Back to Nature

Sebuah perayaan hari besar atau yang sering orang bilang dengan hari raya merupakan sesuatu yang sakral dan lekat sekali dengan kehidupan manusia. Tak dapat dipungkiri suka atau tidak, sebuah perayaan itu memang akan selalu dilakukan dan tak pernah alpa untuk segala sesuatunya. 

Sama halnya seperti perayaan hari raya Lebaran yang begitu kental dengan tradisi masyarakat Indonesia. Tradisi pulang ke kampung halaman yang tak pernah terlupa senantiasa menghiasi meriahnya perayaan ini. Alhasil--kau tahu--kau akan bisa menghitung berapa banyak kendaraan yang melintas di area jalanan ibukota yang biasanya selalu macet kini sungguh-sungguh lengang, sampai-sampai kau mungkin bisa menggunakan jalanan itu untuk bermain bola. Saking sepinya! 

Urbanisasi. Hal inilah yang menjadi satu-satunya alasan mengapa jalanan ibukota begitu sepi dan sangat jarang sekali ditemui kendaraan melintas seperti apa yang terjadi disaat hari-hari sibuk dimulai, seperti biasanya. 

Namun, memang seperti itulah yang dinamakan dengan pemerataan kependudukan. Masyarakat berpindah dari satu kota ke kota yang lain karena ingin mengadu nasib dan ingin mendapatkan kehidupan perekonomian yang layak. Karenanya, mereka melakukan perpindahan domisili--dengan tidak menghapus dari mana mereka berasal. 

Untuk alasan itulah, yang pada akhirnya kemudian dikenal dengan istilah pulang kampung--atau, back to nature. Mereka akan kembali ke daerah asalnya masing-masing untuk melepas rindu dengan keluarga yang telah mereka tinggalkan dalam waktu yang lumayan lama demi sebuah pekerjaan. Dan, momentum seperti inilah yang banyak ditunggu-tunggu oleh sebagian besar masyarakat muslim yang merayakan Lebaran. 

Menyenangkan. 
Karena inilah sebuah kebersamaan, yang tidak bisa digantikan dengan berapa pun pundi-pundi rupiah yang kita miliki... 

Tradisi yang Tak Pernah Berubah

Indonesia adalah negeri yang unik--setidaknya begitu kata orang dari berbagai penjuru dunia. Indonesia memiliki beraneka ragam budaya yang tidak ditemui di belahan negeri mana pun. Beranekaragamnya budaya dan ras suku bangsa itulah yang menjadikan Indonesia sebagai negeri yang unik. Mungkin bagi sebagian orang hanya menganggap bahwa Indonesia hanya sebelah mata saja demi melihat semua keunikan itu--menganggap bahwa suatu negara memang memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Namun, apa yang mereka pikirkan adalah salah besar. Ketika mereka mengatahui sisi unik negeri ini yang sesungguhnya, mereka mungkin akan segera menarik ucapannya saat itu juga.

Keunikan budaya-budaya itu tentu saja akan melahirkan banyak tradisi yang sangat kental. Semakin banyak suku bangsa yang dimiliki oleh sebuah negeri, maka akan semakin unik sebuah negeri itu dipandang. Mungkin memang tak semata-mata bahwa apa yang tampak diluar sudah pasti bagus di dalam, namun dari sekian banyak kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, siapapun yang melihatnya akan merasa takjub.

Tradisi yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun, dari satu generasi ke generasi berikutnya adalah tradisi meletupkan petasan saat menjelang malam takbir pada malam Lebaran keesokan harinya. Saya terkadang heran, apa gunanya meletupkan petasan?--dan terlebih, apa hubungannya malam menjelang Lebaran dengan petasan? Itu yang jadi pertanyaan saya sejak dulu.

Petasan sesungguhnya digunakan pertamakali pada perayaan tahun baru China atau yang biasa dikenal dengan Imlek. Memang benar bahwasanya Islam dibawa pertamakali masuk ke Indonesia oleh pedagang yang bukan berasal dari Indonesia, namun bukan berarti bahwa tradisi-tradisi yang tidak berkaitan itu lantas dikait-kaitkan. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dijadikan sebagai tradisi turun-temurun yang melekat erat dan tidak bisa dihilangkan. Jika dibahasakan secara modern, ini dinamakan sebagai trademark.

Namun, mungkin sejak saat itulah petasan begitu melekat pada perayaan Lebaran yang merupakan hari raya kemenangan bagi umat Islam. Kemeriahan yang terpancar di berbagai belahan dunia yang juga merayakan Lebaran atau EID Mubarak ini pun semakin meriah karena senantiasa diiringi oleh letupan petasan dimana-mana. Dar! Der! Dor!

Apapun itu--baik diiringi suara letupan petasan atau tidak--akan selalu menghadirkan kerinduan di benak saya. Selalu mengingatkan saya akan kebesaran Tuhan semesta alam. Selalu menyadarkan saya bahwa saya masih diberikan kesempatan mendengarkan suara-suara itu meski saat ini saya tengah menderita sakit, dimana saya (sementara waktu ini) hanya bisa mendengar dengan sebelah telinga saya, karena sesuatu hal. Saya tetap bersyukur--apapun itu. 

Saved!

Tak ada yang lebih melegakan ketika kau mendengar bahwa semua masalahmu terselesaikan tanpa merugikan pihak lain. Oke, setidaknya itulah yang terjadi. Setelah sebelumnya aku memiliki bermacam-macam pikiran buruk dan berbagai macam prasangka negatif, oh sudahlah, mungkin aku memang tergolong orang yang terlalu underestimate

Aku memang tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa memang aku khawatir akan membawa dampak yang lebih besar lagi jika tidak segera ditangani--dan, kekhawatiran itu melebihi apapun yang membuatku takut setengah mati hingga nyaris membuat kakiku lemas tanpa daya dan seakan aku tak ingin bertemu siapa pun. 

Mungkin memang berlebihan ya, tapi apapun itu harus tetap aku hadapi. Melarikan diri hanya akan membuatku menjadi seorang pengecut, dan aku bukan orang seperti itu. Percayalah, setakut apapun aku, seberat apapun bebanku, aku bukan orang yang mudah menyerah--meski terkadang aku selalu membutuhkan dukungan dari orang-orang yang aku sayangi. 

