk cerita yang lain.

:: Saat Nyepi, Bali seperti kota mati, gelap dan sepi - Denpasar, 31 Maret 2014 ::

Selasa, 11 Februari 2014

A Golden Box

Seringkali kudengar pendapat orang bahwa cinta itu indah. Ya! Indah jika cinta itu layaknya barang yang bisa kau beri nama dan selalu kau kunci dalam peti peyimpanan agar tidak hilang atau raib. Namun, bukan cinta namanya jika cinta itu selalu kau kurung dalam sangkar emas dan sama sekali tak dibiarkan bebas. Terkadang, kau harus merelakannya bebas, dengan beribu ancaman yang mungkin mengancam cinta itu sendiri.

Meski kau tak ingin, tapi kau harus. Cinta punya jalan sendiri untuk menemukan pasangannya. Seperti anak kunci yang selalu menemukan panelnya agar daun pintu dapat terbuka.

Sedih. Satu kata jahanam yang mampu mengucurkan miliaran butiran airmata hingga nyaris tak tersisa. Apa? Itukah cinta?

Mungkin menangis tak menyelesaikan masalah. Tapi, setidaknya itu bisa membuatmu lega. Cinta yang kurajut dengan benang kusutku, apa artinya jika pada akhirnya harus terpaksa kurelakan ia pergi? Meski itu berat, aku bisa apa? Apa yang bisa kulakukan di posisi ini? 

Seharusnya aku menyesal mengenalnya, dan seharusnya aku melupakannya. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Dia adalah hadiah terindah yang diberikan Tuhan atas pengharapanku. Dan, aku akan selalu menjaganya sepenuh hatiku - dalam sebuah kotak berlapis emas dalam palung hati yang teramat indah.

Satu kedamaian tak tergantikan dengan menyimpanmu disana. Selalu mengalunkan melodi dalam setiap helaan napas dan detakan jantungku.

"Aku (selalu) Sayang Kamu, G."

Jumat, 03 Januari 2014

New Year, New Stuffs

Awal tahun yang membahagiakan. Yah, walaupun bagi sebagian orang tak berpikir demikian. Tapi, setidaknya, tahun baru selalu membawa energi positif bagi setiap mereka. Ada yang setuju pendapat ini? Bisa dibayangkan, satu contoh saja, apabila di tahun sebelumnya masih menyimpan satu kendala yang belum terpecahkan, maka orang pasti akan berpikir untuk mencoba menyelesaikannya di tahun berikutnya. Paling tidak, di trimester tahun pertama yang diharapkan mampu membawa hasil yang cukup memuaskan.

Kalau melihat dari apa yang terjadi padaku, mungkin aku memang punya banyak sekali (bukan hanya banyak) harapan dan keinginan yang belum tercapai. Bukan karena aku malas, tapi lebih kepada kesempatan untuk mewujudkan semuanya terlampau kecil dan sempit. Namun, bermodalkan 'percaya', satu kata ajaib yang mampu menyihir sesuatu yang rasanya mustahil menjadi tidak mustahil.

http://www.lazada.co.id/
Termasuk juga, ketika seseorang menginginkan suatu barang yang telah lama diimpikan, tapi ternyata harus terkendala harga yang selangit. Hal itu mungkin tidak lagi berlaku jika pada satu momentum tertentu harga yang selangit itu bisa lebih terjangkau karena adanya potongan harga atau diskon. Ya! Kalau dengar kata diskon, rasanya telingaku jadi membesar dan melebar bak gading Gajah. Bagaimana tidak? Lihat saja di salah satu toko online ini. Hampir semua barang memiliki potongan harga yang tidak main-main. 

Berbagai kebutuhan pokok dan tersier yang banyak diincar masyarakat pada umumnya semuanya tersedia. Dengan dilengkapi keamanan yang terjamin dan sistem pembayaran yang mudah menjadikan toko online ini salah satu toko online terbesar dan terpercaya di Indonesia. Tak hanya itu, jangkauan pengiriman yang luas hingga daerah pelosok juga memberikan nilai tambahan bagi toko online ini.

Tahun baru memang tidak harus semuanya baru, hanya paling tidak, masyarakat memerlukan peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Mungkin jika 'window shopping' di toko online ini tak ada salahnya juga, karena siapa tahu akan tertarik pada suatu barang impian dan harganya pas di kantong. 

Jadi, Selamat Berbelanja dan Selamat Tahun Baru 2014! :)