Dan, setelah semua terselesaikan--kau tahu--rasanya aku ingin berguling-guling di lantai bak anak anjing yang bahagia ketika mendapati tuannya pulang ke rumah dengan membawa sekeranjang sosis mentah, hanya untuk ia makan seluruhnya. Aku terselamatkan! Haha, sudahlah, bagaimana mengungkapkan seonggok perasaan lega yang membuncah? Unpredictable!

Memaafkan adalah Absolut

Juni, tahun 2016. 

Puasa hanya tinggal menghitung hari. Karena hanya tinggal beberapa hari ke depan semua umat muslim akan merayakan hari raya--Lebaran. Menurut saya, sama halnya dengan perayaan Valentine atau hari kasih sayang lainnya yang dirayakan tiap tanggal tertentu. Lantas, jika saya bertanya, 'apakah pada waktu hari dan tanggal itu saja kau merasa sayang terhadap orang tersebut? sedangkan hari-hari sesudahnya kau hanya menganggapnya sebagai hiasan?', maka tentu jawabannya adalah 'tidak'. Karena, ya memang benar, kodrat hidup manusia adalah makhluk sosial. Maka, bagaimana pun juga, apapun yang dilakukan dengan sengaja atau tidak, akan menimbulkan rasa tidak enak hati dengan sesamanya. Disinilah peran memaafkan dalam artian memaafkan yang absolut diperlukan. 

Namun, bukan  hanya memaafkan yang sekedar memaafkan dengan berjabat tangan disertai senyuman (yang agak memaksa) lalu pergi dan berlalu begitu saja. Oleh karenanya, saya mengatakan maaf yang absolut, dimana model memaafkan yang seperti itulah yang diperlukan. Tulus dan ikhlas yang didasari oleh rasa demi kemanusiaan. 

Sekali lagi saya katakan bahwa tak mudah menjadi sosok manusia yang bisa benar-benar ikhlas dalam hal-hal tertentu. Dalam banyak penggambaran kata, ikhlas dikategorikan sebagai sesuatu yang sungguh sulit dilakukan melebihi soal logaritma yang paling rumit sekali pun. Ikhlas diibaratkan sebagai ujian akhir tatkala kau usai mengarungi hidupmu bertahun-tahun lamanya. Pun, memaafkan membutuhkan semua komponen itu. Jika kau belum bisa memenuhi salah satunya, maka ucapan maaf yang kau berikan bukan berasal dari hati. 

"Happy Eid Mubarak for all!" 
- Mohon Maaf Lahir dan Bathin - 

Mistaken Identity

Satu kata penyesalan mungkin tak akan dapat menjawab mengapa aku harus mengatakan ini, "Aku menyesal mengapa aku harus ke kantor hari ini tadi..., lalu apa jadinya jika aku tidak berangkat...? Mungkin ini semua takkan terjadi...,' Aku menyesalkannya. Seakan aku berat melangkahkan kakiku pada awalnya mungkin suatu pertanda, namun tak kuhiraukan. Kupikir aku hanya malas saja seperti biasanya. Tapi aku salah. Dan, inilah kesalahanku. 

Satu kesalahan identitas yang kuanggap benar. Tiba-tiba saja aku merasa seolah aku sedang tidak bekerja, dan entah dimana pikiranku saat itu. Apa yang kupikirkan? Apa yang telah kulakukan? Aku seperti kehilangan konsentrasi dan kendaliku. Aku mengakuinya... aku salah--ya, dan kuharap aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaikinya. 

Sekali lagi...., sekali lagi aku berharap pada sebuah kesempatan, yang aku sendiri merasa kesempatan ini sudah tak ada lagi untukku. Siapa aku? Aku hanyalah manusia yang hanya bisa menuntut tanpa bisa melakukan apa-apa. Ketika semua orang di dunia berlomba-lomba untuk memberikan yang terbaik, apa yang lantas bisa aku lakukan? Tak ada. Aku seolah tidak hidup di dunia nyata. Aku seolah terasing dari duniaku sendiri. 

Tentang sebuah konsekuensi. Kuharap tak ada sesuatu pun yang mengkhawatirkan. Ya, aku tahu, itulah harapan--yang aku sendiri merasa sudah tak ada lagi kata harapan yang akan menghampiri hidupku--yang terbaik yang bisa aku ikrarkan. Hanya berucap dan (yah, seperti yang kau tahu) ucapan sama dengan doa. 

Aku hanya ingin bersikap baik. Mengapa susah sekali melakukan suatu kebaikan? Apakah para malaikat juga merasakan kesusahan seperti ini ketika mereka membantu umat-umatnya? Kupikir tidak. Malaikat tidak sama dengan manusia, dan begitu pula sebaliknya. Kembali, aku tak ingin menghujat apapun. Aku hanya bisa pasrah menerima ini semua. Toh, aku pun tak bisa melakukan apa-apa, semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat aku sadari. Jika aku bisa, aku ingin memutar kembali waktu yang telah berjalan ini mundur ke saat dimana aku belum melakukan apapun. Jika saja aku bisa....

Aku Hanya Ingin Kamu Tahu

Jika aku selalu mengeluh tentang waktu, maka aku takkan melakukannya lagi. Baiklah, jika apa yang telah kulakukan adalah salah, maka aku ingin meminta maaf. Manusia selalu tak pernah jauh dari kesalahan selama napas masih berhembus. Aku tak sepantasnya menghujat apa yang bukan menjadi bagian dari wewenangku. Pada akhirnya, aku tersadar bahwa aku hanyalah manusia biasa tanpa memiliki kelebihan yang cukup berarti. 

Ketika aku dihadapkan pada sebuah pilihan yang menurutku tak pernah mudah, aku tahu, pilihanku hanya ada dua--memilih atau tidak sama sekali. Tapi, aku tahu apa yang terbaik untukku. Dan, pilihanku tak pernah salah.

Pilihanku adalah kamu.

Mungkin kamu berpikir bahwa aku terlalu berlebihan hingga aku menuliskan ini untukmu. Tidak! Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Mencintaimu, adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan. Mencintaimu tak pernah semudah aku mengganti sepatu kerjaku setiap hari. Mencintaimu lebih dari segalanya.

Seandainya pun Tuhan memberiku sebuah kelebihan yang bisa melihat masa depan, aku tak ingin melakukannya untuk kita. Masa depanku biarlah tetap menjadi misteri, dan aku tak akan pernah ingin mengetahuinya. Tidak sekali pun--meski terkadang keingintahuan itu ada. Aku dan kamu adalah misteri dan rahasia Tuhan. Aku hanya ingin berusaha sebaik mungkin, demi kita, dan semuanya.

Dan...,
Kamu tak pernah sendirian...

Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada disini untukmu. Selalu. 

Memilih Tujuan Wisata Sesuai Kepribadian

Lebaran akan segera tiba. Bagi warga pendatang di sebuah kota besar umumnya akan mempersiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman masing-masing demi memenuhi kewajiban bersilahturahim. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki kampung halaman alias warga asli suatu kota tertentu, pasti akan memikirkan sebuah destinasi wisata untuk menghabiskan waktu berlibur yang lumayan panjang.

Begitu banyak situs yang menyediakan referensi destinasi wisata bagi masyarakat penggila traveling. Bermacam-macam situs yang dapat dijadikan panduan traveling dengan berbagai macam pilihan paket wisata, dan pilihan budget. Mulai dari paket wisata dengan budget kecil atau pas-pasan hingga sebuah paket wisata dengan budget berlebih yang lengkap dengan akomodasi transportasi sebagai akses menuju ke lokasi yang dimaksud. 

Namun, tahukah kalian bahwa sebuah destinasi wisata bisa juga lho disesuaikan dengan karakter atau kepribadian kalian. Tiap-tiap manusia pasti memiliki kepribadian masing-masing yang tidak dimiliki oleh manusia yang lainnya. Berikut ini beberapa destinasi wisata yang telah saya rangkum menurut zodiac sign kalian. Simak yaa.....

Capricorn yang dilambangkan dengan kambing jantan merupakan zodiak pekerja keras dan selalu menjadi pemimpin dalam perjalanan. Zodiak ini juga menyukai tantangan dan senang memasang target untuk dirinya sendiri, bahkan target yang terdengar mustahil. Namun, bukan berarti mereka harus menlakukan perjalanan yang menguras fisik dan mental. Traveler berzodiak ini sangat menyukai sejarah, maka tak heran jika mereka memilih menginap di sebuah hotel tua seperti di Praha atau Taman Nasional Baluran.

Traveler yang terlahir di bawah naungan zodiak berlambang penuang air ini memiliki jiwa penasaran yang sangat tinggi. Aquarius juga tertarik dengan segala hal yang berbau politik dan kemanusiaan. Sehingga, Berlin adalah sebuah destinasi yang cocok untuk mereka, karena banyak sekali terdapat museum dan galeri yang pastinya disukai oleh para Aquarian. Mereka juga dikenal sebagai pemikir yang terkadang membutuhkan waktu berlibur agar bisa menyendiri dan menenangkan diri sejenak. Kawasan Tanjung Ringgit di Lombok Timur bisa menjadi pilihan mereka. 

  • PISCES (19 Februari - 20 Maret) 
Zodiak berlambang ikan ini memiliki jiwa sosial yang tinggi dan pemimpi. Mereka tenang dan juga sedikit sensitif yang selalu ingin mengikuti arus agar dapat menyerap energi positif dari sebuah tempat yang indah. Jepang dan Hawaii adalah tempat berwisata yang cocok bagi mereka yang memiliki resort yang indah dan menyenangkan. Atau, Raja Ampat yang memiliki keindahan alam yang mahadahsyat sembari berinteraksi dengan anak-anak lokal disana dan berbagi ilmu yang kalian miliki.

  • ARIES (21 Maret - 19 April)
Pemilik zodiak Aries adalah mereka yang menyimpan energi yang tinggi. Seorang traveler yang sangat aktif dan senang mengeksplorasi hal baru. Biasanya daerah yang panas menjadi tujuan mereka, seperti Dubai, Kepulauan Karibia, Afrika, atau melakukan pendakian di Gunung Bromo bisa menjadi pilihan tepat demi menyalurkan energi yang berlebih tersebut. 

  • TAURUS (20 April - 20 Mei) 
Taurus yang bersimbol banteng ini berkarakter solid, sensual, dan penyuka kemewahan. Taurus juga dikenal sebagai pribadi yang keras kepala yang menginginkan liburan dengan tema yang santai dengan pelayanan yang memuaskan. Maka, mereka akan sangat menikmati perjalanan ke Sonoma County di California dimana mereka bisa bersantai sambil mencicipi Anggur. Atau, mengunjungi berbagai tempat di Bali, mulai dari Uluwatu hingga Pura Besakih demi memuaskan rasa determinasi mereka yang tinggi. 

Gemini adalah tipe zodiak yang sangat suka bersosialisasi. Dalam hal traveling, mereka cenderung menyukai keramaian. Kota multikultural yang menyajikan pesona wisata yang tak pernah sepi pengunjung layaknya London akan menjadi destinasi favorit mereka. Juga, Malaysia dan beberapa lokasi di sekitarnya, seperti Kuala Lumpur dan Penang dan segala kesibukannya, serta Pantai Langkawi yang sangat cocok untuk naluri petualangan yang ada dalam diri mereka. 

  • CANCER (22 Juni - 22 Juli) 
Zodiak berlambang kepiting ini dikenal sebagai pribadi yang sensitif dan sentimental. Mereka adalah tipe traveler yang lebih suka menghabiskan waktu bersama keluarga. Tempat-tempat yang didominasi oleh air, seperti sungai dan laut adalah tujuan utama mereka untuk bersantai bersama pasangan atau anak-anak. Yunani adalah tempat yang sesuai dengan karakter mereka, selain mereka harus berwisata di kampung halaman masing-masing. 

  • LEO (23 Juli - 22 Agustus)
Orang-orang yang berada di bawah naungan zodiak berlambang singa ini sangat suka dengan kota yang glamor, mewah, dan kaya budaya. Mereka cenderung sering bergantung pada mood yang akan dapat mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka. Karenanya, mereka akan cocok jika berwisata ke Universal Studio atau Legoland. Juga Paris tempat dimana mereka bisa menghabiskan waktu menikmati alunan musik dan festival layaknya dalam sebuah istana kerajaan.

  • VIRGO (23 Agustus - 22 September) 
Dalam hal traveling, Virgo yang dilambangkan dengan gadis perawan ini tergolong sangat perfeksionis dan rencana yang matang sebelum berpergian. Meski harus berjalan kaki untuk menuju lokasi wisata pun mereka tidak mempermasalahkannya. Maka, akan sangat cocok jika mereka berwisata ke Roma karena lokasinya yang memang berpotensi untuk dijelajah dan dipelajari. Atau, jika ingin di dalam negeri saja, mereka bisa menjadikan Pulau Puhawang Kecil di Lampung sebagai referensi.  

  • LIBRA (23 September - 21 Oktober) 
Libra yang dilambangkan dengan timbangan ini mirip dengan Gemini yang suka bersosialisasi. Namun, karakteristik utama mereka adalah pencinta kedamaian. Karenanya, mereka akan sangat cocok jika berpergian ke Spanyol yang dipenuhi oleh orang-orang yang bersahabat. Atau, ke daerah-daerah Timur Indonesia serta hotel bernuansa romantis dimana mereka bisa bersantai bersama pasangan yang menjadikan liburan ala Libra menjadi sempurna.

  • SCORPIO (22 Oktober - 21 November) 
Bagi Scorpio, liburan paling ideal adalah sesuatu yang berkaitan dengan penjelajahan. Tempat-tempat yang beriklim hangat akan menjadi tempat favoritnya dimana mereka bisa bersantai dengan hanya menggunakan kaos dan celana pendek. Bandung atau Yogyakarta bisa dijadikan referensi tujuan wisata di dalam negeri. Atau, jika ingin berpergian ke mancanegara, Venesia adalah tempat terbaik buat kalian dengan semangat yang tinggi. 

Sagittarius adalah zodiak pencinta jalan-jalan dengan tema petualangan. Mereka sangat antusias dan ingin menikmati keindahan seluruh negara di dunia. Selain itu, mereka juga menyukai budaya-budaya yang berbau mistis. Maka, mereka akan sangat cocok jika berpetualang ke Mesir yang kaya akan sejarah. Atau, mereka juga bisa menghabiskan waktu berlibur mereka dengan mengunjungi Wae Rebo di Flores tempat mereka menambah pengetahuan tentang budaya. 


Mungkin, hanya itu yang bisa saya tulis disini. Selebihnya masih ada banyak sekali destinasi-destinasi yang tidak bisa saya tuliskan satu-persatu, karena sebenarnya destinasi wisata itu beragam dan penuh varian. Semuanya bisa dipilih tergantung mood pada masing-masing individu. Bisa saja hari ini kau ingin ke destinasi A, lantas hari berikutnya kau mengatakan hal yang berbeda lantaran melihat diskon khusus dari sebuah agen travel tertentu. Hal yang semacam itulah yang saya maksudkan sebagai mood dan keinginan. Tapi, satu yang mendasari itu semua adalah niat. Niat bahwa memang kau ingin benar-benar berwisata, dan bukan karena sebuah alasan 'sambil menyelam minum air'. 

Tumblr Diblokir?

Beberapa waktu lalu saya mencoba membuka akun Tumblr yang telah saya miliki sejak beberapa tahun lalu, meski mungkin saya jarang memakainya karena sesuatu hal. Namun, saya tidak mengerti apa yang terjadi dengan akun tersebut, yang jelas susah sekali akses untuk menuju kesana. Alih-alih berpikir bahwa mungkin saja paket internet saya habis atau jaringan internet di daerah saya sedang tidak bersahabat, saya malah mendapati sebuah berita bahwa akun Tumblr akan ditutup. Benarkah?? 

Berita yang saya temukan itu memang bukan berita terbaru. Berita itu ditulis oleh sebuah website sekitar empat bulan yang lalu, yang mengatakan bahwa Tumblr akan diblokir. Mau tidak mau saya terpaksa mengait-ngaitkan hal ini dengan susahnya saya mengakses situs tersebut beberapa hari terakhir. Mungkin memang benar Tumblr akan menemui ajalnya. Tapi, pertanyaan saya hanya satu: kenapa?!

Saya lihat selama ini Tumblr tidak pernah melanggar apa yang menjadi larangan sebuah situs beredar di Indonesia, terutama untuk situs jejaring sosial yang sangat-sangat menjadi perhatian publik, lantaran maraknya peristiwa-peristiwa mengkhawatirkan yang terjadi di negeri ini disebabkan unsur pornografi yang beredar di dunia maya. Tapi percayalah, Tumblr jauh dari itu semua. Justru, situs berlatarbelakang warna navy blue ini seringkali memperlihatkan bahwa ia adalah sebuah platform mikroblog paling aman tempat para netizen memamerkan pesona-pesona negeri dari daerahnya masing-masing. Itu yang saya tahu. Karena, terkadang saya terinspirasi dari gambar-gambar dari situs ini untuk membuat sebuah tulisan yang berkaitan dengan pesona alam. 

Lantas, apa yang ada di benak Menteri Telekomunikasi dan Informatika (Menkominfo) Indonesia berencana memblokir situs ini? Apa yang ia lihat dan temukan? Apa yang menjadi dasar keputusannya? Saya berani bertaruh bahwa apa yang ia rencanakan akan ditentang oleh sebagian besar netizen Indonesia, bahkan mungkin dunia. Karena, menurut saya, ini semua memang tidak masuk akal. Mengapa Tumblr? Mengapa bukan situs lain, yang notabene-nya lebih berbahaya untuk dimasuki konten-konten yang sifatnya pornografi? 

Apapun itu, saya tetap tidak setuju jika hal ini dilanjutkan. Memblokir sebuah situs tanpa ada alasan yang benar-benar masuk akal demi menyelamatkan sebuah nama bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Karena apa? Jika mereka memblokir sebuah situs karena alasan pornografi, seharusnya mereka juga memblokir situs-situs yang lebih besar. Google, misalnya? Atau, situs-situs lain. Facebook? Twitter? Pinterest? Semua akan merembet kemana-mana. Lalu, kenapa tidak jaringan internet saja yang diblokir? Agar tidak ada akses kemana pun, dan Indonesia menjadi negara terbodoh di dunia karena masyarakatnya buta teknologi!

Semua pasti akan ada sebab dan akibat. Oleh sebab itu, bukan teknologi yang diblokir, tapi pola pikir masyarakat yang harus diubah serta diberikan edukasi mengenai penggunaan teknologi yang benar dan tepat guna. Sebuah awal yang besar selalu dimulai dari hal yang kecil, yang mendasari seseorang melakukan segala sesuatunya. 

Depression

Bagaimana terjadinya sebuah depresi, tentunya setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Aku tak pernah berpikir (dan seharusnya aku menyadari) bahwa separuh perjalanan hidupku hanya dipenuhi dengan hal-hal yang membuatku merasakan depresi, hanya saja frekuensinya tidak terlalu mengkhawatirkan. 

Aku..., terus terang saja aku bosan dengan ini semua. Rasanya aku sudah cukup mengalah dengan apapun yang disodorkan padaku, dan aku menerimanya dengan lapang dada. Kau tahu? Tak ada seorang pun yang bisa mempelajari apa arti kata 'ikhlas' dengan tingkat pemahaman yang benar-benar tepat. Pun, juga diriku. Aku masih dalam tahap belajar menerima semua ini dengan ikhlas. Aku berusaha memahami apa yang menjadi kewajibanku saat ini dengan sungguh-sungguh. Tapi, mengapa masih saja ada yang tidak suka dengan apa yang telah aku lakukan (yang berusaha aku lakukan dengan sebaik mungkin) dan mencela segala apa yang telah berusaha aku lakukan dengan (kupikir) nyaris tanpa cela? Apa aku melakukan kesalahan? Kupikir, kesalahan yang aku lakukan masih terbilang paling sedikit jika dibandingkan dengan kesalahan orang-orang lain di dalam satu garis yang sama denganku. But, (still) why me?! Rasanya kata pepatah 'bicara memang mudah' itu benar adanya. Kau hanya bisa bicara tanpa pernah merasakan bagaimana susahnya menjadi 'aku'.  

Tidakkah mereka memahami tentang apa yang disebut sebagai karakteristik manusia? Ini karakterku!--yang jelas berbeda dengan karakter orang lain--dan, aku akan tetap menjadi diriku sendiri! Tak ada siapapun atau apapun yang bisa mengubahku menjadi seperti orang lain. Kau tak bisa menyamakan karaketristik satu orang dengan orang lainnya dan lantas menjadikannya perbandingan. Untuk apa Tuhan menciptakan manusia dengan bermacam-macam karakteristik yang berbeda-beda? Ya, agar manusia itu menjadi majemuk dan berkarakter--dengan banyak perbedaan yang ada diantaranya!

Aku adalah aku! Dan, tak akan ada seorang pun yang bisa mengubahku, apalagi mempengaruhiku untuk bisa menjadi seperti orang lain. Aku takkan mengubah apapun, karena memang tak ada yang perlu diubah. Kalau orang lain saja bisa melakukan apa yang mereka mau tanpa ada cercaan, maka aku pun juga bisa. Karena, aku dan mereka sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama. Toh, gaji yang aku dapatkan tak lebih besar dari mereka. So? Untuk apa aku harus bersusah payah memperbaiki diriku? Untuk apa juga aku harus merasakan depresi (yang kesekian kalinya) demi sesuatu yang tidak ada apa-apanya dan tidak sebanding? Aku cuma ingin menjadi diriku sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang aku miliki--itu saja!

Sempurna

Tak akan habis sebuah menit dan detik ketika seseorang membicarakan tentang sebuah kesempurnaan yang tiada pernah didapatkan satu alat ukur yang pasti. Manusia--meski dengan kelebihan apapun yang mungkin dimiliki--takkan pernah bisa melakukannya dengan benar-benar akurat. Karena memang sebuah kesempurnaan itu sendiri yang sifatnya universal. 

Begitu banyak versi yang mengatakan tentang sebuah kesempurnaan, yang selalu berbeda-beda jika kita menanyakannya kepada beberapa orang. Apa sih yang menyebabkan seseorang dikatakan sempurna? Jika cantik atau ganteng? Jika pandai? Jika mampu meraih gelar tertinggi hanya dalam hitungan menit? Jika, jika, dan jika. Dan, selalu 'jika' tanpa pernah ada yang 'pasti'.

Kategori sempurna yang diinginkan manusia selalu akan berbeda, karena manusia itu sendiri adalah makhluk yang majemuk--bervariasi dan memiliki perbedaan tertentu. Mungkin kesempurnaan pada akhirnya akan berusaha disejajarkan dengan keberuntungan atau 'faktor X' yang membuat seseorang itu menjadi sempurna dan diselimuti oleh ribuan malaikat pembawa keberuntungan.

Tidak.
Kesempurnaan akan sangat berbeda dengan keberuntungan--jika tahu perbedaannya dimana. Kesempurnaan yang sedikitnya dimiliki oleh manusia biasanya sifatnya tetap atau permanen yang diberikan oleh Tuhan sejak manusia itu lahir. Sedangkan keberuntungan adalah salah satu faktor X yang sifatnya tidak tetap. Manusia akan mendapatkan keberuntungannya jika telah tiba saatnya. Dan, mungkin saja keberuntungan itu tidak akan selalu mendatangi manusia yang sama berkali-kali berturut-turut. Lebih mirip sebuah kesempatan, namun juga tidak bisa dikatakan kesempurnaan adalah sama dengan kesempatan yang langka. Never! Mereka sama sekali berbeda. Sebuah perbedaan yang saling melengkapi satu sama lain.

Kesempurnaan yang mutlak adalah hanya milik Tuhan semesta alam. Dan, tak ada satu pun manusia yang benar-benar sempurna menyerupai Tuhan. Itu salah besar! Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan berbagai kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk hidup yang lain a.k.a tumbuh-tumbuhan dan hewan. Karenanya, manusia tidak pantas menyombongkan dirinya sendiri. Apa yang mau disombongkan? Hidup saja manusia hanya meminjam Bumi sebagai tempat mereka berpijak, dan udara yang mereka pinjam dari Tuhan sebagai zat gas yang mereka butuhkan untuk hidup. Jadi, apa yang patut disombongkan dari sebuah kesempurnaan maya? Nothing

Garden's Party

Kolam buatan yang letaknya di
halaman depan Hotel. Satu-satunya
akses menuju area hidangan.  
Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan Garden's Party (Pesta Kebun), dan mungkin bahkan tidak pernah sama sekali. Aku tidak seberapa mengingat kapan terakhir kali aku berada dalam sebuah acara pesta kebun. Tapi, yang jelas, bagaimana pun meriahnya pesta yang diadakan jika dilakukan secara outdoor, hasilnya akan selalu lebih baik. 

Semalam pun aku memenuhi undangan pesta kebun yang diadakan oleh kantorku. Acara yang dilakukan setelah adzan Maghrib dengan tema 'Berbuka Bersama' itu bertempat di sebuah Hotel Berbintang Lima Hyatt Bumi Surabaya

Dari luar, Hyatt Hotel ini terkesan klasik dan mewah. Tampak bahwa hotel ini mencoba untuk memperlihatkan 'jati diri'-nya bahwa ia sungguh cocok dijadikan lokasi pengadaan pesta-pesta kecil hingga (mungkin) pelaksanaan pre-wedding bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.
Together with them

Benar saja, ketika memasuki halaman depan yang akan menuju ke area hidangan--dengan mengusung tema 'Kebun' ini--para pengunjung disambut dengan beraneka ragam kolam-kolam buatan yang sungguh indah di kanan kiri jalan yang merupakan satu-satunya akses menuju ke area hidangan. Bukan hanya mewah, bagiku (yang jarang memasuki area perhotelan), pemandangan yang menyejukkan mata seperti ini sangat mengesankan sekali. Ya mungkin memang Hotel ini sendiri memang berslogan 'City Resort' sih. Sehingga, tidak mengherankan apabila keseluruhan yang tersaji disana, baik interior maupun pengelolaan yang ada, dibuat senyaman mungkin. Jika diperhatikan, seluruh ruangan di dalam area Hotel ini didesain layaknya rumah pribadi dengan latar belakang taman dan pepohonan, seolah Hotel ini semakin menunjukkan bahwa inilah satu-satunya tempat yang paling pas untuk dijadikan tempat beristirahat yang nyaman. 
Suasana temaram yang menyejukkan

Aku sendiri pun merasakannya walaupun tidak menginap disana. Namun, aku bisa menebak dengan hanya melihat apa yang nampak dari luar dan sebagian besar bagian-bagiannya. Sungguh pesta yang mengesankan dan nuansa teamaram yang indah yang pernah aku datangi. Bagi sebagian besar orang mungkin itu seperti pesta-pesta pada umumnya, tapi tidak bagiku. Tak ada yang bisa mengambil senyumku ketika aku berada dalam kebersamaan itu. Sesuatu yang bukan hanya karena pesona hidangan yang tersaji, tetapi lebih kepada kebersamaan itu sendiri. Kebersamaan yang mungkin tidak pernah kudapatkan di manapun, dimana aku bisa tersenyum dan tertawa lepas, seperti tak ada beban yang menggelantung di bahuku, meski aku tahu tak seorang pun di dunia ini yang terbebas dari masalah--kecuali jika seseorang itu mati. 
Together in 'Ship'

Momentum seperti yang tergambar dalam foto-foto ini mungkin takkan terjadi di setiap harinya. Kami semua selalu disibukkan dengan pekerjaan dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Bahkan, seolah-olah antara satu orang dengan orang lainnya tidak saling mengenal (kesannya seperti itu). Sehingga, ketika ada momentum langka seperti ini, semua orang tampak seperti 'gila' berfoto. Aku seakan ingin tertawa, tapi yah memang seperti itulah yang terjadi. Satu kebersamaan dalam satu 'kapal', yang takkan mungkin bisa dibeli dengan uang. 

Jalan Pikiran Pria dan Wanita

Apa sebenarnya yang menjadikan pria dan wanita itu berbeda? Toh, mereka sama-sama manusia makhluk ciptaan Tuhan, kan? Dari segi fisik mungkin adalah aspek yang paling menonjol, karena memang fisik pria lebih kuat dibandingkan wanita, itu jelas. 

Tapi, sebenarnya ada banyak hal yang membuat perbedaan itu semakin nyata terlihat. Saat pria dan wanita terlibat sebuah hubungan spesial, maka perbedaan itu mulai terlihat sedikit demi sedikit dan semakin menonjol saat ada perselisihan diantara keduanya. Dan, jika sudah demikian, apa yang kemudian dikeluhkan di wanita? 
"Cowok itu rumit! Kenapa sih mereka nggak bisa ngertiin kita dikit aja?!"
Mungkin bukan hanya itu saja yang dikeluhkan si wanita. Berbagai macam pertanyaan perihal perilaku pria yang terlihat 'aneh' sudah pasti berkecamuk di benak mereka, yang rata-rata menghujat bahwa sikap pria begitu menjengkelkan dan terkesan acuh. Padahal, memang itulah sifat dasar pria--acuh, namun sebenarnya mereka peduli. Seperti itulah sikap kepedulian yang bisa mereka tunjukkan pada pasangannya.

Susahnya menjadi seorang wanita yang memiliki pasangan dengan tipe pria seperti ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi mereka. Bagaimana si wanita ini harus mempelajari tiap seluk-beluk sifat pasangannya luar dan dalam, agar dapat memahami apa arti 'diam' si pria yang sesungguhnya. Apakah pasangannya itu sedang marah, sakit, galau tingkat tinggi, ataukah ia sedang dirundung masalah, atau bahkan mungkin hanya sedang tidak mood berbicara--bisa jadi seperti itu. Dari sinilah, apa yang dinamakan kesabaran dan pengertian si wanita ini diuji.

Secara keseluruhan, menurutku, jalan pikiran pria itu sederhana namun membingungkan dan penuh misteri. Tak ada yang benar-benar memahami mereka--walau orang terkasih sekali pun--kecuali diri mereka sendiri. Orang lain hanya bisa menebak, meraba, dan menerawang apa yang mereka inginkan melalui gerak-gerik, bahasa tubuh, dan perilaku mereka. Pun, mempelajari hal semacam ini tidak membutuhkan waktu lama atau sekolah kepribadian atau yang semacamnya (nggak usah lebay istilahnya, haha), hanya membutuhkan pemahaman secara emosional, fisik, dan psikologis. Yakin bahwa pria juga manusia biasa yang memiliki rasa jenuh. Maka, jika mereka mulai menunjukkan gejala-gejala yang 'tidak biasa', biarkan saja dulu sementara waktu sampai mereka bisa menguasai dirinya sendiri, barulah kita ajak mereka bicara. Pendekatan yang sempurna akan bisa memancing mereka untuk bercerita tentang apa yang mereka pikirkan.

Pria bukanlah makhluk yang aneh dan tidak bisa diajak bicara. Karakteristik mereka sungguh sederhana dan tidak berbelit-belit. Contoh kecil saja, memotong rambut di salon. Apa yang dilakukan pria dan apa yang dilakukan wanita ketika mereka akan memotong rambutnya di salon?

Pria : "Mbak, potong rambut model biasa."

Wanita : "Mbak, potong rambut yaa. Modelnya kayak rambutnya Taylor Swift gitu bisa nggak? Tapi, poninya jangan nutupin mata ya Mbak, poni caping juga. Truz lagi, jangan pendek-pendek, Mbak, bikin nggak pe-de."

See?

Satu contoh kecil yang terkadang kita melupakannya, bahwa memang tidak bisa disamakan sebuah jalan pikiran pria dan wanita. Namun, tanpa disadari, perbedaan-perbedaan semacam itulah yang akhirnya bisa saling melengkapi. Dua insan yang menjalin kasih, tujuannya adalah menikah. Maka, dengan menikah itulah yang nantinya akan menyatukan segala perbedaan yang ada.  

Why are you My Remedy?

Tak ada satu kisah cinta yang terlarang. Dikatakan terlarang karena cinta itu bukan pada 'tempatnya', atau mungkin cinta itu sendiri yang memang 'tidak diperkenankan' terjalin. Bukan karena sesuatu yang berasal dari cinta, melainkan manusia lah yang membuat cinta seolah kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Sebenarnya aku sendiri pun tidak seberapa memahami tentang cinta yang terlarang. Apa yang dimaksud dengan cinta terlarang? Entahlah. Yang kutahu hanyalah, bahwa kita tidak diijinkan untuk menjalin cinta dan kasih dengan seseorang karena sesuatu hal. Dan, sesuatu hal itu bisa bermakna majemuk, yang terkadang susah untuk diterima oleh akal sehat.

Terkadang juga aku menganggap bahwa cinta terlarang itu adalah sebuah tragedi cinta. Atau, mungkin juga tidak se-mainstream itu, namun jika diamati dalam sebuah kehidupan nyata, cinta terlarang bahkan mungkin lebih mengerikan daripada sekedar tragedi.

Jika diperhatikan dari sisi kemanusiaan dan banyaknya berita di layar kaca, cinta terlarang bisa menimbulkan berbagai macam konflik dan intrik, hingga yang terparah adalah terjadinya pembunuhan. Hmm, mungkin yang seperti ini yang harus dihindari. Kalau menurutku, apa untungnya?

If our love is tragedy, 
why are you my remedy...?
If our love's insanity,
why are you my clarity...?
("Clarity" - by Zedd feat. Foxes)

Seperti itu mungkin gambaran akan sebuah cinta terlarang. Tak perlu sebuah pembuktian atau pembenaran apapun. Tak perlu sebuah penjelasan apapun, dan tidak perlu sebuah perbaikan. Yang jelas cinta tetaplah sebuah cinta. Juga, cinta tak membutuhkan sebuah klarifikasi apapun. Cukup adanya pengertian yang didasari oleh akal sehat. 

Waktu yang Terhenti

Siapa yang suka bertambah usia? No One! Tak ada seorang pun di dunai ini yang ingin bertambah usia, dalam artian, frekuensi alur hidupnya di bumi semakin berkurang. Bahkan, jika manusia diberikan pilihan, mereka pasti akan memilih hidup abadi layaknya vampir

Iyaa, vampir. Ingat kan kisah cinta Edward Cullen dan Bella Swan dalam novel fenomenal Stephenie Meyer? Woww!! Itu adalah salah satu kisah cinta favoritku, dimana kisah cinta yang abadi dan hidup yang juga abadi sang vampir. Sayangnya, hidup seperti itu hanya ada dalam dunia khayalan dan mimpi, yang takkan pernah ada di dunia nyata manapun.

Bahagia? Mungkin. Tapi, aku tak pernah menganggap bahwa tradisi ulang tahun adalah sebuah tradisi yang 'harus' dirayakan. Aku sayang semua orang. Aku peduli pada siapa pun. Aku tidak pernah membeda-bedakan status. Dan, aku tak pernah meminta apapun pada mereka demi kepentinganku sendiri. Lalu, apa keistimewaan dari sebuah tanggal lahir? Aku hanya ingin membagikan sebuah kebaikan--itu saja--selain aku meminta doa dari mereka semua. Doa yang kuharapkan baik demi kehidupanku di masa yang akan datang. Aku memahami bahwasanya semakin banyak doa yang kita panjatkan takkan berhasil tanpa adanya doa dan dukungan, terutama dari orang yang paling dekat dengan kita.

Lalu, apa pula keistimewaan dari sebuah hari jadi tanpa seorang pun yang mendampingi kita untuk merayakannya? Aku toh malah ingin waktu ini terhenti, agar usiaku juga berhenti. Atau, aku ingin hidup di negeri dongeng, dimana takkan ada yang menyentuh kita, sekali pun sang waktu yang dengan begitu kejamnya merenggut usia kita di alam nyata.

Waktu....
Aku ingin kau terhenti
Aku ingin sekali kau berpihak padaku
Tak bisakah aku memilikimu meski hanya beberapa detik saja?
Aku lelah..... 
Bergeraknya kau ke depan, sama dengan berkurangnya jatah hidupku di dunia
Berkenankah kau memberiku pilihan? 

Monday Gown

Bukan sebuah hal yang mustahil jika aku uring-uringan setiap tiba hari Senin. Haha, mungkin efek istilah 'I hate Monday' masih melekat pada diriku yaa. Padahal itu kan istilah bagi anak-anak sekolahan atau kuliah dimana mata kuliah untuk hari itu (biasanya) sedang padat-padatnya. Tapi, bagiku istilah 'I hate Monday' masih juga berlaku karena (memang) pekerjaanku begitu banyak dan bejibun, ditambah pula dengan suasana hatiku yang sedang tidak menentu. 

Mungkin karena kelelahan atau apa, tiba-tiba saja mataku begitu berat dan rasanya bagai ditarik ke bawah oleh tangan-tangan setan, sehingga hawa mengantuk menyerangku bertubi-tubi. Tapi, aku berusaha mengatasinya dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah mencuci muka. Mendengarkan musik juga bisa menjadi 'obat mujarab' untuk mengusir kantuk yang amat sangat. 

Meski tak banyak membantu namun setidaknya lumayan mengurangi rasa kantukku. Dan, pada akhirnya, aku bisa survive dengan senyuman. Sebuah 'kulit' di hari Senin yang melelahkan? Sebuah 'gaun' di hari Senin yang membosankan? Atau, sebuah 'kemasan' di hari Senin yang sungguh enggan untuk dilalui? Entahlah, mungkin bukan dikatakan sebagai senyuman, atau kulit, atau gaun, atau kemasan, atau apalah namanya. Menurutku lebih kepada rasa simpatik. Setelah sehari penuh dilalui dengan sungguh padat, alangkah baiknya jika semua itu dihapus dengan senyuman demi menyambut esok pagi yang lebih baik. Semua orang tahu bahwa sebuah kesan klasik demi masa depan itu penting adanya. Ibarat, tak ada asap takkan ada api, tak ada telur takkan ada ayam. Sehingga, apa yang akan kita lalui esok tak pelak ada hubungan erat dengan apa yang kita lakukan hari ini. Berbaik-baiklah mengukir harimu dengan apa yang membuatmu semangat untuk menjalankan esok hari. 

Alexa Rank

Aahh rasanya sudah lama sekali yaa aku tidak memedulikan alexa-alexa-an, sejak aku jarang 'memberi makan' blog-ku ini (padahal aku beli domainnya nggak murah, haha, malah curhat!). Eh tapi serius, aku memang tidak seberapa memedulikan rank seperti yang dikejar oleh para blogger lainnya. No! Aku tidak peduli dengan itu semua. Kalau mendapat rank ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Kecuali, kalau aku membuat blog ini bertujuan untuk kukomersilkan, tapi ini tidak. Aku....hmm, rasanya aku pernah membahasnya di tulisan terdahuluku kalau aku sebenarnya bercita-cita jadi penulis? Haha, yaahh penulis yang tidak tersampaikan niatnya. Jadilah, aku mengelola blog ini, hanya karena aku ingin mengasah kemampuan menulisku saja, tidak lebih.

Belakangan kalau aku perhatikan situs alexa rank sudah tidak seperti dulu lagi. Terakhir kali aku membuka situsnya malah harus bayar kalau kita ingin mendaftarkan blog kita. Padahal, dulu setahuku tidak begitu. Ya okelah, situs Alexa memang bergengsi yaa di kalangan para blogger yang mengejar rank. Tapi kalau harus bayar, rasanya tidak mungkin yaa. Tahu sendiri kan bagaimana karakteristik orang Indonesia?

Tapi, memiliki rank untuk blog bisa dikatakan penting tidak penting yaa, tergantung untuk tujuan apa dulu blog tersebut dibuat. Jika tujuannya untuk dikomersilkan demi mendapatkan pundi-pundi rupiah bahkan dollar yaa memiliki rank itu menjadi wajib hukumnya. Sebaliknya, jika hanya untuk tempat curhat dan berbagi kisah klasik demi masa depan (haha), rasanya mengejar rank itu tidaklah penting.

Sehingga, sebuah pencapaian itu dikatakan penting apabila apa yang kita tonjolkan memiliki porsi-porsi tertentu yang memang bisa dijadikan sebagai bahan penilaian. Dan, tidak semua aspek bisa dijadikan bahan penilaian bergantung dari seberapa penting aspek tersebut bermanfaat bagi khalayak. 

Bangun dari Tidur Panjang

Akibat dari galau yang berkepanjangan, aku sempat memutuskan hiatus dari dunia per-blogging-an dan sama sekali tak ingin menulis apapun. Otakku seakan mati rasa dan entah apa yang merasukiku, lantas aku membuat segalanya menjadi kacau dan nyaris untuk menutup blog kecil ini. Namun, nyatanya aku tak sampai hati melakukannya. Blog ini telah membawaku ke sebuah dunia yang mungkin aku sendiri takkan mengetahuinya jika aku tidak menulis. Menulis memang bukan satu-satunya yang terpenting, tapi tak dapat kupungkiri bahwa dengan menulis aku bisa menenangkan pikiranku barang sejenak. Melepas penat setelah aku lelah bekerja seharian. Dan, ingatanku masih segar ketika aku menemukan dia, sang belahan jiwa, beberapa tahun yang lalu disini--dengan tulisan ini. 

Mungkin, istilah 'bangun dari tidur panjang' adalah yang cocok untukku, daripada istilah 'hiatus' yang sudah terlalu mainstream. Dan, pada kenyataannya, aku masih ada disini bersama blog kecilku yang senantiasa menemani hari-hariku. 

Ini bukan lebay atau apa, karena ini hanyalah info bahwa blog ini sudah aktif kembali. ^^


Bilakah Waktu Kugenggam

Sekali lagi..., sekali lagi aku mencoba berdamai dengan waktu. Meski aku tak ingin, tapi aku tak punya pilihan lain. Ribuan kali aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku hanyalah manusia biasa yang tak memiliki kuasa apapun. Manusia hanyalah makhluk kecil, tak lebih besar dari seukuran semut di hadapan Tuhan.

Namun demikian, tak bolehkah jika aku memiliki mimpi, keinginan, dan harapan?--meski aku telah lelah bermimpi, lelah berharap, dan keinginan-keinginanku nyaris sirna ditelan kabut airmata. Dan, sekali lagi, aku hanyalah manusia biasa. Aku masih memiliki kesempatan untuk membangun kembali mimpi-mimpiku, dan meraih asa yang nyaris kulepaskan.

Meski dadaku sesak dan aku hampir-hampir tak bisa menahan bulir-bulir airmataku jatuh membasahi pipi, aku akan tetap menunggu. Tak pernah ada kata paksaan dalam arti menunggu. Cinta ini pun bukan paksaan. Semuanya murni dari lubuk hatiku yang terdalam. Dan, perasaan ini tak terhapuskan, hingga Tuhan mengambil senyumku, tangisku, resahku, hingga raga yang menghidupkan aku. Semuanya.

Bilakah waktu kugenggam, dan bilakah asa kuraih?
Bilakah waktu kugenggam, dan bilakah cinta kumiliki seutuhnya?

Aku tak pernah menghujat waktu. Aku hanya ingin menanyakan satu pertanyaan, "Mengapa waktu tak pernah bisa berdamai denganku?"

VIVA.co.id

Followers

Blog Visitors

Flag Counter